Bulan ini, Desember, ketika sedikit lagi mencapai akhirnya, rasanya diri ini dipaksa atau memang sudah seharusnya meminta MAAF pada segala hal, setiap orang dan semuanya saja.
Entah kenapa, seakan diri dihadapkan pada hal-hal tertentu atau pada orang-orang yang kemudian pada hal-hal dan orang-orang tersebut secara langsung atau yang secara tidak langsung terkait dengan hal-hal tersebut atau orang-orang tersebut.
Entah kenapa, setiap melihat sahabat (orang-orang di dekat diri) yang kamarnya berada di samping kiri, belakang dan di bawah kamar, rasanya begitu banyak salah yang dibuat oleh diri. Entah kondisi, atau memang kesalahan tersebut saya buat secara langsung atau tidak langsung, tetap saja saya terlibat, dilibatkan, atau mungkin bahkan sebagai aktor utama atas kesalahan-kesalahan tersebut. Untuk itu saya berhak, dan tepatnya tertuntut dan dipaksa untuk meminta maaf. Maaf, m-a-a-f ya maaf. Untuk semuanya. Apapun itu.
Entah kenapa, setiap melihat sahabat saya yang lain yang terbiasa mampir atau bahkan menginap di ruang tamu di depan tv, saya selalu merasa ada salah, atau sekedar merasa bersalah. Langsung ataupun tidak langsung atau bahkan mungkin hanya kondisi yang menempatkan saya pada posisi merasa bersalah dan tidak mampu dihindari, tetap saja saya terlibat, entah sekedar ambil bagian atu memang sebagai aktor utama atas kesalahan. Intinya sama saja. Terlibat atau dilibatkan, saya minta maaf. Terutam atas kecerobohan dalam meminjam sesuatu dan tidak bisa sepenuhnya bertanggung jawab karena di sisi yang lain di waktu yang sama saya harus bertanggungjawab dengan hal lain. Tetapi tetap saya sudah berusaha memenuhi tanggungjawab saya meski tidak tepat waktu dan pada akhirnya untuk itu semua, saya hanya bisa meminta maaf, ya maaf.
Entah kenapa, setelah lama tidak berbicara dengan sahabat lama saya yang pernah suatu kali pada awalnya tidak pernah ada ekspektasi telah secara serampangan menjadi sepasang kekasih, kemudian menjadi musuh atau sebenarnya sekedar tanpa embel-embel sahabat lagi, entah kenapa selalu membuat saya merasa bersalah pada kondisi atau benar memang kesalahan itu saya buat secara langsung atau tidak langsung dan sekedar dilibatkan, yang saya tahu banyak hal di antara saya dan dia yang hanya berupa narasi-narasi kebencian yang dibuat sengaja atau tidak oleh orang-orang lain atau mungkin hal itu benar dari saya atau dia atau saya dan dia atau tetap dari orang-orang lain yang benci dengan saya dan dia atau salah satu dari saya dan dia atau justru dari orang-orang lain yang suka/baik terhadap saya dan dia atau salah satu saya dan dia. Seolah saya dan dia telah menjadi narasi yang begitu kompleks sehingga harus diulang-ulang saya dan dia hingga untuk menjelaskan dan mengurai kebenaran yang sesungguhnya antara saya dan dia saja hanya akan menjadikan narasi baru yang tidak pernah menyelesaikan segala hal sebelumnya antara saya dan dia. Untuk itu, sya meminta maaf, pada dia, pada kondisi yang mungkin memungkinkan orang lain ikut campur sadar atau tidak sadar sehingga pada akhirnya saya termasuk menjadi orang yang terlibat atau sekedar dilibatkan pada narasi-narasi tersebut dan untuk itu semua saya minta maaf. Lagi minta maaf. Untuk semuanya. Untuk apapun dan siapapun.
Entah kenapa, setelah bertemu, sekedar bertatap muka kemudian kenal satu sama lain entah siapapun itu, tiba-tiba saja rasa bersalah muncul, atau memang mungkin saya telah melakukan kesalahan telah begitu berani bertatap muka, mengenal dan dikenal, berbagi entah banyak atau sekelumit sehingga semua itu hanya memberikan saya kesempatan untuk berbuat salah, terlibat atau sekedar dilibatkan dalam sebuah kesalahan. Seakan pada semua hal tersebut, hanya akan menempatkan saya pada posisi bersalah. Ya..bersalah, dan mau tidak mau meminta maaf. M-a-a-f. Dengan cara biasa atau tidak biasa yang bahkan mungkin sampai tidak menyisakan kebebasan sedikitpun.
Maka, sebut saja saya salah, s-a-l-a-h, karena memilih atau tanpa memilihpun pada akhirnya atau sebelum akhirpun saya akan membuat, terlibat atau sekedar dilibatkan yang mungkin seringkali secara serampangan pada kesalahan. Dan saya meminta maaf, ya m-a-a-f, maaf untuk semuanya. Apapun itu dan siapapun itu. Karena sebelum saya mampu melakukan satu tanggungjawab dan kebebasan, saya sedang tidak bebas melakukan tanggungjawab dan kebebasan saya yang lain. Dan itu salah. S-a-l-a-h. Sehingga untuk itu saya minta maaf, m-a-a-f.
