Rabu, Desember 29, 2010

Hujan Akhir Desember

Antara Malang dan Surabaya, Sore hari mendekati maghrib
“Seperti yang sudah-sudah, hujan selalu turun dari atas ke bawah,” kubilang seperti itu dan kau menatapku seolah ada yang baru dari ucapanku. Sesekali aku hisap rokok. Kita berdua, waktu itu sedang duduk menunggu hujan deras reda di depan satu toko yang sudah tutup entah di mana di antara Malang dan Surabaya. “Coba kau perhatikan,” kataku.
“Benarkah hujan memang turun dari langit? Kita sendiri tidak pernah berada di langit tapi sangat yakin hujan memang dari langit.”
Kau pun tersenyum, seyum termanis yang pernah kamu punya. “Hanya karena yang terlihat di atas langit, tak berarti di atas langit tak ada sungai atau sejenisnya yang sewaktu-waktu mengalirkan airnya ke bumi dan melewati langit yang jelas tampak di mata kita.” Kau diam dan memandang ke atas seolah ingin membuktikan benarkah ada sungai yang semacam itu di atas langit.

Tiga jam sebelumnya di Blitar
“Menurutmu apakah Soekarno akan senang kalau tahu aku bawa kamu ke sini tanpa izin dari orang tua kamu?” Kamu terus berdoa di depan makam itu, tapi aku tahu kau mendengar. “Atau mugkin Soekarno malah bertanya, jangan tanyakan apa yang sudah diberikan orangtuamu padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan pada orangtuamu.” Kau tertawa lepas, sangat lepas, tak pernah selepas itu, tapi matamu tidak, benakmu juga, mata dan benakmu tak pernah lepas. Rasanya terlalu berat apa yang kita hadapi, ah..tidak, hanya kamu yang menghadapinya.

Pagi hari, Subuh tepatnya.
“Jadi berangkat?” Kau mengangguk. “Sudah bilang ke mama?” kau menggeleng. “kalau nanti aku dituduh menculik?” Kau mulai memakai helm dan ransel lalu tersenyum, seolah mengatakan semua akan baik-baik saja. “Ya, mungkin. Semoga semua baik-baik saja,” kataku. Dan kita pun berangkat dengan motor jelekku.
***
Subuh di depan rumah.
Seperti yang sudah kita sepakati, kau pun datang dengan motor jelekmu, tapi aku suka. Ditambah helm yang tak kalah jelek menjadikan kombinasi jelek yag tak pernah mengurangi sukaku dengan kalian bertiga; kamu, motor dan helm jelekmu. Bagaimanapun juga dua benda rosokan itulah yang selalu setia mengantarmu menuju diriku. Aku bahkan tak tau apa yang bisa kulihat darimu kecuali ambigu. Kadang kau lucu, kadang kaku, tapi yang pasti kau peragu. Masih saja kau tanyakan kita jadi pergi atau tidak sedang kau sendiri sudah ada di depanku. Harusnya kau tak perlu datang jika ragu. Semudah itu harusnya kau tahu.

Aku tak tahu kenapa aku harus suka kepadamu. Jelas-jelas aku tahu kamu sendiri tak pernah menunjukkkan kamu cinta aku. Bukan apa-apa, penting buat perempuan tahu apakah seorang laki-laki benar-benar cinta padanya sebelum memutuskan menyerahkan waktu untuk belajar mencintai laki-laki itu. Itu sebabnya status penting buat mereka, bagiku juga mungkin, sebelum bertemu denganmu.

Siang hari di makam Ir. Soekarno.
Akhirnya kita sampai di makam. Aku begitu senang meski aku tak bisa menunjukkannya padamu. Entahlah, mungkin karena masih ada hal lain yang tidak bisa begitu dengan mudah dikesampingkan.

Ah..yang jelas aku sangat nyaman. Datang ke tempat ini pertama kali setelah beberapa kali selalu gagal meski sudah sampai di kota ini. Dari tadi aku perhatikan sejak pertama sampai hingga sekarang kau selalu bicara. Bahkan kau sendiri tahu aku sedang berdoa di depan makam. Seolah kita bertukar peran. Tiba-tiba kau banyak omong sampai-sampai kau buat aku tertawa di tengah doa.

Aku tahu, ini bukan pertama kalinya aku tertawa lepas. Aku rasa aku sering tertawa seperti ini, tapi biasanya itu aku lakukan untuk membuat kamu yang jarang mau tertawa bisa ikut tertawa juga. Sekarang justru kamu yang sepertinya sedang melakukan apa yang biasa aku lakukan. Ternyata kita tidak kompak sama sekali. Ah..aku rasa tidak, aku rasa kita justru sangat kompak. Buktinya kita kompak berganti peran.

Sesaat sebelum maghrib di Lawang.
Hujan tiba-tiba turun deras sekali seakan langit tak keburu lagi jika menunggu besok. Langsung saja kau pinggirkan motormu di satu toko yang sudah tutup. Sambil menunggu hujan reda, kau terus bicara. Aku dengar kau bertanya mungkinkah di atas langit sana ada semacam sungai. Aku hanya diam dan sesaat setelah itu kulihat langit mulai mengurangi tetesan airnya. Aku seolah bingung bukan karena mungkin ada sungai di atas langit seperti yang kau bilang, tapi mungkinkah besok masih sempat aku lihat hujan seperti ini lagi dengan kau di sampingku.

Surabaya, sesampainya di rumah.
Rasanya aku belum ingin turun dari motor jelekmu, tapi ternyata kau sudah memgang helm jelek yang tadi aku pakai dan aku pun sudah berdiri di depanmu sambil melihat kau senyum dan masih duduk di motormu. Aku sangat ingin menciummu dan saat itu juga aku bungkukkan sedikit punggungku. Gerimis masih sedikit turun dari sisa hujan sepanjang jalan tadi. Aku bisa merasakan bulir air yang menyela diantara bibirku dan bibirmu. Hmm..aku harus segera masuk rumah. Bukan, bukan karena jam 8 sudah terlalu malam, tapi besok pagi sekali aku sudah harus siap untuk acara lamaranku yang aku tak pernah tahu bagaimana harus mengatakannya padamu. Ah..harusnya aku bersyukur betapa bahagianya menjadi diriku. Aku bahkan tak perlu susah-susah memilih siapa yang akan jadi pendampingku karena mamaku dengan kasih sayangnya yang begitu luar biasa rela melakukannya untukku.
****
Pagi ini hujan turun lebat. Rasanya seperti kemarin sore di depan toko antara Malang dan Surabaya. Dari tadi malam sendiri aku belum tidur. Beberapa kali aku melihat handphone, berharap kau mengirim pesan untukku. Aku ingin mendahului menelphonmu tapi mungkin kau terlalu capek karena satu pesan pun tak sempat kau kirimkan. Atau mungkin semalam kau sibuk mengingat-ingat akhirnya kau bisa berkunjung ke makam panutanmu sehingga kau lupa sekedar menyapaku lewat sebuah pesan pendek. Ah..mungkin aku yang aneh. Bukankah selama ini kita jarang berkomunikasi lewat handphone. Kita lebih suka bertemu, meski kadang sekedar duduk lalu kau berbicara banyak sekali dan aku hanya diam mendengarkan sambil sesekali ikut tertawa. Tapi apa salahnya jika sekali saja kau kirim pesan meski aku memang jarang membalas pesanmu.

