Rabu, Desember 29, 2010

Hujan Akhir Desember

Antara Malang dan Surabaya, Sore hari mendekati maghrib
“Seperti yang sudah-sudah, hujan selalu turun dari atas ke bawah,” kubilang seperti itu dan kau menatapku seolah ada yang baru dari ucapanku. Sesekali aku hisap rokok. Kita berdua, waktu itu sedang duduk menunggu hujan deras reda di depan satu toko yang sudah tutup entah di mana di antara Malang dan Surabaya. “Coba kau perhatikan,” kataku.
“Benarkah hujan memang turun dari langit? Kita sendiri tidak pernah berada di langit tapi sangat yakin hujan memang dari langit.”
Kau pun tersenyum, seyum termanis yang pernah kamu punya. “Hanya karena yang terlihat di atas langit, tak berarti di atas langit tak ada sungai atau sejenisnya yang sewaktu-waktu mengalirkan airnya ke bumi dan melewati langit yang jelas tampak di mata kita.” Kau diam dan memandang ke atas seolah ingin membuktikan benarkah ada sungai yang semacam itu di atas langit.

Tiga jam sebelumnya di Blitar
“Menurutmu apakah Soekarno akan senang kalau tahu aku bawa kamu ke sini tanpa izin dari orang tua kamu?” Kamu terus berdoa di depan makam itu, tapi aku tahu kau mendengar. “Atau mugkin Soekarno malah bertanya, jangan tanyakan apa yang sudah diberikan orangtuamu padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan pada orangtuamu.” Kau tertawa lepas, sangat lepas, tak pernah selepas itu, tapi matamu tidak, benakmu juga, mata dan benakmu tak pernah lepas. Rasanya terlalu berat apa yang kita hadapi, ah..tidak, hanya kamu yang menghadapinya.

Pagi hari, Subuh tepatnya.
“Jadi berangkat?” Kau mengangguk. “Sudah bilang ke mama?” kau menggeleng. “kalau nanti aku dituduh menculik?” Kau mulai memakai helm dan ransel lalu tersenyum, seolah mengatakan semua akan baik-baik saja. “Ya, mungkin. Semoga semua baik-baik saja,” kataku. Dan kita pun berangkat dengan motor jelekku.
***
Subuh di depan rumah.
Seperti yang sudah kita sepakati, kau pun datang dengan motor jelekmu, tapi aku suka. Ditambah helm yang tak kalah jelek menjadikan kombinasi jelek yag tak pernah mengurangi sukaku dengan kalian bertiga; kamu, motor dan helm jelekmu. Bagaimanapun juga dua benda rosokan itulah yang selalu setia mengantarmu menuju diriku. Aku bahkan tak tau apa yang bisa kulihat darimu kecuali ambigu. Kadang kau lucu, kadang kaku, tapi yang pasti kau peragu. Masih saja kau tanyakan kita jadi pergi atau tidak sedang kau sendiri sudah ada di depanku. Harusnya kau tak perlu datang jika ragu. Semudah itu harusnya kau tahu.

Aku tak tahu kenapa aku harus suka kepadamu. Jelas-jelas aku tahu kamu sendiri tak pernah menunjukkkan kamu cinta aku. Bukan apa-apa, penting buat perempuan tahu apakah seorang laki-laki benar-benar cinta padanya sebelum memutuskan menyerahkan waktu untuk belajar mencintai laki-laki itu. Itu sebabnya status penting buat mereka, bagiku juga mungkin, sebelum bertemu denganmu.

Siang hari di makam Ir. Soekarno.
Akhirnya kita sampai di makam. Aku begitu senang meski aku tak bisa menunjukkannya padamu. Entahlah, mungkin karena masih ada hal lain yang tidak bisa begitu dengan mudah dikesampingkan.

Ah..yang jelas aku sangat nyaman. Datang ke tempat ini pertama kali setelah beberapa kali selalu gagal meski sudah sampai di kota ini. Dari tadi aku perhatikan sejak pertama sampai hingga sekarang kau selalu bicara. Bahkan kau sendiri tahu aku sedang berdoa di depan makam. Seolah kita bertukar peran. Tiba-tiba kau banyak omong sampai-sampai kau buat aku tertawa di tengah doa.

Aku tahu, ini bukan pertama kalinya aku tertawa lepas. Aku rasa aku sering tertawa seperti ini, tapi biasanya itu aku lakukan untuk membuat kamu yang jarang mau tertawa bisa ikut tertawa juga. Sekarang justru kamu yang sepertinya sedang melakukan apa yang biasa aku lakukan. Ternyata kita tidak kompak sama sekali. Ah..aku rasa tidak, aku rasa kita justru sangat kompak. Buktinya kita kompak berganti peran.

Sesaat sebelum maghrib di Lawang.
Hujan tiba-tiba turun deras sekali seakan langit tak keburu lagi jika menunggu besok. Langsung saja kau pinggirkan motormu di satu toko yang sudah tutup. Sambil menunggu hujan reda, kau terus bicara. Aku dengar kau bertanya mungkinkah di atas langit sana ada semacam sungai. Aku hanya diam dan sesaat setelah itu kulihat langit mulai mengurangi tetesan airnya. Aku seolah bingung bukan karena mungkin ada sungai di atas langit seperti yang kau bilang, tapi mungkinkah besok masih sempat aku lihat hujan seperti ini lagi dengan kau di sampingku.

Surabaya, sesampainya di rumah.
Rasanya aku belum ingin turun dari motor jelekmu, tapi ternyata kau sudah memgang helm jelek yang tadi aku pakai dan aku pun sudah berdiri di depanmu sambil melihat kau senyum dan masih duduk di motormu. Aku sangat ingin menciummu dan saat itu juga aku bungkukkan sedikit punggungku. Gerimis masih sedikit turun dari sisa hujan sepanjang jalan tadi. Aku bisa merasakan bulir air yang menyela diantara bibirku dan bibirmu. Hmm..aku harus segera masuk rumah. Bukan, bukan karena jam 8 sudah terlalu malam, tapi besok pagi sekali aku sudah harus siap untuk acara lamaranku yang aku tak pernah tahu bagaimana harus mengatakannya padamu. Ah..harusnya aku bersyukur betapa bahagianya menjadi diriku. Aku bahkan tak perlu susah-susah memilih siapa yang akan jadi pendampingku karena mamaku dengan kasih sayangnya yang begitu luar biasa rela melakukannya untukku.
****
Pagi ini hujan turun lebat. Rasanya seperti kemarin sore di depan toko antara Malang dan Surabaya. Dari tadi malam sendiri aku belum tidur. Beberapa kali aku melihat handphone, berharap kau mengirim pesan untukku. Aku ingin mendahului menelphonmu tapi mungkin kau terlalu capek karena satu pesan pun tak sempat kau kirimkan. Atau mungkin semalam kau sibuk mengingat-ingat akhirnya kau bisa berkunjung ke makam panutanmu sehingga kau lupa sekedar menyapaku lewat sebuah pesan pendek. Ah..mungkin aku yang aneh. Bukankah selama ini kita jarang berkomunikasi lewat handphone. Kita lebih suka bertemu, meski kadang sekedar duduk lalu kau berbicara banyak sekali dan aku hanya diam mendengarkan sambil sesekali ikut tertawa. Tapi apa salahnya jika sekali saja kau kirim pesan meski aku memang jarang membalas pesanmu.

Akhirnya ada bunyi dari handphoneku. Mungkin itu kamu. Mungkin kau mau bilang maaf karena semalam tidak sempat mengirim pesan untukku. Atau kau mungkin mau bilang aku pasti sedang di balkon depan kamar kosku sama sepertimu yang sedang di balkon depan kamarmu melihat hujan yang turun deras seperti kemarin di antara Malang dan Surabaya. Ahh..rupanya bukan pesan darimu, tapi dari ica, sahabat karibmu di kuliah dulu yang sama sekali tidak akrab denganku. Tumben sekali pikirku. Dia bilang mohon doa dan semoga Tuhan menerimamu di sisiNya. Sekitar satu jam setelah pesan itu, sesaat setelah hujan tinggal menyisakan gerimis, beberapa kali handphoneku berbunyi. Mungkin sudah belasan pesan tapi kuabaikan karena kurasa bukan Tuhan yang sekarang di sisimu, tapi Aku. Ya, kamu tidak kemana-mana. Kamu sekarang di sampingku. Kita berdua sedang duduk di balkon di depan kamarku menikmati gerimis yang mungkin sebentar lagi akan berhenti menutup tahun ini.

Desember, 2010

A.S. Ibrohimi. Surabaya, Desember 2010

Selasa, Desember 28, 2010

Indekos - Sebuah Cerpen

Namaku diah, aku salah satu mahasiswi sebuah PTN bergengsi di Surabaya. Aku mahasiswi perantauan dari Bontang. dan seperti kebanyakan mahasiswi perantauan lainnya, aku memilih kos sebagai tempat tinggal selama menempuh studiku.

