Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, April 29, 2011

Jimat Sero - Sebuah Cerpen dari Eka Kurniawan

Cerpen Eka Kurniawan (Suara Merdeka, 24 Januari 2010)

Saya baru selesai membaca cerpen ini dan saya rasa cerpen ini sangat menarik. Kebetulan sekali saya juga baru selesai membaca buku kumpulan cerpen Eka Kurniawan "Cinta Tak Ada Mati", tapi rasanya lebih memungkinkan memposting cerpen Eka yang pernah dimuat di Suara Merdeka ini karena memang tidak diambil dari buku. Semoga saja penulis berkenan. Jadi semoga posting ini bermanfaat bagi siapa saja yang sengaja/tidak sengaja ingin mengambil manfaat :). Sila membaca.



“KAMU masih sering dipukul orang?” tanya teman lamaku, waktu kami berjumpa di rumah nenek, lebaran lalu. “Ya, enggak, lah,” jawabku sambil nyengir.


Ia mengingatkanku pada masa kecil kami. Saat itu ibuku baru melahirkan adik, dan bapak menitipkanku ke rumah nenek di kampung. Di sekolah yang baru, hanya aku yang pakai sepatu dan hanya aku yang punya rautan pensil. Sial sekali memang. Dengan tubuh kecil, ringkih, hidung penuh ingus dan sering pilek, aku menjadi bulan-bulanan teman sekelas. Setiap hari mereka merampok uang jajanku.

Satu hari tiga anak memukuliku, karena aku sengaja tidak membawa uang jajan. Nenek mengetahuinya. Seharusnya Nenek mendatangi Kepala Sekolah dan mengadukan kelakuan anak-anak itu. Atau mengembalikan aku ke rumah ibuku, seperti keinginanku.

Rupanya Nenek punya cara sendiri. Sore hari ia membawaku ke sebuah gubuk di tepi mata air. Kelak aku mengetahui, pekerjaan pemilik gubuk itu memang menjaga mata air tersebut. Gubuk itu mungil saja, dengan asap mengepul dari celah atap sirapnya. Barangkali penghuni rumah sedang memasak di tungku dapur. Nenek mengetuk dan tak lama kemudian pintu terbuka.

Di depan kami berdiri seorang lelaki tua yang langsung mempersilakan Nenek duduk. “Enggak usah, aku cuma mampir sebentar,” kata Nenek sambil menoleh ke belakang lelaki tua itu. Di sana berdiri seorang anak lelaki, lebih tua dariku, memerhatikan kami dengan penasaran. “Kelas berapa anakmu, si Rohman itu?” tanya Nenek.

“Kelas empat,” si lelaki tua menjawab sambil menoleh ke anaknya dan berkata kepada anak itu, “Suruh emakmu bawa teh.”

Tapi Nenek buru-buru memberi isyarat Rohman agar tidak pergi, dan menyuruh mendekat. Rohman menghampiri Nenek, dan tanpa mempedulikan lelaki tua itu, Nenek berkata kepada Rohman:

“Dengar, mulai besok, kamu belajar di kelas dua dan duduk satu bangku dengan cucuku ini. Jika seseorang mengganggunya, kau boleh menghajar mereka sesuka kamu.”

Dengan kebingungan, Rohman menoleh ke ayahnya. Si lelaki tua hanya tersenyum, kemudian berkata, “Jangan khawatir. Besok ia akan duduk di kelas dua.”

Begitulah cara Nenek menyelesaikan persoalanku. Sejak saat itu, Rohman turun kelas dua tingkat. Hebat juga anak itu, sejak ia duduk sebangku denganku, tak seorang pun berani menggangguku lagi. Sepatuku terbebas dari injakan kaki-kaki dekil. Ah ya, kadang-kadang di luar sekolah, masih ada anak yang tak tahu apa-apa menggangguku, dan esok harinya, Rohman bisa menghajarnya hingga babak-belur.

Tapi tak lama setelah itu, Ayah mengambilku kembali dari rumah Nenek. Aku tak tahu apa yang terjadi. Ibu hanya pernah bercerita, aku menangis berhari-hari meminta pulang. Aku tak ingat apa yang membuatku menangis. Aku juga tak tahu apa yang terjadi dengan Rohman: apakah ia kembali melompat dua kelas sebagaimana mestinya, atau tetap meneruskan tingkatannya saat itu. Di sekolah yang baru, kadang-kadang ada yang mengganggu, tapi aku bisa mengatasinya. Di SMP, aku punya banyak teman dan tak ada yang mengganggu. Di SMA aku mengencani beberapa gadis cantik dan pintar, dan karena “gadis cantik yang pintar” jarang jadi rebutan, aku nyaris tak punya saingan. Aku masuk universitas dan jadi kutu buku. Aku bahkan nyaris lupa pernah punya teman sebangku bernama Rohman. Kini aku bertunangan dengan anak gadis bosku, Raisa, dan tak seorang pun berani mengusik hubungan kami.

Kemudian, lebaran lalu aku mengunjungi Nenek dan berjumpa dengan si Rohman ini, dan pertanyaannya sungguh konyol: “Kamu masih suka dipukuli orang?”

Kami berdua duduk di beranda dan berbagi segala hal yang kami tidak ketahui selama perpisahan itu. Rohman berkata, “Setiap kali pulang kampung, aku selalu menemui nenekmu hanya untuk tahu kabar tentangmu.” Aku hanya tersenyum dan menepuk lututnya. Lalu ia menambahkan, “Sampai sekarang aku masih sering kuatir, ada orang memukulimu.”

Aku tertawa dan kembali menepuk lututnya. “Enggak usah berlebihan begitu.”

Tapi dengan tatapan serius ia memandangku dan kembali berkata, “Di mana kamu sekarang tinggal? Aku akan memberimu sebuah jimat.”

“Jimat?”

“Jimat. Kamu bakal tahan pukul dan kebal senjata.”

***

JIMAT itu sekarang berada di tanganku. Namanya jimat sero. Kata Rohman, yang sengaja datang ke apartemenku, itu memang terbuat dari ekor sero. Rubah.

Karena tak tahu harus berbuat apa, aku bertanya apakah aku harus membayar? Berapa? Rohman hanya tertawa sambil menggeleng. Tidak, katanya, kamu tak perlu membayar sepeser pun. Ia memberikan jimat itu benar-benar karena ia mengkhawatirkanku. Ingat, katanya, dulu ia berjanji untuk menjagaku. Tapi ia tak mungkin menjagaku terus-menerus. Ia hanya bisa memberiku jimat itu.

Aku yang tak terbiasa memperoleh sesuatu secara cuma-cuma mencoba bertanya mengenai pekerjaannya. Barangkali ia punya anak, dan seperti kebiasaan orang desa, barangkali ia mencoba menitipkan anaknya untuk dimasukkan ke perusahaan tempatku bekerja, atau ke kantor-kantor kenalanaku. Tapi jelas ia tak membutuhkan apa pun. Ia sudah jadi juragan kopra di Banten selatan dan anaknya yang paling tua masih berumur sebelas tahun. Ia benar-benar tak membutuhkan apa pun dariku.

Setelah memaksanya menginap semalam dan mengajaknya berkeliling Jakarta untuk sekadar bersantai, ia akhirnya pulang.

Dan jimat itu bersamaku. Jimat sero.

Selama beberapa hari aku mencoba menghiraukannya, tapi semakin aku mencoba melupakan bahwa aku memiliki jimat, semakin aku mengingatnya. Jimat itu tebungkus dalam kantung kain katun kecil, dengan tali untuk mencantelkan, sebesar gelang tangan. Aku sudah memeriksanya, dan memang itu tampak seperti ekor binatang yang sudah kering. Tak ada tanda-tanda benda itu memiliki kesaktian apa pun. Bahkan aku ragu ia bisa melindungi dirinya sendiri.

“Kamu harus membawanya jika ingin merasakan keampuhan jimat ini. Masukkan ke saku celana sudah cukup,” begitu kata Rohman sebelum pergi.

Aku malah menggeletakkannya di meja, di samping komputerku.

Sampai kemudian terpikir olehku bahwa satu-satunya cara untuk meyakinkan apakah benda itu berguna atau tidak adalah dengan menjajalnya. Tapi sebelum itu tentu saja aku harus memastikan sesuatu. Sepuluh hari selepas kunjungan Rohman, aku meneleponnya.

“Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya,” kataku. “Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?”

Rohman tertawa dan menggeleng, “Tak ada yang perlu kamu risaukan.”

***

SEUMUR hidup aku tak pernah berkelahi. Tentu saja bukan berarti aku tak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Apa pun yang terjadi, aku selalu mencoba mengakhiri setiap perselisihan dengan siapa pun tanpa berkelahi. Teman-temanku bilang, aku pandai dalam hal membuat musuh menjadi teman. Tapi sejujurnya, ada kalanya aku harus menghindar. Lebih tepatnya, mengalah.

Saat pertama kali kupikirkan untuk mencoba jimat sero, aku langsung membayangkan beberapa orang yang menyebalkan, yang seharusnya kuhajar: sopir taksi yang pernah mengajakku berkeliling sambil berpura-pura tersesat, lalu memaksaku membayar dengan harga argometer yang melambung ke langit; preman kecil yang pernah menodongku di Tanah Abang, bertahun-tahun lalu ketika aku pertama kali datang ke Jakarta; dan barangkali seorang kolonel yang pernah aku lihat menabrak seorang perempuan tua di pinggir jalan, lalu pergi begitu saja seolah tak merasa bersalah.

Dengan sedikit was-was, kuambil jimat sero dari atas meja dan kutimang-timang sejenak di telapak tangan. Benarkah aku percaya omong-kosong mengenai jimat ini? Bukan hal yang aneh jika orang semacam Rohman bisa memiliki jimat, bahkan membuatnya. Aku tak tahu bagaimana seorang anak kecil tukang berkelahi menjelma seorang lelaki penuh klenik yang mampu menyediakan jimat. Tapi setelah kupikir-pikir, itu bukan hal yang aneh, sebenarnya.

Ayahnya, si tukang menjaga mata air, konon juga pemilik beragam ajian. Dan selama bertahun-tahun, ia merupakan orang kepercayaan Nenek dan Kakek. Ayah dan ibuku tak pernah menyinggung soal itu dan aku juga tak terlalu menaruh perhatian, tapi aku mengetahui hal itu.

Kumasukan jimat ke saku kiri celanaku. Itu tempat yang aman, sebab aku tak pernah menaruh apa pun di sana. Jimat itu tak akan jatuh secara tidak sengaja (misalnya karena aku mengambil uang receh atau telepon genggam). Dan untuk sejenak kucoba merasakan sekiranya ada tanda-tanda tertentu yang diberikan jimat itu kepadaku.

Tak ada apa-apa.

Rasanya aku jadi agak ragu-ragu. Benarkah ia membuatku kebal pukul dan senjata? Jangan-jangan jika aku mencobanya, aku malah babak-belur. Masih untung jika tidak langsung mati.

Aku bergidik dan kulirik pisau cukur.

“Tidak, kamu akan berdarah jika kamu lakukan sendiri. Jimat itu hanya bekerja jika seseorang memukulmu atau mencoba melukaimu dengan senjata.”

Tak ada cara lain untuk membuktikannya, pikirku. Setelah memikirkan hal itu selama beberapa saat, akhirnya aku pergi ke tempat kerjaku. Tak apa, toh sebenarnya tak ada keharusan untuk membuktikannya. Jika aku takut jimat itu ternyata tak bekerja sebagaimana yang dijanjikan, aku tak perlu berkelahi dengan siapa pun. Aku bisa melanjutkan hidupku sebagaimana biasa, sebagaimana hari-hari ketika jimat sero belum ada.

Umurku dua puluh sembilan tahun, dan aku baik-baik saja tanpa jimat sero. Dengan pikiran seperti itu, entah kenapa, aku tetap membawa jimat sero di saku celanaku.

***

AKU berjalan kaki ke apartemenku sambil menggigil. Aku tak tahu seberapa kusut diriku. Orang-orang melihatku dengan tatapan curiga. Aku tak peduli dan terus berjalan. Kulihat tanganku. Darah kering di mana-mana. Bahkan kemejaku juga berpelotan. Aku bisa melihat jemariku meregang satu sama lain dan aku tak yakin bisa menggerakkannya. Mereka bergerak sendiri. Ikut menggigil.

Terbayang olehku tubuh Nasrudin tersungkur ke pojok kamar mandi. Ada darah dari sudut bibirnya. Aku sangat senang melihat darah itu. Ternyata darah tidak semerah yang kubayangkan. Darah lebih gelap daripada merah. Merah itu warna bendera dan darah tidak berwarna seperti bendera. Darah lebih seperti warna kelopak mawar yang membusuk. Dan aku suka warna itu mengalir dari sudut bibir Nasrudin.

“Itu untuk mulut najismu,” kataku.

Aku membencinya sejak lama. Ia selalu mencari muka di depan bosku, dan selalu berupaya menjatuhkanku. Ia selalu punya cara untuk membantah gagasan-gagasanku, dan menjungkirkannya seolah-olah gagasanku merupakan gurauan orang bodoh. Aku tahu bosku termakan omongannya, tatapannya memandangku sedih. Hanya karena aku bertunangan dengan Raisa, tempatku di kantor tak tersentuh siapa pun. Meskipun begitu, sungguh, sesekali aku ingin menghajar Nasrudin.

Ingatan tersebut kembali membuatku menggigil.