Entah kenapa, seakan diri dihadapkan pada hal-hal tertentu atau pada orang-orang yang kemudian pada hal-hal dan orang-orang tersebut secara langsung atau yang secara tidak langsung terkait dengan hal-hal tersebut atau orang-orang tersebut.
Entah kenapa, setiap melihat sahabat (orang-orang di dekat diri) yang kamarnya berada di samping kiri, belakang dan di bawah kamar, rasanya begitu banyak salah yang dibuat oleh diri. Entah kondisi, atau memang kesalahan tersebut saya buat secara langsung atau tidak langsung, tetap saja saya terlibat, dilibatkan, atau mungkin bahkan sebagai aktor utama atas kesalahan-kesalahan tersebut. Untuk itu saya berhak, dan tepatnya tertuntut dan dipaksa untuk meminta maaf. Maaf, m-a-a-f ya maaf. Untuk semuanya. Apapun itu.
Entah kenapa, setiap melihat sahabat saya yang lain yang terbiasa mampir atau bahkan menginap di ruang tamu di depan tv, saya selalu merasa ada salah, atau sekedar merasa bersalah. Langsung ataupun tidak langsung atau bahkan mungkin hanya kondisi yang menempatkan saya pada posisi merasa bersalah dan tidak mampu dihindari, tetap saja saya terlibat, entah sekedar ambil bagian atu memang sebagai aktor utama atas kesalahan. Intinya sama saja. Terlibat atau dilibatkan, saya minta maaf. Terutam atas kecerobohan dalam meminjam sesuatu dan tidak bisa sepenuhnya bertanggung jawab karena di sisi yang lain di waktu yang sama saya harus bertanggungjawab dengan hal lain. Tetapi tetap saya sudah berusaha memenuhi tanggungjawab saya meski tidak tepat waktu dan pada akhirnya untuk itu semua, saya hanya bisa meminta maaf, ya maaf.
Entah kenapa, setelah lama tidak berbicara dengan sahabat lama saya yang pernah suatu kali pada awalnya tidak pernah ada ekspektasi telah secara serampangan menjadi sepasang kekasih, kemudian menjadi musuh atau sebenarnya sekedar tanpa embel-embel sahabat lagi, entah kenapa selalu membuat saya merasa bersalah pada kondisi atau benar memang kesalahan itu saya buat secara langsung atau tidak langsung dan sekedar dilibatkan, yang saya tahu banyak hal di antara saya dan dia yang hanya berupa narasi-narasi kebencian yang dibuat sengaja atau tidak oleh orang-orang lain atau mungkin hal itu benar dari saya atau dia atau saya dan dia atau tetap dari orang-orang lain yang benci dengan saya dan dia atau salah satu dari saya dan dia atau justru dari orang-orang lain yang suka/baik terhadap saya dan dia atau salah satu saya dan dia. Seolah saya dan dia telah menjadi narasi yang begitu kompleks sehingga harus diulang-ulang saya dan dia hingga untuk menjelaskan dan mengurai kebenaran yang sesungguhnya antara saya dan dia saja hanya akan menjadikan narasi baru yang tidak pernah menyelesaikan segala hal sebelumnya antara saya dan dia. Untuk itu, sya meminta maaf, pada dia, pada kondisi yang mungkin memungkinkan orang lain ikut campur sadar atau tidak sadar sehingga pada akhirnya saya termasuk menjadi orang yang terlibat atau sekedar dilibatkan pada narasi-narasi tersebut dan untuk itu semua saya minta maaf. Lagi minta maaf. Untuk semuanya. Untuk apapun dan siapapun.
Entah kenapa, setelah bertemu, sekedar bertatap muka kemudian kenal satu sama lain entah siapapun itu, tiba-tiba saja rasa bersalah muncul, atau memang mungkin saya telah melakukan kesalahan telah begitu berani bertatap muka, mengenal dan dikenal, berbagi entah banyak atau sekelumit sehingga semua itu hanya memberikan saya kesempatan untuk berbuat salah, terlibat atau sekedar dilibatkan dalam sebuah kesalahan. Seakan pada semua hal tersebut, hanya akan menempatkan saya pada posisi bersalah. Ya..bersalah, dan mau tidak mau meminta maaf. M-a-a-f. Dengan cara biasa atau tidak biasa yang bahkan mungkin sampai tidak menyisakan kebebasan sedikitpun.
Maka, sebut saja saya salah, s-a-l-a-h, karena memilih atau tanpa memilihpun pada akhirnya atau sebelum akhirpun saya akan membuat, terlibat atau sekedar dilibatkan yang mungkin seringkali secara serampangan pada kesalahan. Dan saya meminta maaf, ya m-a-a-f, maaf untuk semuanya. Apapun itu dan siapapun itu. Karena sebelum saya mampu melakukan satu tanggungjawab dan kebebasan, saya sedang tidak bebas melakukan tanggungjawab dan kebebasan saya yang lain. Dan itu salah. S-a-l-a-h. Sehingga untuk itu saya minta maaf, m-a-a-f.
A note with KOC’s ‘riot on an empty street’ unintentionally repeated 5 times
Jogja-Surabaya 20-23 desember 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar