Rabu, Desember 30, 2009

Gus Dur

Malam ini, beberapa jam sebelum saya memposting tulisan yang entah bisa disebut apa ini, Bapak bangsa atau apalah orang menyebut beliau, yang suka, yang sedikit suka, yang suka suka atau yang tidak suka mungkin pada beliau sengaja atau tidak sengaja menyimak berita mungkin akan kaget bahwa Gus Dur telah wafat. Gus Dur telah meninggalkan kita, kita yang suka beliau, yang tidak suka beliau atau hanya sekedar tahu dan tidak mau tahu.

Untuk apakah kemudian tulisan ini dibuat? iseng mungkin, sedikit iseng sedikit serius atau mungkin diri sedang sangat serius dan merasa begitu kehilangan sosok Gus Dur. Bukan apa-apa, tapi sedikit mengingat jauh ke belakang (bukan kamar mandi), sewaktu masih SD, ketika banyak teman lebih mengidolakan tokoh kartun atau superhero, yang ada dalam benak saya hanya bagaimana bisa bertemu langsung dengan Gus Dur dan mendapatkan kesempatan bersalaman dengan beliau. Entah, bukan absurd yang jelas, karena mungkin diri terpengaruh dengan lingkungan keluarga yang memang cenderung mengidolakan Gus Dur, terutama paman yang waktu itu masih cukup muda yang dengan semangat berbicara dan pengetahuanyanya selalu membuat saya takjub, heran, merasa beruntung bisa dekat dengan paman. Dan itu berarti apa yang menjadi idola paman adalah idola saya juga. ya, tapi saya masih SD. Terlalu prematur mengetahui hal-hal atau apapun tentang paman saya dan idolanya, Gus Dur. Tapi (lagi-lagi) mungkin justru impian sederhana saya untuk sekedar bertemu beliau secara langsung dan sungkem (berjabat tangan) dengan beliau harus saya lupakan atau sekedar menjadi ingatan.

Tapi (lagi dan lagi) mungkin memang saya terlalu mengidolakan Gus Dur atau sebenarnya justru paman saya, yang jelas sampai ketika saya menempuh bangku SMP, banyak teman saya yang sampai selalu menunjukkan koran, majalah atau yang lainnya yang berisi berita tentang Gus Dur karena mereka menganggap saya selalu antusias ketika membaca berita tentang beliau. Terlalu biasa mungkin superhero buat saya dibanding Gus Dur, entahlah.

Setelah menginjak (benar-benar menginjak juga) bangku kelas dua SMP mungkin, hal-hal tentang Gus Dur, berangsur pada hal yang lebih natural, lebih wajar (bukan berarti sebelumnya tidak wajar). Mungkin karena beberapa perempuan sudah berani menggoda saya, entahlah.

Intinya, pada waktu saya memposting tulisan ini, rasanya saya begitu merasa kehilangan sosok Gus Dur, sosok yang mungkin secara personal atau secara pengalaman tidak pernah saya temui secara langsung namun rasanya begitu dekat dengan segala hal yang telah beliau berikan bagi orang-orang di sekitar beliau, di manapun, khususnya saya secara tidak langsung. Beberapa menit yang lalu bahkan saya begitu terharu ketika melihat tayangan Metro TV yang secara langsung meliput persiapan pemakaman beliau yang diiringi lagu Gugur Bunga dari Ismail Marzuki. Begitu mendadak rasanya, tapi mungkin memang sudah waktu beliau. Pada akhirnya biarlah saya menjabat tangan beliau untuk yang yang pertama dan terakhir kali., cukup di hati mungkin. Selamat Jalan Gus Dur.

sudden defrag, warnet belakang kontrakan.

Minggu, Desember 27, 2009

Aku Ingin Menulis Dalam Gelap

Aku ingin menulis dalam gelap
Seakan tulisan yang kubuat
Mencipta nyala serupa lentera

Aku ingin menulis dalam gelap
Karena seringkali terang justru
Memberimu gelap dalam ulap

Namun, kiranya kau pun tahu

Telah tak terhitung usaha kupaksa
Mencipta terang tanpa merusak gelap
Atau mencumbu gelap tanpa butuh terang
Dan gelap tak berubah bersanding terang
Begitu sebaliknya terang nyaman di samping gelap

Aku,
Aku ingin menulis dalam gelap
Aku ingin menulis
Entah gelap
Entah ulap
Dengan terang
Atau erang
Aku ingin menulis dalam gelap.

Balkon, 27-12-09. Empat pagi

Maaf (II)

Bulan ini, Desember, ketika sedikit lagi mencapai akhirnya, rasanya diri ini dipaksa atau memang sudah seharusnya meminta MAAF pada segala hal, setiap orang dan semuanya saja.

Entah kenapa, seakan diri dihadapkan pada hal-hal tertentu atau pada orang-orang yang kemudian pada hal-hal dan orang-orang tersebut secara langsung atau yang secara tidak langsung terkait dengan hal-hal tersebut atau orang-orang tersebut.

Entah kenapa, setiap melihat sahabat (orang-orang di dekat diri) yang kamarnya berada di samping kiri, belakang dan di bawah kamar, rasanya begitu banyak salah yang dibuat oleh diri. Entah kondisi, atau memang kesalahan tersebut saya buat secara langsung atau tidak langsung, tetap saja saya terlibat, dilibatkan, atau mungkin bahkan sebagai aktor utama atas kesalahan-kesalahan tersebut. Untuk itu saya berhak, dan tepatnya tertuntut dan dipaksa untuk meminta maaf. Maaf, m-a-a-f ya maaf. Untuk semuanya. Apapun itu.

Entah kenapa, setiap melihat sahabat saya yang lain yang terbiasa mampir atau bahkan menginap di ruang tamu di depan tv, saya selalu merasa ada salah, atau sekedar merasa bersalah. Langsung ataupun tidak langsung atau bahkan mungkin hanya kondisi yang menempatkan saya pada posisi merasa bersalah dan tidak mampu dihindari, tetap saja saya terlibat, entah sekedar ambil bagian atu memang sebagai aktor utama atas kesalahan. Intinya sama saja. Terlibat atau dilibatkan, saya minta maaf. Terutam atas kecerobohan dalam meminjam sesuatu dan tidak bisa sepenuhnya bertanggung jawab karena di sisi yang lain di waktu yang sama saya harus bertanggungjawab dengan hal lain. Tetapi tetap saya sudah berusaha memenuhi tanggungjawab saya meski tidak tepat waktu dan pada akhirnya untuk itu semua, saya hanya bisa meminta maaf, ya maaf.

Entah kenapa, setelah lama tidak berbicara dengan sahabat lama saya yang pernah suatu kali pada awalnya tidak pernah ada ekspektasi telah secara serampangan menjadi sepasang kekasih, kemudian menjadi musuh atau sebenarnya sekedar tanpa embel-embel sahabat lagi, entah kenapa selalu membuat saya merasa bersalah pada kondisi atau benar memang kesalahan itu saya buat secara langsung atau tidak langsung dan sekedar dilibatkan, yang saya tahu banyak hal di antara saya dan dia yang hanya berupa narasi-narasi kebencian yang dibuat sengaja atau tidak oleh orang-orang lain atau mungkin hal itu benar dari saya atau dia atau saya dan dia atau tetap dari orang-orang lain yang benci dengan saya dan dia atau salah satu dari saya dan dia atau justru dari orang-orang lain yang suka/baik terhadap saya dan dia atau salah satu saya dan dia. Seolah saya dan dia telah menjadi narasi yang begitu kompleks sehingga harus diulang-ulang saya dan dia hingga untuk menjelaskan dan mengurai kebenaran yang sesungguhnya antara saya dan dia saja hanya akan menjadikan narasi baru yang tidak pernah menyelesaikan segala hal sebelumnya antara saya dan dia. Untuk itu, sya meminta maaf, pada dia, pada kondisi yang mungkin memungkinkan orang lain ikut campur sadar atau tidak sadar sehingga pada akhirnya saya termasuk menjadi orang yang terlibat atau sekedar dilibatkan pada narasi-narasi tersebut dan untuk itu semua saya minta maaf. Lagi minta maaf. Untuk semuanya. Untuk apapun dan siapapun.

Entah kenapa, setelah bertemu, sekedar bertatap muka kemudian kenal satu sama lain entah siapapun itu, tiba-tiba saja rasa bersalah muncul, atau memang mungkin saya telah melakukan kesalahan telah begitu berani bertatap muka, mengenal dan dikenal, berbagi entah banyak atau sekelumit sehingga semua itu hanya memberikan saya kesempatan untuk berbuat salah, terlibat atau sekedar dilibatkan dalam sebuah kesalahan. Seakan pada semua hal tersebut, hanya akan menempatkan saya pada posisi bersalah. Ya..bersalah, dan mau tidak mau meminta maaf. M-a-a-f. Dengan cara biasa atau tidak biasa yang bahkan mungkin sampai tidak menyisakan kebebasan sedikitpun.

Maka, sebut saja saya salah, s-a-l-a-h, karena memilih atau tanpa memilihpun pada akhirnya atau sebelum akhirpun saya akan membuat, terlibat atau sekedar dilibatkan yang mungkin seringkali secara serampangan pada kesalahan. Dan saya meminta maaf, ya m-a-a-f, maaf untuk semuanya. Apapun itu dan siapapun itu. Karena sebelum saya mampu melakukan satu tanggungjawab dan kebebasan, saya sedang tidak bebas melakukan tanggungjawab dan kebebasan saya yang lain. Dan itu salah. S-a-l-a-h. Sehingga untuk itu saya minta maaf, m-a-a-f.

A note with KOC’s ‘riot on an empty street’ unintentionally repeated 5 times
Jogja-Surabaya 20-23 desember 2009

Kamis, Desember 24, 2009

Maaf (I)

Maaf,
Maaf untuk semuanya
Apapun itu

Sudden defrag at warnet with a warning from the keeper (waktunya tutup mas!!!)

Untuk Malam Ini

Dan untuk malam ini aku tahu
Pada siapa rasa rindu tertuju
Kamu, mungkin kamu
Hanya, tetap kutemu ragu
Pada rupa rindu, rindu merindu
Serupa deru
Seakan kelu
Mungkinkah haru
Pada semu
Yang kita urai di samping kamarmu
Dengan langit subuh masih abuabu

Dan untuk malam ini aku tahu
sejenak muncul rasa rindu
rindu merindu, malam ini padamu
Entah esok, untuk malam ini aku tahu

00:15 Dinihari sepulang dari Jogja

Keranda Pagihari

Mau kemana kau pergi?
Terlampau luaskah rumah ini
Maka dengan senyum pasti
Kau pilih keranda pagihari

Mau kemana kau pergi?
Telah genapkah mencipta diri
Maka sudah cukup berhenti
Terbujur dalam keranda pagihari

Lalu, jika kau yakini
Serta yang lain mengamini
Selagi terus berulang menangisi
Taukah kemana kau pergi?

18-12-09 2 pagi lebih sedikit entah berapa

Rokok Dinihari

Apimu merangkak
Namun merambat
Cepat sesaat
Seakan udara
Mendorongmu kuat
Padahal kau
Tahu sudah
Di sini hampa
Atas udara
Atas kuasa
Atas segalanya

Karena

Dinihari ini
Bebas kau miliki

17-12-09 02:30

Kopi dan Sore

Seperti kopi
Kepalaku serupa
Cangkir diisi
Didih air
Yang padanya
Telah Terisi
Kopi

Seperti sore
Kepalaku serupa
Hari yang
Bosan cerah
Berlebih sinar
Yang padanya
Tersisa lembut
Sore

13-12-09 sorehari

Boneka Kuasa

Lelaki paruh baya
Kaca menutup matanya
Tak berupa sepeda
Dikayuhnya, pelan saja

Bukan sepeda tak berupa
Bukan pula kacamata cela
Membuat perjalanan pelan saja
Tapi kuasa, kuasa berkuasa
Lepas dari usang mimpinya
Maka hilang susunan makna
Susah payah dibangunya
Lepas rekat bungkus istimewa
atas raga biasa saja

Hanya saja,
Dia lupa
Kuasa berkuasa
Telah kuasa
Pada jiwanya
Yang ternyata
Biasa pula

08-12-09 03:08 Catatan pra-pemira UNAIR 09

Jumat, Desember 18, 2009

Manja (seringkali) Melelahkan

yang paling melelahkan dalam hidup adalah disekitar orang yang manja yang bahkan untuk tau diri sendiri saja berharap ada orang lain melakukanya...THOUSANDS WTF...!!!!!!!

Sabtu, Desember 05, 2009

Protes Pada Hujan

Sudah tak mampukah
Kau cipta deras
Maka yang ada
Hanya sekedar rintik
Tak lentik
Tak berisik
Hanya mengusik

Bukankah baru kemarin
Kau kirim gemuruh
Seakan bumi luruh
Pasrah bersanding keruh
Dari hujan
Dari kerinduan
Bermunculan kubangan

Ah..kiranya aku terlalu banyak tuntutan
Tapi benar aku ingin deras hujan
Bukan rintik serupa ocehan
Serupa bayi merangkak kesulitan

Cepat kau guyur
Supaya lekas lebur
Tak sekedar luntur
Biar lenyap bilur
Lalu kutemu alur

22-11-09 18:03

Hujan dan Solilokui

Aku bertanya padamu:
'Kenapa langit cerah,
padahal hujan mengguyur?'

Engkau menjawab padaku:
'Bukan cerah langit, tapi
bias surya yang biasa kau lihat.'

Aku bertanya padamu lagi:
'Mana kiranya cerah
yang biasa menutup cerah langit?'

Engkau menjawab padaku lagi:
'Kiranya engkaupun tau sudah
tak ada cerah menutup cerah.'

Aku bertanya pada diriku:
'Sampai kapan aku harus
menguraimu dalam terjemah?'

20-11-09 Sorehari

Hujan

Hujan marah
Sedang gerah
Atau mungkin
Hanya Lelah
Pada Cerah
Yang tidak
Ingin pisah
Sekedar pindah
Dari langit
Yang diam
Seakan Pasrah

Senyap kudengar
Lembut bisikan
Dari bumi
Yang tengadah:

"Basah sudah,
Bukan karena
Ludah akan
Sumpah serapah."

20-11-09 Sorehari

Sajak Untuk Teman dan Hujan

Hujan turun juga
Seakan terlalu lama
Langit menyimpannya
Maka detik ini juga
Berjuta kubang dicipta
Seakan lepas rindunya

Hujan turun juga
Seakan terlalu lama
Teman menahan rasa
Pada teman lainnya
Berjuta rindu di dadanya
Serupa lepas seketika

Hujan turun juga
Seakan terlalu lama
Cerita bertemu akhirnya
Saat ini juga
Berjuta bulir mesra
Membelai udara
Menghunjam bumi manusia

20-11-09 Sorehari

Hujan Mungkin Marah

Kemana hujan menguap
Atau sebenarnya tersendat
Rasanya mata terlalu kering
Namun hujan tak turun juga

'Kiranya cukup aku yang lelah
Bukan hujan yang serasa marah'

18-11-09 Dinihari

Bebas

Dan ketika yang lain
Menenggak Id di mimpi
Aku menemukannya terbercak
Ditangkap mata menyala

17-11-09 02:01

Menjadi Diri

Sekiranya diri cukup begini
Tanpa butuh berlebih arti
Pada semua yang berserak terberi
Genap satu dari berjuta esensi

06-10-09 00:22