Seperti banyak kos di sekitar kampus, rata-rata kos-kosan di sini dihuni banyak mahasiswa, meskipun sebagian juga sudah bekerja. Mereka yang bekerja pun sebenarnya rata-rata adalah dulunya mahasiswa kampus dekat kos. Mungkin mereka sudah terlalu betah atau sebenarnya hanya ingin mempertahankan harga lama pembayaran kos dari sejak pertama mereka kuliah.
Kos-kosanku sendiri ada enam kamar, tiga kamar di atas dan tiga kamar di bawah. Tentu saja ada dua kamar mandi, kebetulan dua-duanya di bawah dan tepat di depan kamarku. Paling tidak aku bisa gampang kalau mau mandi. Tidak perlu naik turun tangga, karena aku punya pengalaman buruk dengan ketinggian.
Seperti yang sudah aku bilang tadi, kamarku tepat di depan kamar mandi. Dan itu berarti yang paling kiri di lantai bawah. Di samping kamarku, kamar tengah lantai bawah, dihuni seorang mahasiswa Science yang kalau diperhatikan dari pakaiannya adalah mahasiwa yang mengikuti kerohanian islam di kampus. Seringkali dia keluar pagi sekitar jam sembilan dan hampir selalu pulang ke kos jam satu pagi, mungkin karena sibuk dengan kegiatan organisasinya itu. Hampir selalu seperti itu. Kau mungkin bertanya bagaimana aku tahu. Sangat mudah karena aku paling tidak bisa tidur ada suara pintu dibuka atau ditutup karena aku pasti terbangun. Oh iya aku hampir lupa memberitahu. Semua pintu kecuali kamarku jika dibuka hampir pasti megeluarkan suara yang keras. Seperti yang kau sering dapati pada pintu yang sudah harus diganti engselnya. Ah..iya, aku juga belum memberitahukan nama mahasiswa di samping kamarku. Namanya khoir, entahlah nama lengkapnya, karena aku sendiri tidak pernah langsung berkenalan. Yang jelas satu kali aku pernah dengar dia ngobrol dengan Adi, penghuni kamar atas tepat di atas kamarku. Dia bilang waktu itu, ‘Aku Khoir mas, Khoir itu artinya baik. Mas sendiri siapa namanya?’ “Ara..”, “Ara??” “Iya, Ara..nama lengkapku sebenarnya Asmara, mungkin orang tuaku dulu tahu bahwa nantinya aku punya banyak kisah asmara haha.” “bisa aja mas.”

Iya bisa aja. Itulah Adi, setahuku dia memang bernama Adi bukan Asmara, tapi karena dia memang selalu “bisa aja”, dia selalu memperkenalkan dirinya dengan nama Asmara. Mungkin karena dia selalu berusaha menutupi siapa sebenarnya dia. Kau mungkin bingung bagaimana aku bisa tahu bahwa namanya Adi, bukan Asmara. Mudah saja, atau mungkin tepatnya tidak sengaja karena kartu kerjanya yang mirip kartu ATM itu jatuh bersama barang-barang yang lain dari tasnya ketika dia lewat depan kamarku untuk berangkat kerja pagi. Sepertinya dia bingung setelah kehilangan kartu tersebut karena sorenya pulang dari kerja dia seperti sedang mencari-cari kartunya yang bertulis cukup besar ADI KAOHENA dan dibawah tulisan tersebut tertulis lebih kecil SALESMAN. Dia sepertinya merasa kartunya jatuh di depan kamarku, tapi tak berani mengetuk pintu untuk bertanya. Yang aku tahu tentang Adi selain sebagai salesman dan selalu mengaku sebagai Asmara adalah selalu ramah pada semua penghuni kos kecuali padaku, mungkin itulah kenapa dia jadi sales. Dari semua penghuni, Adi paling ramah atau tepatnya berusaha akrab dengan mahasiswa samping kamarnya, mahasiswa sastra yang kamarnya tepat di atas kamar Khoir. Bukan apa-apa, ini mungkin jadi alasan kenapa Adi mengenalkan dirinya sebagai Asmara.

Mahasiswa inilah Asmara sebenarnya, bukan, nama aslinya bukan asmara, tapi Langit. Langit inilah yang benar mempunyai banyak kisah asmara seperti yang dicita-citakan Adi. Entahlah bisa disebut asmara atau tidak, yang jelas di kamarnya hampir tiap dinihari setengah jam atau satu jam setelah Khoir balik ke kos, akan selalu ada lenguhan-lenguhan berbeda di tiap malamya. Aku tak tahu apakah dia menyewa tapi sepertinya tidak karena menurutku dia bukan tipikal mahasiswa kaya. Meski kulitnya cukup bersih, tidak terlalu tampan tapi seperti biru langit, Langit dianugrahi raut muka yang sendu serupa biru jika diibaratkan warna. Seakan ada keresahan lama yang dia simpan sehingga perempuan seakan terpicu memburu cumbu. Bukankah perempuan memang suka dengan laki-laki yang pernah gagal karena dikhianati. Seakan ada keagungan dari keputusannya menjaga kesetiaan meski dia sebenarnya mampu mendapatkan wanita lain untuk dicumbu. Serupa pemain sepakbola yang menangis karena gagal di final piala dunia. Perempuan akan sangat mau menjadi penghibur dukanya. Ah.. mungkin aku tidak sepenuhnya benar juga, Langit bisa jadi sangat sederhana. Dia mungkin hanya sekedar ingin bertukar peluh tanpa peduli ada keagungan atau tidak dari raut sendunya. Sederhana sekali. Dia mungkin juga tak terlalu peduli bahwa Adi begitu menginginkan seperti dia di tiap dinihari atau bahwa Khoir sangat terganggu bunyi ranjang dan lenguh perempuan-perempuan yang ia tunggangi meski dibalik lenguhan terdengar sahutan Thom Yorke dengan Motion Picture Soundtrack yang sengaja dia putar namun liriknya juga tidak terlalu membantu mengurangi kebecian Khoir. Bisa jadi memang Langit cukup sesederhana ritual Motion Picture Soundtrack nya. Sekarang lagi-lagi kau mungin akan bertanya bagaimana aku tahu Khoir sangat membenci ritual Motion Picture Soundtrack sangat mengganggu Khoir. Aku tidak akan bilang mudah tapi mungkin sederhana saja. Waktu khoir sedang menunggu giliran mandi, kamar mandi yang biasa dia tempati baru saja selesai di pakai Agus. “Loh ir, belum tidur?” “Belum mas, kayaknya yang diatas kesurupan.” “Oalah..memang agak gila anak itu.”

Mungkin memang Agus tak segila Langit dalam hal menuggangi. Agus memang tidak pernah terpikir untuk menunggangi istrinya sambil memutar lagu yang ia anggap aneh seperti ocehan setan. Meski sebenarnya dia tahu hal yang lebih mengganggu adalah lenguhan-lenguhan yang berbeda tiap diniharinya tapi sama renyahnya dari kamar Langit. Bukan, bukan lenguhan-lenguhan itu menggangu karena tidak enak didengarkan sama seperti lagu yang diputar, tapi sangat mengganggu karena dia tahu istrinya yang kadang-kadang mengunjunginya tak pernah memberinya lenguh serenyah lenguhan-lenguhan dari kamar Langit. Aku tak tahu apakah istrinya malu melenguh karena melakukannya di kos-kosan, tapi sepertinya memang istrinya tak menunjukkan gairah sama sekali. Entahlah persisnya. Aku hanya menduga. Paling tidak Agus dan Khoir sama-sama terganggu meski dengan perasaan yang sama sekali berbeda. Agus yang berangkat kerja agak siang harus cepat-cepat kembali ke kos sebelum dinihari jika ingin menunggangi istrinya tanpa perasaan iri dan kehilangan moodnya. Maka sejauh ini memang semua penghuni kos seakan tertarik dalam gravitasi kamar Langit dengan ritual Motion Picture Soundtrack nya kecuali satu orang, Sulur.

Sulur, dulunya mahasiswa sama seperti Adi dan Agus. Sekarang dia sudah bekerja, sebagai penjaga toko buku yang cukup besar yang di tiap kota besar ada beberapa. Ya dia memang tidak menginginkan berhenti pada pekerjaanya sekarang. Tapi demi menunggu sampai ada pekerjaan yang dia inginkan, Apoteker, terdengar sama mungkin hanya beda yang dijaga. Meski menjadi penjaga toko buku sementara, dia tidak setengah hati mengerjakannya. Pagi dia sudah berada di tempat kerja membersihkan dan menata buku-buku baru atau buku lama yang harus dipindah dan sore sekitar jam enam dia sudah pulang sampai satu jam berikutnya dia sudah akan tidur. Dan hampir setiap hari seperti itu. Maka sangat wajar jika gravitasi Motion Picture Soundtrack Langit tak mampu mencapai Sulur dan kamarnya. Satu-satunya orang yang terhubung denga Sulur adalah Langit tapi tanpa ritualnya. Tentu saja ketika Langit meliburkan ritual dan menunggu Sulur bangun untuk memesan buku yang sulur tak pernah peduli kecuali uang yang dia dapat dari potongan buku, itupun jika Langit jadi memesan. Aku, aku sendiri sangat ingin memesan buku entah apa asal tidak berhubungan dengan ketinggian dan bisa dibaca dengan nalar yang pas-pasan ini tapi aku malu. Aku selalu malu untuk mencoba menyapa Sulur, mecoba basa-basi sedikit kemudian memesan buku apalah namanya tentunya.

Oh iya, aku sekarang tidak sendiri di kamar. Ada Agung, mahasiswa kedokteran, sepertinya akan benar-benar jadi dokter. Aku awalnya kaget bagaimana mungkin Ibu kosku megijinkan Agung sekamar denganku. Tapi satu hari aku tahu ternyata pintu kamarku juga butuh diganti engselnya. Yang aku ingat, Adi waktu itu mengetuk pintu setelah beberapa hari sebelumnya tak berani. “Eh bro, sorry ya ganggu, ada kartu kayak KTM ato ATM gak di sini pas kamu masuk kemarin?” “Oh..yang ini mas?” “Oh iya..ternyata beneran jatuh terus masuk kamar ini, thanks ya bro. Akhirnya ada yang nempatin kamar ini, katanya dulu yang nempatin cewek soalnya dulu kos-kosan cewek, anaknya jatuh dari atas kepleset habis jemur pakaian. Tapi santai saja selama ini gak ada apa-apa kok.. oh iya aku Ara” “Ara?” “Iya, Asmara, mungkin orang tuaku dulu tahu bahwa nantinya aku punya banyak kisah asmara haha.” “Bisa aja mas, Agung Sasmito, panggil saja Agung.”

Surabaya, 27 Desember 2010


Minggu, Desember 19, 2010

Akhir Musim - Sebuah Cerpen dari Sunlie Tentang Hujan

Hanya beberapa saat tadi, sebelum memutuskan untuk tidur tiba-tiba secara tidak sengaja saya menemukan cerpen 'Akhir Musim' oleh Sunlie Thomas Alexander yang saya agak kaget karena suasananya sedikit mirip dengan cerpen yang saya buat tapi belum pernah berani untuk saya publikasikan di blog kumuh saya (ya, mungkin lain kali). Ya tapi tentu saja cerpen saya masih bukan apa-apa dibanding cerpen seorang Sunlie. Berikut cerpennya, silahkan membaca jika berkenan. Satu hal lagi tentang hujan hhe.
-***-

Aku simpan janjimu dalam setiap pagiku, setiap malamku. Suatu saat nanti aku akan menagih dan kau tidak boleh kaget lantas bilang tidak.

SUNGGUH-SUNGGUHKAH aku berjanji? Atau hanya terlampau takut membuatmu kecewa? Gerimis akhir musim tiba-tiba membesar disertai deru angin yang menjadi liar serupa kelebat bayangmu dalam kepalaku. Aku urung beranjak dari teras warung tempat aku baru saja menghabiskan semangkok mie ayam sambil berbalas SMS denganmu. Kurapatkan jaketku sekadar mengurangi rasa dingin yang merasuki pori-pori. Tetapi, seolah ada yang lebih dingin lagi merayap dalam dadaku.

Suatu hari nanti aku akan mengunjungimu di kotamu. Sepuluh menit lalu balasan pesanku padamu itu muncul di layar ponselku sebagai huruf-huruf yang gemetar untuk menjawab pertanyaanmu kapan kita akan bertemu lagi setelah sekian lama. Larik-larik air yang jatuh dari atap warung membentuk semacam tirai di hadapanku, dan seorang gadis manis berlari menembusnya. Gadis itu merapat ke sisi kiriku dengan tubuh menggigil. Seluruh pakaiannya basah kuyup. Ada sisa parfum cukup tajam yang menguap dari tubuhnya yang sintal, dan lagi-lagi mengingatkanku padamu. Bukankah serupa benar dengan bau parfummu? Entahlah, segalanya seolah bersatu padu melekatkan bayangmu pada benakku. Segalanya: malam yang miris, hujan menderas, bau parfum, bahkan seekor nyamuk yang hinggap di pipi mulus gadis itu. Gerakannya menepis begitu mirip dengan gayamu mengusir nyamuk yang juga hinggap di pipimu ketika itu. Di pinggir Sungai Siak pada sore terakhir pertemuan kita setahun silam. Waktu itu juga hujan, dan kita berteduh di teras sebuah warung kopi di tepi sungai.

Kerinduan memang selalu datang begitu saja. Seperti hari ini, aku baru bangun dari tidur sore yang nyenyak ketika menemukan rintik-rintik gerimis di luar jendela. Dan seperti yang sering terjadi, tentunya aku segera teringat padamu. Aku merasa begitu kangen padamu, dan entahlah, tiba-tiba merasa ingin sekali makan mie ayam kesukaanmu. Aku pun buru-buru menyambar jaket dan berlari ke luar rumah, menerobos gerimis yang melebar, menuju warung di ujung jalan.

Ah, bukankah kamu begitu menyukai hujan? Kamu pernah membisikiku kalau kamu menganggap lelaki itu seperti hujan. Aku hanya tertawa waktu itu, walau tidak tahu apa dalihmu.

