Beberapa hari yang lalu ketika sedang mengantri untuk membayar IKOMA di salah satu bank pemerintah, seorang teman tiba-tiba datang entah darimana (koreksi: ya dari pintu depan bank nya lah, maaf agak berlebihan) dan menyapa saya, "Ah..kemana saja kamu selama ini, yang rajin lah, aku lihat kamu tambah malas aja." Saya senyum, kemudian dia meneruskan, "Yang rajinlah ke kampus, aku kasian sama kamu nulis puisi-puisi." saya senyum cenderung ingin tertawa. Entahlah kenapa teman saya kasihan dengan saya mahasiswa sastra yang sudah agak jarang ke kampus dan skripsinya memperpanjang nafas di semester berikutnya karena menulis puisi.
Mungkin ada beberapa alasan:
- Karena dengan menulis puisi di blog, teman saya mungkin menganggap saya jadi malas ke kampus, padahal tidak.
- Karena saya memang pemalas, maka yang dikerjakan hanya puisi-puisi yang bukan jadi syarat kelulusan.
- Karena sebenar-benarnya (tidak dibenar-benarkan) puisi-puisi saya memang jelek, atau yang lebih parah tidak masuk kategori puisi jadi alangkah lebih baiknya dihentikan karena berpotensi merusak imej puisi sendiri.
- Karena puisi (maaf, tulisan yang bukan kategori puisi) saya jelek, teman saya ingin bilang kepada saya dengan halus alangkah baiknya jika saya menggunakan kemalasan saya untuk meneyelesaikan skripsi saya misalanya.
- Atau sebenarnya tidak ada maksud apapun dari ucapan teman saya.
- ....
Mungkin ada benarnya, saya harusnya menulis cerpen, atau tulisan lain selain cerpen karena kemungkinan yang saya anggap cerpen pun bukan cerpen...ahhh...sepertinya kebenaran dari tulisan ini dan ucapan teman saya dan yang sepenuhnya saya setujui adalah bahwa saya semakin malas yang tanpa disadari teman saya bahwa saya semakin rajin untuk tidak melakukan apa-apa (bagaimana mungkin juga tidak melakukan apa-apa..???).
22-08-10 02:53 am
Tidak ada komentar:
Posting Komentar