Akhirnya ada bunyi dari handphoneku. Mungkin itu kamu. Mungkin kau mau bilang maaf karena semalam tidak sempat mengirim pesan untukku. Atau kau mungkin mau bilang aku pasti sedang di balkon depan kamar kosku sama sepertimu yang sedang di balkon depan kamarmu melihat hujan yang turun deras seperti kemarin di antara Malang dan Surabaya. Ahh..rupanya bukan pesan darimu, tapi dari ica, sahabat karibmu di kuliah dulu yang sama sekali tidak akrab denganku. Tumben sekali pikirku. Dia bilang mohon doa dan semoga Tuhan menerimamu di sisiNya. Sekitar satu jam setelah pesan itu, sesaat setelah hujan tinggal menyisakan gerimis, beberapa kali handphoneku berbunyi. Mungkin sudah belasan pesan tapi kuabaikan karena kurasa bukan Tuhan yang sekarang di sisimu, tapi Aku. Ya, kamu tidak kemana-mana. Kamu sekarang di sampingku. Kita berdua sedang duduk di balkon di depan kamarku menikmati gerimis yang mungkin sebentar lagi akan berhenti menutup tahun ini.

Desember, 2010

A.S. Ibrohimi. Surabaya, Desember 2010

Selasa, Desember 28, 2010

Indekos - Sebuah Cerpen

Namaku diah, aku salah satu mahasiswi sebuah PTN bergengsi di Surabaya. Aku mahasiswi perantauan dari Bontang. dan seperti kebanyakan mahasiswi perantauan lainnya, aku memilih kos sebagai tempat tinggal selama menempuh studiku.

Seperti banyak kos di sekitar kampus, rata-rata kos-kosan di sini dihuni banyak mahasiswa, meskipun sebagian juga sudah bekerja. Mereka yang bekerja pun sebenarnya rata-rata adalah dulunya mahasiswa kampus dekat kos. Mungkin mereka sudah terlalu betah atau sebenarnya hanya ingin mempertahankan harga lama pembayaran kos dari sejak pertama mereka kuliah.
Kos-kosanku sendiri ada enam kamar, tiga kamar di atas dan tiga kamar di bawah. Tentu saja ada dua kamar mandi, kebetulan dua-duanya di bawah dan tepat di depan kamarku. Paling tidak aku bisa gampang kalau mau mandi. Tidak perlu naik turun tangga, karena aku punya pengalaman buruk dengan ketinggian.
Seperti yang sudah aku bilang tadi, kamarku tepat di depan kamar mandi. Dan itu berarti yang paling kiri di lantai bawah. Di samping kamarku, kamar tengah lantai bawah, dihuni seorang mahasiswa Science yang kalau diperhatikan dari pakaiannya adalah mahasiwa yang mengikuti kerohanian islam di kampus. Seringkali dia keluar pagi sekitar jam sembilan dan hampir selalu pulang ke kos jam satu pagi, mungkin karena sibuk dengan kegiatan organisasinya itu. Hampir selalu seperti itu. Kau mungkin bertanya bagaimana aku tahu. Sangat mudah karena aku paling tidak bisa tidur ada suara pintu dibuka atau ditutup karena aku pasti terbangun. Oh iya aku hampir lupa memberitahu. Semua pintu kecuali kamarku jika dibuka hampir pasti megeluarkan suara yang keras. Seperti yang kau sering dapati pada pintu yang sudah harus diganti engselnya. Ah..iya, aku juga belum memberitahukan nama mahasiswa di samping kamarku. Namanya khoir, entahlah nama lengkapnya, karena aku sendiri tidak pernah langsung berkenalan. Yang jelas satu kali aku pernah dengar dia ngobrol dengan Adi, penghuni kamar atas tepat di atas kamarku. Dia bilang waktu itu, ‘Aku Khoir mas, Khoir itu artinya baik. Mas sendiri siapa namanya?’ “Ara..”, “Ara??” “Iya, Ara..nama lengkapku sebenarnya Asmara, mungkin orang tuaku dulu tahu bahwa nantinya aku punya banyak kisah asmara haha.” “bisa aja mas.”

Iya bisa aja. Itulah Adi, setahuku dia memang bernama Adi bukan Asmara, tapi karena dia memang selalu “bisa aja”, dia selalu memperkenalkan dirinya dengan nama Asmara. Mungkin karena dia selalu berusaha menutupi siapa sebenarnya dia. Kau mungkin bingung bagaimana aku bisa tahu bahwa namanya Adi, bukan Asmara. Mudah saja, atau mungkin tepatnya tidak sengaja karena kartu kerjanya yang mirip kartu ATM itu jatuh bersama barang-barang yang lain dari tasnya ketika dia lewat depan kamarku untuk berangkat kerja pagi. Sepertinya dia bingung setelah kehilangan kartu tersebut karena sorenya pulang dari kerja dia seperti sedang mencari-cari kartunya yang bertulis cukup besar ADI KAOHENA dan dibawah tulisan tersebut tertulis lebih kecil SALESMAN. Dia sepertinya merasa kartunya jatuh di depan kamarku, tapi tak berani mengetuk pintu untuk bertanya. Yang aku tahu tentang Adi selain sebagai salesman dan selalu mengaku sebagai Asmara adalah selalu ramah pada semua penghuni kos kecuali padaku, mungkin itulah kenapa dia jadi sales. Dari semua penghuni, Adi paling ramah atau tepatnya berusaha akrab dengan mahasiswa samping kamarnya, mahasiswa sastra yang kamarnya tepat di atas kamar Khoir. Bukan apa-apa, ini mungkin jadi alasan kenapa Adi mengenalkan dirinya sebagai Asmara.

Mahasiswa inilah Asmara sebenarnya, bukan, nama aslinya bukan asmara, tapi Langit. Langit inilah yang benar mempunyai banyak kisah asmara seperti yang dicita-citakan Adi. Entahlah bisa disebut asmara atau tidak, yang jelas di kamarnya hampir tiap dinihari setengah jam atau satu jam setelah Khoir balik ke kos, akan selalu ada lenguhan-lenguhan berbeda di tiap malamya. Aku tak tahu apakah dia menyewa tapi sepertinya tidak karena menurutku dia bukan tipikal mahasiswa kaya. Meski kulitnya cukup bersih, tidak terlalu tampan tapi seperti biru langit, Langit dianugrahi raut muka yang sendu serupa biru jika diibaratkan warna. Seakan ada keresahan lama yang dia simpan sehingga perempuan seakan terpicu memburu cumbu. Bukankah perempuan memang suka dengan laki-laki yang pernah gagal karena dikhianati. Seakan ada keagungan dari keputusannya menjaga kesetiaan meski dia sebenarnya mampu mendapatkan wanita lain untuk dicumbu. Serupa pemain sepakbola yang menangis karena gagal di final piala dunia. Perempuan akan sangat mau menjadi penghibur dukanya. Ah.. mungkin aku tidak sepenuhnya benar juga, Langit bisa jadi sangat sederhana. Dia mungkin hanya sekedar ingin bertukar peluh tanpa peduli ada keagungan atau tidak dari raut sendunya. Sederhana sekali. Dia mungkin juga tak terlalu peduli bahwa Adi begitu menginginkan seperti dia di tiap dinihari atau bahwa Khoir sangat terganggu bunyi ranjang dan lenguh perempuan-perempuan yang ia tunggangi meski dibalik lenguhan terdengar sahutan Thom Yorke dengan Motion Picture Soundtrack yang sengaja dia putar namun liriknya juga tidak terlalu membantu mengurangi kebecian Khoir. Bisa jadi memang Langit cukup sesederhana ritual Motion Picture Soundtrack nya. Sekarang lagi-lagi kau mungin akan bertanya bagaimana aku tahu Khoir sangat membenci ritual Motion Picture Soundtrack sangat mengganggu Khoir. Aku tidak akan bilang mudah tapi mungkin sederhana saja. Waktu khoir sedang menunggu giliran mandi, kamar mandi yang biasa dia tempati baru saja selesai di pakai Agus. “Loh ir, belum tidur?” “Belum mas, kayaknya yang diatas kesurupan.” “Oalah..memang agak gila anak itu.”

Mungkin memang Agus tak segila Langit dalam hal menuggangi. Agus memang tidak pernah terpikir untuk menunggangi istrinya sambil memutar lagu yang ia anggap aneh seperti ocehan setan. Meski sebenarnya dia tahu hal yang lebih mengganggu adalah lenguhan-lenguhan yang berbeda tiap diniharinya tapi sama renyahnya dari kamar Langit. Bukan, bukan lenguhan-lenguhan itu menggangu karena tidak enak didengarkan sama seperti lagu yang diputar, tapi sangat mengganggu karena dia tahu istrinya yang kadang-kadang mengunjunginya tak pernah memberinya lenguh serenyah lenguhan-lenguhan dari kamar Langit. Aku tak tahu apakah istrinya malu melenguh karena melakukannya di kos-kosan, tapi sepertinya memang istrinya tak menunjukkan gairah sama sekali. Entahlah persisnya. Aku hanya menduga. Paling tidak Agus dan Khoir sama-sama terganggu meski dengan perasaan yang sama sekali berbeda. Agus yang berangkat kerja agak siang harus cepat-cepat kembali ke kos sebelum dinihari jika ingin menunggangi istrinya tanpa perasaan iri dan kehilangan moodnya. Maka sejauh ini memang semua penghuni kos seakan tertarik dalam gravitasi kamar Langit dengan ritual Motion Picture Soundtrack nya kecuali satu orang, Sulur.

Sulur, dulunya mahasiswa sama seperti Adi dan Agus. Sekarang dia sudah bekerja, sebagai penjaga toko buku yang cukup besar yang di tiap kota besar ada beberapa. Ya dia memang tidak menginginkan berhenti pada pekerjaanya sekarang. Tapi demi menunggu sampai ada pekerjaan yang dia inginkan, Apoteker, terdengar sama mungkin hanya beda yang dijaga. Meski menjadi penjaga toko buku sementara, dia tidak setengah hati mengerjakannya. Pagi dia sudah berada di tempat kerja membersihkan dan menata buku-buku baru atau buku lama yang harus dipindah dan sore sekitar jam enam dia sudah pulang sampai satu jam berikutnya dia sudah akan tidur. Dan hampir setiap hari seperti itu. Maka sangat wajar jika gravitasi Motion Picture Soundtrack Langit tak mampu mencapai Sulur dan kamarnya. Satu-satunya orang yang terhubung denga Sulur adalah Langit tapi tanpa ritualnya. Tentu saja ketika Langit meliburkan ritual dan menunggu Sulur bangun untuk memesan buku yang sulur tak pernah peduli kecuali uang yang dia dapat dari potongan buku, itupun jika Langit jadi memesan. Aku, aku sendiri sangat ingin memesan buku entah apa asal tidak berhubungan dengan ketinggian dan bisa dibaca dengan nalar yang pas-pasan ini tapi aku malu. Aku selalu malu untuk mencoba menyapa Sulur, mecoba basa-basi sedikit kemudian memesan buku apalah namanya tentunya.

Oh iya, aku sekarang tidak sendiri di kamar. Ada Agung, mahasiswa kedokteran, sepertinya akan benar-benar jadi dokter. Aku awalnya kaget bagaimana mungkin Ibu kosku megijinkan Agung sekamar denganku. Tapi satu hari aku tahu ternyata pintu kamarku juga butuh diganti engselnya. Yang aku ingat, Adi waktu itu mengetuk pintu setelah beberapa hari sebelumnya tak berani. “Eh bro, sorry ya ganggu, ada kartu kayak KTM ato ATM gak di sini pas kamu masuk kemarin?” “Oh..yang ini mas?” “Oh iya..ternyata beneran jatuh terus masuk kamar ini, thanks ya bro. Akhirnya ada yang nempatin kamar ini, katanya dulu yang nempatin cewek soalnya dulu kos-kosan cewek, anaknya jatuh dari atas kepleset habis jemur pakaian. Tapi santai saja selama ini gak ada apa-apa kok.. oh iya aku Ara” “Ara?” “Iya, Asmara, mungkin orang tuaku dulu tahu bahwa nantinya aku punya banyak kisah asmara haha.” “Bisa aja mas, Agung Sasmito, panggil saja Agung.”

Surabaya, 27 Desember 2010


Minggu, Desember 19, 2010

Akhir Musim - Sebuah Cerpen dari Sunlie Tentang Hujan

Hanya beberapa saat tadi, sebelum memutuskan untuk tidur tiba-tiba secara tidak sengaja saya menemukan cerpen 'Akhir Musim' oleh Sunlie Thomas Alexander yang saya agak kaget karena suasananya sedikit mirip dengan cerpen yang saya buat tapi belum pernah berani untuk saya publikasikan di blog kumuh saya (ya, mungkin lain kali). Ya tapi tentu saja cerpen saya masih bukan apa-apa dibanding cerpen seorang Sunlie. Berikut cerpennya, silahkan membaca jika berkenan. Satu hal lagi tentang hujan hhe.
-***-

Aku simpan janjimu dalam setiap pagiku, setiap malamku. Suatu saat nanti aku akan menagih dan kau tidak boleh kaget lantas bilang tidak.

SUNGGUH-SUNGGUHKAH aku berjanji? Atau hanya terlampau takut membuatmu kecewa? Gerimis akhir musim tiba-tiba membesar disertai deru angin yang menjadi liar serupa kelebat bayangmu dalam kepalaku. Aku urung beranjak dari teras warung tempat aku baru saja menghabiskan semangkok mie ayam sambil berbalas SMS denganmu. Kurapatkan jaketku sekadar mengurangi rasa dingin yang merasuki pori-pori. Tetapi, seolah ada yang lebih dingin lagi merayap dalam dadaku.

Suatu hari nanti aku akan mengunjungimu di kotamu. Sepuluh menit lalu balasan pesanku padamu itu muncul di layar ponselku sebagai huruf-huruf yang gemetar untuk menjawab pertanyaanmu kapan kita akan bertemu lagi setelah sekian lama. Larik-larik air yang jatuh dari atap warung membentuk semacam tirai di hadapanku, dan seorang gadis manis berlari menembusnya. Gadis itu merapat ke sisi kiriku dengan tubuh menggigil. Seluruh pakaiannya basah kuyup. Ada sisa parfum cukup tajam yang menguap dari tubuhnya yang sintal, dan lagi-lagi mengingatkanku padamu. Bukankah serupa benar dengan bau parfummu? Entahlah, segalanya seolah bersatu padu melekatkan bayangmu pada benakku. Segalanya: malam yang miris, hujan menderas, bau parfum, bahkan seekor nyamuk yang hinggap di pipi mulus gadis itu. Gerakannya menepis begitu mirip dengan gayamu mengusir nyamuk yang juga hinggap di pipimu ketika itu. Di pinggir Sungai Siak pada sore terakhir pertemuan kita setahun silam. Waktu itu juga hujan, dan kita berteduh di teras sebuah warung kopi di tepi sungai.

Kerinduan memang selalu datang begitu saja. Seperti hari ini, aku baru bangun dari tidur sore yang nyenyak ketika menemukan rintik-rintik gerimis di luar jendela. Dan seperti yang sering terjadi, tentunya aku segera teringat padamu. Aku merasa begitu kangen padamu, dan entahlah, tiba-tiba merasa ingin sekali makan mie ayam kesukaanmu. Aku pun buru-buru menyambar jaket dan berlari ke luar rumah, menerobos gerimis yang melebar, menuju warung di ujung jalan.

Ah, bukankah kamu begitu menyukai hujan? Kamu pernah membisikiku kalau kamu menganggap lelaki itu seperti hujan. Aku hanya tertawa waktu itu, walau tidak tahu apa dalihmu.

Aku merasa kamu seolah-olah ada di sisiku, dan kita berdua sedang termangu menatap hujan yang berkejaran di jalan. Bau parfummu yang khas lagi-lagi menyengat penciumanku. Aku menoleh ke samping. Gadis manis itu tampak gelisah, berkali-kali ia melirik jam tangannya. Apakah ia tengah menunggu seorang laki-laki yang berjanji padanya? Gadis itu tiba-tiba berpaling padaku. Mata kami bertemu. Ia tersenyum dan aku membalas dengan kikuk. Ia ternyata punya lesung pipit kiri-kanan sepertimu...

Mungkin seharusnya aku memang tidak berjanji. Tapi sambil makan, tanpa sadar aku meraih ponsel di kantong celana. Aku baru saja hendak mengetik pesan untukmu, ketika ponsel dalam genggamanku itu berdering nyaring. Dan aku terlonjak girang mendapati sebuah pesan darimu masuk: Apa kabar, Say? I miss U.

Hujan turun semakin deras. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Jalanan melengang. Aspal tampak berkilau di bawah siraman larik-larik hujan, memantulkan cahaya lelampuan toko-toko dan satu-dua mobil yang melintas mencipratkan air. Sejumlah orang mengeluh.

Ai, hujan tiba-tiba menjadi getir di mataku, suara curahannya terdengar seperti sebuah konser sedih.

***

TAK lama lagi aku menikah. Aku akan segera memasuki sebuah kehidupan yang lain, dan menemukan diri berada dalam sebuah kotak bersama orang lain, bukan dirimu. Barangkali kamu hanya akan menertawakan kecemasan yang tiba-tiba menyergapku, atau justru merasa bersedih untukku, pikirku menduga-duga sambil mulai mengetik sebuah pesan untukmu.

Tentu, aku hanya bisa menerka-nerka saja bagaimana perasaanmu bila hingga saat ini kamu belum juga membalas SMS terakhirku dua malam lalu. Adakah kamu marah lantaran cemburu, sebagaimana yang sering aku rasakan setiap kali kamu bercerita tentang seseorang itu, lelaki yang mengisi hidupmu dengan bunga-bunga dan membuahi rahimmu, atau tentang anak-anak buah rahimmu itu, yang begitu lucu dan manis. Mungkin kamu sengaja tidak membalas pesanku agar aku tahu kalau kamu marah. Tapi bisa jadi kamu cuma kehabisan pulsa. Ah...!

Hujan masih turun rintik-rintik di luar jendela kamarku. Apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Apakah kamu juga sedang termangu di depan jendela kamarmu dengan gorden yang bergerak-gerak dipermainkan angin, memandangi larik-larik hujan yang singgah di luar jendela itu sambil menggigit bibir? Kamu pernah mengatakan jika setiap kali hujan turun di kotamu, kamu selalu teringat padaku dan membayangkan aku ada di sampingmu. Karenanya, kamu selalu berlama-lama memandangi hujan tercurah dari langit. Terkadang kamu mengirimiku pesan: Apakah hujan juga sedang turun di kotamu? Dan sering kali aku berbohong kalau aku juga sedang menikmati hujan sepertimu, sekedar untuk menyenangkanmu (Atau mungkin menyenangkan hatiku sendiri? Entahlah). Aku merasa cemburu membayangkan kamu sedang dicumbui seseorang itu. Bukankah hujan adalah waktu yang teramat indah buat bercumbu?

Kau seperti hujan yang datang membasahi, membuat pepohonan dan rerumputan meruap segar di hatiku, dan ketika pergi meninggalkan aroma tanah yang gembur. Gerutumu suatu saat. Barangkali sejak itulah, aku mulai menyukai hujan dan betah menikmatinya berlama-lama. Sebab aku merasa menemukan dirimu... Ketika aku mengatakannya padamu, kamu terdengar begitu girang.

"Bagaimana kalau kita mendirikan Paguyuban Pecinta Hujan? Mungkin banyak orang yang juga mencintai hujan seperti kita dan mereka boleh bergabung," olokku suatu hari yang membuatmu tertawa nyaring di ponsel.

***

HUJAN akhir musim turun lagi membasahi ingatanku padamu. Ingin sekali aku meraih ponselku dan mengirimkan sebuah pesan untukmu sebagaimana biasanya. Sekadar mengabarkan bahwa hujan lagi turun di kotaku dan aku rindu sekali padamu. Atau mengirimkan kalimat "Selamat Berbahagia" untukmu? Ah, justru pikiran untuk mengucapkan "selamat" inilah yang selalu saja mengurungku niatku untuk menghubungimu. Sekiranya saja kau tahu, kalau kabarmu sungguh-sungguh membuatku sakit. Betapa aku tak sanggup harus membayangkan akan segera ada seseorang yang setia di sampingmu. Sedang aku mungkin akan tinggal bayang-bayang yang jauh, seperti langit sering tampak jauh pada musim kemarau, yang akan datang sebentar lagi. Apakah nanti kita akan tetap saling berkirim pesan dan sesekali saling menelepon? Tentunya secara diam-diam, seperti yang selama ini selalu kulakukan.

Apakah saat ini kamu sedang menatap hujan sepertiku? Kau pasti kian gelisah karena tak juga mendapatkan balasan SMS-ku. Aku tahu, kalau kini kau mulai menyukai hujan juga seperti aku.

Andaikan saja kau tahu, kalau sebenarnya aku menyukai hujan semenjak bertemu denganmu pada malam acara sastra yang basah itu dan betapa dulu aku pernah begitu membenci hujan. Selama bertahun-tahun, kenanganku tentang hujan adalah kenangan seorang gadis cilik yang malang. Seorang gadis cilik dengan air mata melekat basah di kaca jendela yang tertutup rapat, seakan air mata itu hendak menyatu dengan hujan yang tercurah deras di halaman. Gadis cilik berkepang dua dengan sepasang mata bulat bening yang penuh rasa iri dan dengki menatap ke luar jendela, di mana anak-anak lain sedang bertelanjang bulat melonjak-lonjak kegirangan di bawah siraman hujan.

Ia anak yang manis, anak semata wayang. Dan anak manis harus bermain di rumah. Jangan keluyuran dan sembarang bergaul, apalagi bermain hujan-hujanan dengan anak-anak kampung yang dekil itu. Hujan membawa bibit penyakit, dan kalau sampai si anak manis sakit bagaimana? Tukas Mama.

Maka temannya hanya boneka-boneka, buku-buku komik dan dongeng. Ada Tin-Tin, Superman, Godam, Gundala, juga Cinderella, Bawang Merah-Bawang Putih, Ande-Ande Lumut, White Snow dan Tujuh Kurcaci, Sleeping Beauty, Peter Pan, Alice di Wonderland. Sepupu-sepupunya yang cerewet kadang datang merobek buku-buku kesayangannya itu. Sepupu-sepupu tak tahu diri yang suka berteriak-teriak dan bercerita tentang hujan. Sejak itu ia semakin membenci hujan, juga riuh-rendah suara anak-anak bermain di halaman.

Hanya bersama buku-bukunya ia bisa berpetualang, menjelajahi dunia di luar rumah yang terlarang. Papa jarang pulang, tapi setiap pulang selalu membawakan oleh-oleh buku baru untuknya. Buku-buku itu disusun dengan rapi di rak mungil berwarna ungu di sudut kamarnya. Sampai suatu saat ia merasa bosan pada cerita-cerita yang begitu-begitu saja. Ia ingin cerita yang lebih seru, lebih fantatis dan tak selalu berakhir dengan kebahagiaan puteri yang baik hati, tenggelamnya kapal bajak laut, ditangkapnya anak-anak yang tak penurut oleh nenek sihir jahat, atau hukuman Tuhan buat saudara tiri yang culas.

Ia tak ingat kapan persisnya ia mulai menulis ceritanya sendiri. Tokoh-tokoh utamanya adalah anak-anak yang dengan gembira membakar rumah, pangeran tampan yang dibunuh nenek sihir malang, atau puteri culas yang menemukan kebahagiaan dengan ksatria idamannya.

Ketika seseorang itu, lelaki pilihan Mama, datang meminangnya pada sebuah musim hujan, ia hanya meminta satu syarat saja, yaitu ia boleh terus menulis cerita-ceritanya.

***

AKU tak ingin musim hujan berlalu. Aku takut kehilangan bayangmu. Kalau saja kamu tahu, betapa cemasnya aku. Kadang aku berharap hujan akan melupakan musimnya dan turun sepanjang waktu seperti rinduku padamu. Agar jejak percintaan kita tak meranggas oleh kemarau yang bakal tiba tak lama lagi.

Apakah musim hujan yang akan segera pergi juga akan membawa pergi pesan-pesan, membawa pergi debar dada yang begitu nikmat setiap kali ponsel berdering nyaring. Sehingga barangkali aku akan lupa pernah berjanji padamu.

Terlebih pada musim kemarau kali ini, aku harus menyiapkan sebuah pesta besar, menyebarkan undangan-undangan, memilih ranjang dan lemari baru, tentunya juga mencarikan gaun pengantin untuk seseorang yang akan bersanding denganku di pelaminan merah beludru. Ah, pastinya aku tidak akan mencari gaun pengantin berwarna ungu seperti pintanya, sebab gaun ungu hanya akan menyakitkanku lantaran mengingatkan pada foto pengantinmu dengan lelaki itu pada sebuah musim hujan.

Seharusnya aku memang tak berjanji padamu. Sebab mungkin aku tak akan pernah menepatinya.

Belinyu, Maret 2006


Read also here:

Hujan dan Lagu Hujan

Puisi tentang hujan di blog ini: 1, 2, 3, 4, 5


Senin, Desember 06, 2010

Hujan dan Lagu Hujan

Bulan desember kali ini rasanya hampir tiap sore selalu diiringi hujan. Hujan..yah selalu hujan. Banyak mungkin yang tidak suka hujan, tapi banyak juga yang sangat menikamati hujan, bahkan mungkin banyak yang kadang menikmati hujan hari ini tapi besok sangat membenci begitu juga sebaliknya. Suka, tidak suka atau biasa saja pada hujan mungkin karena berbagai macam alasan.

Seorang teman saya pernah sangat takut hujan. Dia selalu sakit besoknya setelah terguyur hujan. Yah mungkin teman saya juga pernah tidak sakit setelah terkena hujan. Hanya saja statistik sakit setelah hujan mendominasi. Teman saya yang lain bahkan pernah menyumpahi hujan, dengan jawa suroboyoan seperti ‘Jancok udan cok.’ atau ‘asuu..udan maneh’ atau kebritish-britishan..’fuck bloody rain’. Hmm..teman saya rasanya butuh pawang hujan.

Saya..saya sendiri sangat menikmati hujan, meski tak jarang saya juga menginginkan hujan tak turun. Saya menyukai hujan karena hujan selalu memberikan ketenangan pada bunyi airnya yang menitik di atap, di jalan, di selokan, di sembarang tempat di sekitaran. Ahh..betapa nikmatnya hujan. Bahkan saya tak perlu mengeluarkan uang untuk menikmatinya.

Hujan..ya hujan. Suka atau tidak selama kita masih berumur dan masih berada di Indonesia, kita akan masih mungkin menikamati hujan. Entah sekedar menunda urusan kita atau bahan sampai seringkali membuat banjir, hujan tetaplah hujan. Tidak ada urusan kau suka atau tak suka.

Hujan, seperti hal-hal lainnya, seringkali juga menjadi inspirasi atau sekedar pengaruh untuk siapa saja termasuk seniman, penyanyi mungkin. Berikut ada beberapa lagu dari ‘lemari’ saya yang sekedar mengutip kata hujan atau bahkan bercerita tentang hujan itu sendiri. Terimakasih untuk mereka semua untuk ‘hujan kreasi’ mereka yang seringkali memberi rintik atas deras kerinduan saya pada hujan di musim kemarau. Harusnya masih ada beberapa lagi tapi rasanya menurut saya deskripsi hujan dan hal di luar hujan itu sendiri sangat bagus diterjemahkan ERK, Frau, Mocca, Jamie Cullum, Kelly Sweet, KOC dan musikalisasi puisi Sapardi Joko Damono.

Download songs here:
Frau-mesin penenun hujan dari YesNoWave.com
Mocca-and rain will fall
Erk-desember
Erk-hujan jangan marah
Jamie Cullum-Singing in the rain
KOC-failure
Sapardi Joko Damono-Hujan bulan juni or here

Link Puisi tentang hujan di sangitaromalangit:
protes pada hujan
hujan dan solilokui
hujan
sajak untuk teman dan hujan
hujan mungkin marah

Minggu, Desember 05, 2010

Sore

Selamat sore semuanya. Selamat menikmati segelas teh di tangan anda sore ini. sore ketika saya menulis catatan ini sekarang. yah..harusnya sore ini saya sedang memegang dengan teguh secangkir teh saja cukup jika seember terlalu banyak, meneguknya perlahan sekali dan sangat khusyu', sayangnya justru kopi yang ada di meja. tapi tak apalah..tea turns to coffee.. what's the big deal.?

Sore, mungkin bukan hanya waktu untuk minum teh, tapi masih kerja mungkin, atau malah masih nganggur, bingung apa yang mau dikerjakan dan masih berfikir apa yang mau dikerjakan bahkan sejak pagi. ah..apalah sore berarti.

Satu sore saya mungkin sedang memulai sarapan, satu sore sedang menikmati teh atau mungkin tidur malahan itu tak merubah bahwa sore kemudian jadi pagi karena baru sarapan, atau iya memang sore karena ada secangkir teh, dan apalagi sore berubah jadi malam hanya karena saya ketiduran.

Sore..tetap sore, dengan langitnya yang memerah jika tak mendung atau hujan. Sore, tak peduli kau menikmati teh, kopi, atau tidurmu selalu tetap sore. Saya, sangat menikmati sore.

Satu dari sekian banyak sorehari di jalan dharmawangsa Surabaya
link puisi tentang sore di sangitaromalangit:
kopi dan sore




Jumat, November 26, 2010

Mimpi

Baru saja tadi sebelum menyelesaikan mandi dan terhenti di satu bilik warnet dekat rumah, tadi, hanya sesaat sebelum terbangun dari lelap tiba-tiba saja tubuh di bungkus mimpi dibawanya pada perjumpaan dengan alm. kakek.
Sudah begitu lama rasanya tidak mengingat kakek, lebih lama lagi untuk mimpi tentang kakek. bukan berarti keterlaluan bagaimana seorang cucu bisa begitu jarang mengingat kekeknya tapi inilah adanya.
Tapi untuk masalah mimpi. siapa yang bisa mengatur untuk memimpikan satu hal tertentu; kakek, orang tua, pacar, hutang atau hal lain. mungkin ini masih wajar, natural tepatnya.

Bicara tentang mimpi, mungkin benar apa yang disebut oleh Sigmund Freud, yang membagi pikiran manusia menjadi Id, Ego dan Super Ego.

Id; kira2 keinginan kita, Ego; keinginan nalar kita (inilah yang akhirnya memfilter keinginan kita yang sebenarnya dan terakhir Super Ego; Masyarakat/society (keinginan kita yang telah difilter oleh nalar lagi-lagi harus terima disortir oleh keinginan masyarakat.

Hubunganya dengan mimpi saya tentang kakek saya adalah, menurut Freud, bahwa ketika Id tidak mampu menembus Ego dan Super Ego sehingga tidak muncul pada realitas yang sebenarnya maka hal tersebut cenderung muncul pada realitas yang disediakan oleh mimpi karena di mimpi saya tidak perlu memfilter keinginan saya dengan ego dan tidak akan mencoba menyesuaikan dengen superego; masyarakat. justru disinilah realitas akan saya yang sebenarnya sedang menemukan dirinya tanpa perlu memenuhi keinginan ego dan super ego.

Bukankah hal ini justru menyimpulkan bahwa ada keinginan (saya) untuk bertemu dengan kakek, namun karena Ego saya merasa bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi belum lagi super ego; masyarakat pun akan menganggap aneh jika saya memaksa untuk bertemu dengan Alm. kakek saya maka jelas (menurut Freud) bahwa ada hal yang tidak terpenuhi dari diri saya (dengan bukti bahwa realitas menemukan dirinya pada mimpi saya) yaitu rasa rindu untuk bertemu kakek .

Ah..itu menurut Freud, mungkin benar atau justru saya yang salah memahami, tapi bisa jadi itulah adanya: bahwa saya begitu ingin bertemu dengan kakek. terserah Freud, saya? saya memang (mungkin) rindu bertemu kakek, meski hanya di mimpi. realitas yang bukan real menurut masyarakat, tapi sepertinya lebih real menurut saya. ya, mimpi.

Link:
Download Sigmund Freud 'The Interpretation of Dreams' (English version)

Saran:
Lebih baik membeli di toko buku terdekat

27-03-2010

Dostoevsky; Dari Mata Redup

Tiga hari yang lalu saya mebaca dan menyelesaikan buku yang tidak sengaja saya beli ketika menyempatkan diri ke perpus kampus B UNAIR (meski jelas saya sadar sengaja memberikan uang untuk ditukar dengan buku). kebetulan ada pameran buku dari beberapa penerbit. dengan alasan murah;20 ribu rupiah, cukup lama ingin membaca karya dostoevsky dan tertarik dengan bukunya sendiri pasti; “Dostoevky: Menggugat Manusia Modern” oleh: Henry S. Sabary.Kanisius, Yogyagarta 2008.

Awalnya saya masih enggan untuk membuka segelnya karena masih ada tugas-tugas kuliah (yang sebenarnya seringkali hanya jadi tugas tanpa menambah banyak hal bagi saya;pendapat pribadi), tapi karena iman saya lemah menghadapi godaan buku maka saya memilih berasik masuk (kata yang aneh dari dulu) daripada terepresi tugas-tugas yang sama sekali tak membebaskan.

mengutip Nietzche, “dari dostoevsky saya mendapatkan sesuatu dari seorang psikolog,” kiranya benar (bukan hanya masuk akal, tapi masuk mitos dan masuk yang lain yang gak masuk akal) bahwa Dostoevsky banyak memberikan banyak hal tentang ke-manusiaan terutama menjadi manusia yang sungguh manusia dan memanusiakan manusia lainnya, meski tersampaikan lewat karya sastra (novel-novel dan cerita-cerita pendeknya) bukan melalui bentuk filsafat yang terbungkus rapi menjadi buku-buku rumusan filsafat.

Satu yang jadi pertanyaan, benarkah ini renungan Dostoevsky atau bangunan atas sebuah pembongkaran saudara Henry belaka, tapi apa salahnya.

buku ini tipis namun cukup membikin kerut alis: “Ah..ingat tugas bikin meringis teriris.”

Link:
Saya sarankan membeli daripada berusaha mencari download gratisan (itupun kalau ada), karena sebenar-benarnya tidak akan menguras kantong anda.

26-03-2010

Jogja-Surabaya with Frau Singing 'Mesin Penenun Hujan'

This is what I call 'silent journey'. A journey that you have to pass with no intention (people may call it 'journey to hell' hha). well, make it simpler, I go to city where I used to dream to be there, Jogjakarta. I should be glad or at least feel pleased, but the fact that I love Jogjakarta doesn't please me at all for I had to go there without my own-plan. It is because I had to go there for completing the assignment from my lecturer which means it is not 'provided' with nuances I expected before. let me say WTF this time hha.

As it is called as 'journey to hell', what you feel is only being sucked. And again I said it was suck till I feel the difference of the journey when rain fell down touching road I passed by bus while my ears are blown with a really nice music inside. Yeah...the music was coming from a girl call her one person-band, Frau. Frau's music which is a blend of piano sound with poetic lyrics brought me into the world contained 'rain and silent road' which seems belong to me myself. At that moment, I called 'journey to hell' which drove you to 'heaven with its melancholia'. And for that journey, I should thank to Frau for her song 'Merakit Mesin Penenun Hujan'.

Download Frau 'Mesin Penenun Hujan'

Download Frau Starlit Caroussel (full album-yesnowave)

29-03-2010


c

c

Kamis, November 25, 2010

The Sleep Goes on..

Suatu hari di satu bulan yang entah sudah berganti atau belum (betapa bodohnya diri ini) ketika sedang tertidur pulas di kosan..tiba-tiba

Duar

D-u-a-r...!!!!

Entah bunyi apa yang jelas begitu keras sampai-sampai kuping mendenging...
Entahlah..mimpi atau bukan yang jelas kuping pun terasa sakit.
Yang paling jelas dalam momen itu adalah the sleep goes on..so does the life indeed..hhh..

07:52 pm nov, 25-2010

Sabtu, Agustus 28, 2010

Jarak

Beberapa hari ini saya disibukkan dengan hal-hal tentang 'jarak' yang terus-menerus mendominasi alam pikir saya. Hhhhhh...menjenuhkan dan melelahkan. sebelum ada pikiran aneh tentang 'jarak', lebih baik segera saya tulis bahwa tulisan ini sama sekali tidak berhubungan dengan 'jarak' nama sebuah lokalisasi yang mungkin orang-orang surabaya atau Jawa Timur pernah mendengar atau pernah menyambangi mungkin. 'Jarak' mungkin bisa dimaknai dengan kekosongan antara satu tempat ke tempat lain. Tapi mungkinkah kosong? atau kalau tidak benar-benar kosong lalu kosong dari apa? ya kosong dari salah satu tempat tersebut. Membosankan mungkin membicarakan hal yang sudah kita tahu maksudnya tapi berusaha untuk dijelaskan dengan cara lain yang justru malah membingungkan. Biarlah jarak tetap jarak dengan segala maknanya..hahaha (tidak lucu).

Seperti yang telah tertulis di awal, hal-hal yang berkaitan dengan 'jarak' mendominasi pikiran saya. Karena begitu lama tidak pulang kampung, rasanya saya bingung harus pulang atau tidak padahal saya sedang nyaman di Surabaya, nyaman dengan kesendirian, nyaman dengan segala hal yang nyaman dan tidak nyamannya Surabaya. Tapi lagi-lagi saya tetap tidak bisa begitu saja mengabaikan untuk pulang segera karena rasanya orang-orang di rumah ingin saya pulang, entahlah dengan alasan apa..sekedar menginginkan kehadiran saya mungkin. Serupa pakaian kotor yang sekedar ditumpuk tapi tetap hadir daripada bersih tapi hilang, mungkin seperti itu.

Hal-hal yang berkaitan degan 'jarak' lainnya adalah karena akhir-akhir ini saya memilih untuk sedikit (atau banyak, entahlah) berjarak dengan seseorang. Entah karena saya merasa tidak sepaham pada cara pandang hidup atau karena memang saya sedang benar-benar ingin sendiri. sendiri. sendiri. Dan mungkin kesendirian saya dianggap tidak manusiawi, terserah. Dan mungkinkah tidak manusiawi padaha jelas-jelas itu masih dilakukan oleh saya yang masuk kategori manusia haha.

Yang jelas hal-hal yang berkaitan dengan 'jarak' ini benar-benar memberi saya jarak, cukup sejenak, tidak selama ibu melahirkan anak. Jarak dan sejenak.

28 Agustus 2010, 01:39 am

Minggu, Agustus 22, 2010

Kasian Kamu

Beberapa hari yang lalu ketika sedang mengantri untuk membayar IKOMA di salah satu bank pemerintah, seorang teman tiba-tiba datang entah darimana (koreksi: ya dari pintu depan bank nya lah, maaf agak berlebihan) dan menyapa saya, "Ah..kemana saja kamu selama ini, yang rajin lah, aku lihat kamu tambah malas aja." Saya senyum, kemudian dia meneruskan, "Yang rajinlah ke kampus, aku kasian sama kamu nulis puisi-puisi." saya senyum cenderung ingin tertawa. Entahlah kenapa teman saya kasihan dengan saya mahasiswa sastra yang sudah agak jarang ke kampus dan skripsinya memperpanjang nafas di semester berikutnya karena menulis puisi.

Mungkin ada beberapa alasan:
  1. Karena dengan menulis puisi di blog, teman saya mungkin menganggap saya jadi malas ke kampus, padahal tidak.
  2. Karena saya memang pemalas, maka yang dikerjakan hanya puisi-puisi yang bukan jadi syarat kelulusan.
  3. Karena sebenar-benarnya (tidak dibenar-benarkan) puisi-puisi saya memang jelek, atau yang lebih parah tidak masuk kategori puisi jadi alangkah lebih baiknya dihentikan karena berpotensi merusak imej puisi sendiri.
  4. Karena puisi (maaf, tulisan yang bukan kategori puisi) saya jelek, teman saya ingin bilang kepada saya dengan halus alangkah baiknya jika saya menggunakan kemalasan saya untuk meneyelesaikan skripsi saya misalanya.
  5. Atau sebenarnya tidak ada maksud apapun dari ucapan teman saya.
  6. ....
Mungkin ada benarnya, saya harusnya menulis cerpen, atau tulisan lain selain cerpen karena kemungkinan yang saya anggap cerpen pun bukan cerpen...ahhh...sepertinya kebenaran dari tulisan ini dan ucapan teman saya dan yang sepenuhnya saya setujui adalah bahwa saya semakin malas yang tanpa disadari teman saya bahwa saya semakin rajin untuk tidak melakukan apa-apa (bagaimana mungkin juga tidak melakukan apa-apa..???).

22-08-10 02:53 am

Beberapa Waktu yang Lalu

Jam di pojokan desktop terpampang angka 02:10 am..sampai tulisan ini selesai mungkin angka tersebut tidak bisa jadi penunjuk secara valid tulisan ini dibuat, lebih-lebih seberapa penting tulisan ini kira-kira selain hanya untuk mengisi waktu yang dihabiskan di warnet dekat GD, "Gubuk Derita", kontrakan teman-teman dari bojonegoro (beberapa tepatnya) yang belajar di Surabaya.

Di dinding bilik warnet yang saya tempati terpampang tulisan kira-kira seperti ini:

WARNET
"sifa"
perjam 2500
paket 3 jam ke atas 2000/jam
webcam minta ke operator
simpan data bilang ke operator

Jual Minuman Dingin
club gelas Rp. 500
sprite Rp. 2000
fanta Rp. 2000
coca cola Rp. 2000
coffee cream Rp. 2500
jual rokok eceran

Dari semua daftar kenapa saya tidak menemukan apa yang saya cari sepagi ini...ahh..mungkin besok, atau besoknya lagi, atau kapan entahlah.

Karena waktu diatas tidak valid untuk menjelaskan kapan tulisan ini berhenti maka mungkin lebih baik ditambah lagi di bawah tulisan ini.