Aku merasa kamu seolah-olah ada di sisiku, dan kita berdua sedang termangu menatap hujan yang berkejaran di jalan. Bau parfummu yang khas lagi-lagi menyengat penciumanku. Aku menoleh ke samping. Gadis manis itu tampak gelisah, berkali-kali ia melirik jam tangannya. Apakah ia tengah menunggu seorang laki-laki yang berjanji padanya? Gadis itu tiba-tiba berpaling padaku. Mata kami bertemu. Ia tersenyum dan aku membalas dengan kikuk. Ia ternyata punya lesung pipit kiri-kanan sepertimu...

Mungkin seharusnya aku memang tidak berjanji. Tapi sambil makan, tanpa sadar aku meraih ponsel di kantong celana. Aku baru saja hendak mengetik pesan untukmu, ketika ponsel dalam genggamanku itu berdering nyaring. Dan aku terlonjak girang mendapati sebuah pesan darimu masuk: Apa kabar, Say? I miss U.

Hujan turun semakin deras. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Jalanan melengang. Aspal tampak berkilau di bawah siraman larik-larik hujan, memantulkan cahaya lelampuan toko-toko dan satu-dua mobil yang melintas mencipratkan air. Sejumlah orang mengeluh.

Ai, hujan tiba-tiba menjadi getir di mataku, suara curahannya terdengar seperti sebuah konser sedih.

***

TAK lama lagi aku menikah. Aku akan segera memasuki sebuah kehidupan yang lain, dan menemukan diri berada dalam sebuah kotak bersama orang lain, bukan dirimu. Barangkali kamu hanya akan menertawakan kecemasan yang tiba-tiba menyergapku, atau justru merasa bersedih untukku, pikirku menduga-duga sambil mulai mengetik sebuah pesan untukmu.

Tentu, aku hanya bisa menerka-nerka saja bagaimana perasaanmu bila hingga saat ini kamu belum juga membalas SMS terakhirku dua malam lalu. Adakah kamu marah lantaran cemburu, sebagaimana yang sering aku rasakan setiap kali kamu bercerita tentang seseorang itu, lelaki yang mengisi hidupmu dengan bunga-bunga dan membuahi rahimmu, atau tentang anak-anak buah rahimmu itu, yang begitu lucu dan manis. Mungkin kamu sengaja tidak membalas pesanku agar aku tahu kalau kamu marah. Tapi bisa jadi kamu cuma kehabisan pulsa. Ah...!

Hujan masih turun rintik-rintik di luar jendela kamarku. Apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Apakah kamu juga sedang termangu di depan jendela kamarmu dengan gorden yang bergerak-gerak dipermainkan angin, memandangi larik-larik hujan yang singgah di luar jendela itu sambil menggigit bibir? Kamu pernah mengatakan jika setiap kali hujan turun di kotamu, kamu selalu teringat padaku dan membayangkan aku ada di sampingmu. Karenanya, kamu selalu berlama-lama memandangi hujan tercurah dari langit. Terkadang kamu mengirimiku pesan: Apakah hujan juga sedang turun di kotamu? Dan sering kali aku berbohong kalau aku juga sedang menikmati hujan sepertimu, sekedar untuk menyenangkanmu (Atau mungkin menyenangkan hatiku sendiri? Entahlah). Aku merasa cemburu membayangkan kamu sedang dicumbui seseorang itu. Bukankah hujan adalah waktu yang teramat indah buat bercumbu?

Kau seperti hujan yang datang membasahi, membuat pepohonan dan rerumputan meruap segar di hatiku, dan ketika pergi meninggalkan aroma tanah yang gembur. Gerutumu suatu saat. Barangkali sejak itulah, aku mulai menyukai hujan dan betah menikmatinya berlama-lama. Sebab aku merasa menemukan dirimu... Ketika aku mengatakannya padamu, kamu terdengar begitu girang.

"Bagaimana kalau kita mendirikan Paguyuban Pecinta Hujan? Mungkin banyak orang yang juga mencintai hujan seperti kita dan mereka boleh bergabung," olokku suatu hari yang membuatmu tertawa nyaring di ponsel.

***

HUJAN akhir musim turun lagi membasahi ingatanku padamu. Ingin sekali aku meraih ponselku dan mengirimkan sebuah pesan untukmu sebagaimana biasanya. Sekadar mengabarkan bahwa hujan lagi turun di kotaku dan aku rindu sekali padamu. Atau mengirimkan kalimat "Selamat Berbahagia" untukmu? Ah, justru pikiran untuk mengucapkan "selamat" inilah yang selalu saja mengurungku niatku untuk menghubungimu. Sekiranya saja kau tahu, kalau kabarmu sungguh-sungguh membuatku sakit. Betapa aku tak sanggup harus membayangkan akan segera ada seseorang yang setia di sampingmu. Sedang aku mungkin akan tinggal bayang-bayang yang jauh, seperti langit sering tampak jauh pada musim kemarau, yang akan datang sebentar lagi. Apakah nanti kita akan tetap saling berkirim pesan dan sesekali saling menelepon? Tentunya secara diam-diam, seperti yang selama ini selalu kulakukan.

Apakah saat ini kamu sedang menatap hujan sepertiku? Kau pasti kian gelisah karena tak juga mendapatkan balasan SMS-ku. Aku tahu, kalau kini kau mulai menyukai hujan juga seperti aku.

Andaikan saja kau tahu, kalau sebenarnya aku menyukai hujan semenjak bertemu denganmu pada malam acara sastra yang basah itu dan betapa dulu aku pernah begitu membenci hujan. Selama bertahun-tahun, kenanganku tentang hujan adalah kenangan seorang gadis cilik yang malang. Seorang gadis cilik dengan air mata melekat basah di kaca jendela yang tertutup rapat, seakan air mata itu hendak menyatu dengan hujan yang tercurah deras di halaman. Gadis cilik berkepang dua dengan sepasang mata bulat bening yang penuh rasa iri dan dengki menatap ke luar jendela, di mana anak-anak lain sedang bertelanjang bulat melonjak-lonjak kegirangan di bawah siraman hujan.

Ia anak yang manis, anak semata wayang. Dan anak manis harus bermain di rumah. Jangan keluyuran dan sembarang bergaul, apalagi bermain hujan-hujanan dengan anak-anak kampung yang dekil itu. Hujan membawa bibit penyakit, dan kalau sampai si anak manis sakit bagaimana? Tukas Mama.

Maka temannya hanya boneka-boneka, buku-buku komik dan dongeng. Ada Tin-Tin, Superman, Godam, Gundala, juga Cinderella, Bawang Merah-Bawang Putih, Ande-Ande Lumut, White Snow dan Tujuh Kurcaci, Sleeping Beauty, Peter Pan, Alice di Wonderland. Sepupu-sepupunya yang cerewet kadang datang merobek buku-buku kesayangannya itu. Sepupu-sepupu tak tahu diri yang suka berteriak-teriak dan bercerita tentang hujan. Sejak itu ia semakin membenci hujan, juga riuh-rendah suara anak-anak bermain di halaman.

Hanya bersama buku-bukunya ia bisa berpetualang, menjelajahi dunia di luar rumah yang terlarang. Papa jarang pulang, tapi setiap pulang selalu membawakan oleh-oleh buku baru untuknya. Buku-buku itu disusun dengan rapi di rak mungil berwarna ungu di sudut kamarnya. Sampai suatu saat ia merasa bosan pada cerita-cerita yang begitu-begitu saja. Ia ingin cerita yang lebih seru, lebih fantatis dan tak selalu berakhir dengan kebahagiaan puteri yang baik hati, tenggelamnya kapal bajak laut, ditangkapnya anak-anak yang tak penurut oleh nenek sihir jahat, atau hukuman Tuhan buat saudara tiri yang culas.

Ia tak ingat kapan persisnya ia mulai menulis ceritanya sendiri. Tokoh-tokoh utamanya adalah anak-anak yang dengan gembira membakar rumah, pangeran tampan yang dibunuh nenek sihir malang, atau puteri culas yang menemukan kebahagiaan dengan ksatria idamannya.

Ketika seseorang itu, lelaki pilihan Mama, datang meminangnya pada sebuah musim hujan, ia hanya meminta satu syarat saja, yaitu ia boleh terus menulis cerita-ceritanya.

***

AKU tak ingin musim hujan berlalu. Aku takut kehilangan bayangmu. Kalau saja kamu tahu, betapa cemasnya aku. Kadang aku berharap hujan akan melupakan musimnya dan turun sepanjang waktu seperti rinduku padamu. Agar jejak percintaan kita tak meranggas oleh kemarau yang bakal tiba tak lama lagi.

Apakah musim hujan yang akan segera pergi juga akan membawa pergi pesan-pesan, membawa pergi debar dada yang begitu nikmat setiap kali ponsel berdering nyaring. Sehingga barangkali aku akan lupa pernah berjanji padamu.

Terlebih pada musim kemarau kali ini, aku harus menyiapkan sebuah pesta besar, menyebarkan undangan-undangan, memilih ranjang dan lemari baru, tentunya juga mencarikan gaun pengantin untuk seseorang yang akan bersanding denganku di pelaminan merah beludru. Ah, pastinya aku tidak akan mencari gaun pengantin berwarna ungu seperti pintanya, sebab gaun ungu hanya akan menyakitkanku lantaran mengingatkan pada foto pengantinmu dengan lelaki itu pada sebuah musim hujan.

Seharusnya aku memang tak berjanji padamu. Sebab mungkin aku tak akan pernah menepatinya.

Belinyu, Maret 2006


Read also here:

Hujan dan Lagu Hujan

Puisi tentang hujan di blog ini: 1, 2, 3, 4, 5


Senin, Desember 06, 2010

Hujan dan Lagu Hujan

Bulan desember kali ini rasanya hampir tiap sore selalu diiringi hujan. Hujan..yah selalu hujan. Banyak mungkin yang tidak suka hujan, tapi banyak juga yang sangat menikamati hujan, bahkan mungkin banyak yang kadang menikmati hujan hari ini tapi besok sangat membenci begitu juga sebaliknya. Suka, tidak suka atau biasa saja pada hujan mungkin karena berbagai macam alasan.

Seorang teman saya pernah sangat takut hujan. Dia selalu sakit besoknya setelah terguyur hujan. Yah mungkin teman saya juga pernah tidak sakit setelah terkena hujan. Hanya saja statistik sakit setelah hujan mendominasi. Teman saya yang lain bahkan pernah menyumpahi hujan, dengan jawa suroboyoan seperti ‘Jancok udan cok.’ atau ‘asuu..udan maneh’ atau kebritish-britishan..’fuck bloody rain’. Hmm..teman saya rasanya butuh pawang hujan.

Saya..saya sendiri sangat menikmati hujan, meski tak jarang saya juga menginginkan hujan tak turun. Saya menyukai hujan karena hujan selalu memberikan ketenangan pada bunyi airnya yang menitik di atap, di jalan, di selokan, di sembarang tempat di sekitaran. Ahh..betapa nikmatnya hujan. Bahkan saya tak perlu mengeluarkan uang untuk menikmatinya.

Hujan..ya hujan. Suka atau tidak selama kita masih berumur dan masih berada di Indonesia, kita akan masih mungkin menikamati hujan. Entah sekedar menunda urusan kita atau bahan sampai seringkali membuat banjir, hujan tetaplah hujan. Tidak ada urusan kau suka atau tak suka.

Hujan, seperti hal-hal lainnya, seringkali juga menjadi inspirasi atau sekedar pengaruh untuk siapa saja termasuk seniman, penyanyi mungkin. Berikut ada beberapa lagu dari ‘lemari’ saya yang sekedar mengutip kata hujan atau bahkan bercerita tentang hujan itu sendiri. Terimakasih untuk mereka semua untuk ‘hujan kreasi’ mereka yang seringkali memberi rintik atas deras kerinduan saya pada hujan di musim kemarau. Harusnya masih ada beberapa lagi tapi rasanya menurut saya deskripsi hujan dan hal di luar hujan itu sendiri sangat bagus diterjemahkan ERK, Frau, Mocca, Jamie Cullum, Kelly Sweet, KOC dan musikalisasi puisi Sapardi Joko Damono.

Download songs here:
Frau-mesin penenun hujan dari YesNoWave.com
Mocca-and rain will fall
Erk-desember
Erk-hujan jangan marah
Jamie Cullum-Singing in the rain
KOC-failure
Sapardi Joko Damono-Hujan bulan juni or here

Link Puisi tentang hujan di sangitaromalangit:
protes pada hujan
hujan dan solilokui
hujan
sajak untuk teman dan hujan
hujan mungkin marah

Minggu, Desember 05, 2010

Sore

Selamat sore semuanya. Selamat menikmati segelas teh di tangan anda sore ini. sore ketika saya menulis catatan ini sekarang. yah..harusnya sore ini saya sedang memegang dengan teguh secangkir teh saja cukup jika seember terlalu banyak, meneguknya perlahan sekali dan sangat khusyu', sayangnya justru kopi yang ada di meja. tapi tak apalah..tea turns to coffee.. what's the big deal.?

Sore, mungkin bukan hanya waktu untuk minum teh, tapi masih kerja mungkin, atau malah masih nganggur, bingung apa yang mau dikerjakan dan masih berfikir apa yang mau dikerjakan bahkan sejak pagi. ah..apalah sore berarti.

Satu sore saya mungkin sedang memulai sarapan, satu sore sedang menikmati teh atau mungkin tidur malahan itu tak merubah bahwa sore kemudian jadi pagi karena baru sarapan, atau iya memang sore karena ada secangkir teh, dan apalagi sore berubah jadi malam hanya karena saya ketiduran.

Sore..tetap sore, dengan langitnya yang memerah jika tak mendung atau hujan. Sore, tak peduli kau menikmati teh, kopi, atau tidurmu selalu tetap sore. Saya, sangat menikmati sore.

Satu dari sekian banyak sorehari di jalan dharmawangsa Surabaya
link puisi tentang sore di sangitaromalangit:
kopi dan sore