2:21 am

Jumat, Agustus 20, 2010

Selesaikan Kuliah Segera

Beberapa hari ini rasanya berjalan lebih cepat dan cepat tapi begitu lambat. Apa lagi ini???ggrrhhh...Semua berjalan cepat karena hanya terisi dengan tidur, minum kopi bersama teman-teman, nonton film, nonton tv, tidur lagi. Secepat kau pergi tidur dan bangun sudah kau dapati ompol menggenangi tubuhmu...hhh...bau pasti. Semua jadi lambat mungkin karena salah satunya termonopolinya pikiran oleh hal-hal yang berhubungan dengan kuliah yang belum selesai tapi begitu menjenuhkan, MENJENUHKAN, dan karena sangat menjenuhkan maka harus dengan efek slow motion seakan kau jatuh ke 'septic tank' tapi tidak jatuh-jatuh maka yang kau rasakan adalah bau sebau-baunya (kayaknya salah cara penulisannya, entahlah).

Tapi bukan Sangit kalo harus menyerah..argghhh...LAWAN KEJENUHAN, BERSIHKAN OMPOL dan SEGERA LONCAT DARI SEPTIC TANK SELAGI S-L-O-W M-O-T-I-O-N..."tapi semua ini tidak lebih atas tanggungjawab terhadap orang tua. bukan pada siapa-siapa apalagi diri sendiri, tak pernah, maaf."

Rabu, Agustus 04, 2010

Wahai Roh Penulis

Wahai roh penulis,
Kemana kiranya kau
Waris lengan lentikmu
Maka rela kupenggal
Milikku yang saru
Lalu kubebatpadaku.

Wahai roh penulis,
Mungkinkah hanya jeda
Atau memang sengaja
Kau lepas nyawa
Demi ambisi lama:
Menulis di alam baka.

Jumat, Juli 09, 2010

I meet anxiety

Gemetaran berjam-jam
..
....
.....
and still counting without any reason
.....
....
..
harusnya nyaman tanpa alasan,tapi
rasanya tidak untuk sekarang
...
.
!

Kamis, Juli 01, 2010

Negeriku dan Selaput Dara(h)

di negeriku orang-orang menyebut wanita dengan selaput dara(h), maka segalanya dikaitkan dengan selaput dara(h);
Mereka yang kehilangan selaput ketika menikah disebut berkah, yang kehilangan diluar nikah disebut pezinah, yang ditinggal suaminya menikah lagi atau meninggal disebut janda gerah. Dan yang menyebut disebut apa entahlah.

Senin, Mei 17, 2010

Nihil

Bagaimana aku menutup mata
Jika nyalapun sekedar aksara
tak pernah dirasa
Hanya sebentuk cerita
Tak nyata
Tak berwarna

Dan kiranya apa warna?
Mungkinkah kamu sedia bercanda
"Yang hitam gulita"
"Lalu putih cahaya"
Atau apa
Atau tiada

Aku tertawa
Kau mungkin juga
Atau, kita diam saja
Tanpa cerita
Tanpa canda
Hanya tiada

on a way back 170510-0453

Selasa, Mei 11, 2010

Di Jogja (Suatu Waktu)

:la etoille

Dan mungkin sore ini
tak akan pernah terulang
ataupun terjadi dengan
bentuk kenyamanan seperti ini,

Di Jogja.

Dengan tangan yang dulu
biasa di tanganku, masih
sama aku rasa, atau
sedikit berubah mungkin,
siapa yang peduli.

Sby, thu-may0610-04:03

Bisu

:Badut

Lalu harus kusebut apa
Jika kurasa gigil meguasai
Dan sarafku oleng, namun
Tubuhku tetap setia tegap

Hanya mungkin tak bisa
Sembunyi dari kaku ngilu
Seakan tubuh mulai lupa
Bahwa saraf ini berlaku

Kau mungkin tahu
Atau hanya aku
Atau seperti biasa
Kita tetap membisu

Sby, may06-0435am

Gigil

:Badut

Maka tetaplah sepert ini;
Kau ditempatmu,
Aku ditempatku
Dan gigil menyertai

Bukan kamu mungkin
Apalagi seorang sepertiku
Tapi gigil, atau
Sebut saja gemeretak

Yah, gemeretak yang
Tanpamu ditempatmu, atau
Nisbiku di tempatku
Malu menampakkan diri


Sby, may06-0425am

Jumat, Maret 26, 2010

Jalan

Aku lahir karena jalan
Tentulah dari rahim Ibuku
Juga peluh abahku, tapi
Pastilah juga bantuan jalan

Aku matipun karena jalan
Tak harus dilindas ban
Juga dibumbui keteledoran
Hanya, inilah peran jalan

Jika lahir dan matiku adalah tujuan
Dan jalan mengantarku padanya
Kemana aku menuju tanpa jalan

texts from unregisterred mind

Selasa, Maret 16, 2010

Absurd

Dan entah harus kusebut apa
Atau harus kupanggil siapa
Karena mungkin absurd belaka

Seperti barang itu
Mungkin pula dirimu
Yang kurasa abuabu

Tak hitam
Tak putih
Tak menyerupa

Serupa sajakku ini
Yang tak kuketahui
Pada apasiapa kubagi

awake after hibernated

Selasa, Februari 09, 2010

Senin, Januari 18, 2010

Saya Bukan Anggota Dewan

:untuk semua yang telah memfitnah saya

Saya tidak pernah berebut kursi atau sekedar memindah kursi.
saya telah jujur, jadi jangan seakan berusaha sekalian mengubur.
kita punya masalah yang harus diselesaikan, bapak-ibu sekalian, jadi jangan pernah merasa masalah berhenti sampai di sini jika kejujuran masih diplintir.

Ingat, saya seyakin-yakinnya lebih mempunyai makna atas hidup saya dibanding kalian meski lebih berumur.

Selasa, Januari 05, 2010

Another Errorrrghh....!!!

Dan ketika dengan begitu yakinnya diri menyebut sabtu pagi dengan minggu pagi, ternyata diri baru saja tersadar bahwa selalu tidak tidur di malam hari membuat diri bingung menghitung hari. dan untuk urusan menghitung hari, mungkin tetap jagonya Krisdayanti. Ya mungkin.

Senin setelah sabtu dan minggu kemarin

Minggu, Januari 03, 2010

Minggu Pagi

Minggu pagi, masih begitu pagi, masuk convenient store, menyeduh bajigur, keluar dan duduk di depan convenient store, menghadap barat, menyulut rokok, menunggu bajigur sedikit hangat, mendengarkan 'berlin' dari 'the trees and the wild', melihat langit, bulan masih terlihat, melihat sedikit ke bawah, sedikit pohon, cukup banyak kubangan air hujan di jalan, sesekali orang lari lewat, pengendara sepeda motor, 'berlin' berhenti diikuti 'noble savage', masih dari band yang sama, melihat langit lagi, bulan tertutup mendung, melihat sedikit ke bawah lagi, pohon tetap sedikit, bajigur sedikit hangat, beberapa kali seruput, sedikit jeda, seruput lagi, 'noble savage' berhenti, melewati beberapa lagu, 'riot on an empty street' dari K.O.C, bajigur di seruput sedikit lama, sedikit lagi habis, rokok habis, bangkit berdiri, semua masuk saku celana, jalan kaki, berputar-putar, berhenti di warnet...satu jam kemudian..kembali ke kontrakan, bersiap tidur, belum tidur sejak sore kemarin, minggu pagi pertama tahun ini.