Hari itu aku berhasil membuatnya marah dan aku menunggu apakah ia akan memukulku. Peristiwa itu terjadi di kamar mandi, setelah sebagian besar teman kerja kami pulang. Ia tidak memukulku, maka aku kembali memancingnya. Akhirnya ia menghampiriku, menyentuh pangkal kemejaku dan bertanya:

“Maumu apa?”

Aku meludahi mukanya.

Ia tercekat sejenak. Tentu saja ia tak akan percaya aku melakukan itu. Ia mengusap mukanya dengan lengan kemajanya, tanpa melepaskan genggamannya di pangkal kemejaku. Ia memandangku. Aku tersenyum mengejek. Ia masih memandangku. Kupandang kembali matanya. Itu saat-saat yang sangat menegangkan. Aku menunggu apa yang akan dilakukannya.

Lalu, bug, ia mengirimkan jotosannya ke rahangku. Aku terdorong beberapa langkah, tapi aku tak merasakan apa pun. Aku tersenyum dan menghampirinya.

Ia memukulku lagi. Aku tak merasakan pukulannya. Ia kembali memukul. Aku menerimanya bagaikan karung pasir. Ia memukuliku selama sekitar sepuluh menit, atau tiga puluh menit? Ia benar-benar kebingungan pukulannya tak berpengaruh apa-apa padaku. Hingga akhirnya aku melancarkan serangan balasan.

Satu pukulan mengirimnya ke samping pintu. Pukulan kedua membuat memar dahinya. Pukulan ketiga membuatnya terhuyung-huyung. Entah pukulan keberapa ia tersungkur di sudut kamar mandi dan darah mulai keluar dari ujung bibirnya.

“Ampun, ampun,” katanya.

Aku keluar dari kamar mandi. Aku tersenyum. Lalu tertawa. Lalu menggigil.

Aku masih menggigil tapi juga dilanda kesenangan ketika membuka kunci pintu apartemen. Ketika aku masuk ke dalam, aku merasa ada orang di dalam apartemenku. Tentu saja itu Raisa, pikirku. Raisa memiliki kunci apartemenku, dan ia bisa datang dan pergi sesuka hatinya. Kadang-kadang ia tidur di tempatku, dan saat-saat seperti itu tentu saja kami akan bercinta. Pagi hari ia akan pulang, kembali ke rumah orang tuanya.

Kunyalakan lampu dan kulihat Raisa di tempat tidur. Yang tidak biasa, ia di sana tidak sendirian. Ia bersama seorang lelaki. Aku hanya duduk di sofa, sambil memandang mereka melalui pintu kamar terbuka.

Aku mencopot sepatu, melepas kaus kaki. Kupandangi tanganku yang penuh noda darah. Kuintip kembali Raisa dengan lelaki itu. Kudengar desahan suara Raisa yang sangat kukenal.

Kemudian segalanya selesai.

Ia turun dari tempat tidur dan menghampiriku. “Hai, sudah pulang?” tanyanya. Suaranya kukenal baik. Rohman.

Aku tak menjawab. Aku tak tahu apakah aku tertidur atau tidak. Mungkin di antara itu.

***

KEMUDIAN aku teringat apa yang dulu membuatku menangis berhari-hari di rumah Nenek. Malam itu, aku melihat Nenek di atas tempat tidur bersama si penjaga mata air. Kakek hanya duduk di dipan rotan. Pemandangan itu menakutkanku, dan aku menangis sejak malam itu.

Entah bagaimana aku bisa melupakannya. Tapi malam ini, bertahun-tahun kemudian, aku mengingatnya. Tapi aku senang-senang saja. Aku senang melihat darah di tanganku. Aku senang melihat Raisa mandi keringat di tempat tidur. Aku senang melihat Rohman berjalan telanjang ke arahku. Terutama aku senang memiliki jimat sero di saku kiri celanaku. (*)

Kamis, Januari 13, 2011

Kisah Lelaki Penjual Mainan Dan Air Mata

Namaku Raet. Aku adalah salah satu warga negeri Doogya. Negeri yang tidak terlalu jauh dari negerimu. Sehari-hari aku berkeliling komplek rumah dari mulai komplek yang paling kumuh sampai yang paling mewah. Tapi mulai beberapa tahun lalu kuputuskan untuk berhenti menyambangi komplek mewah.

Kau mungkin akan maklum karena sebagai penjual mainan keliling rasanya susah sekali mendapat izin masuk komplek mewah seperti itu, sama seperti di negerimu bukan. Beberapa kali aku harus memotong uang labaku tidak hanya untuk rokok, tapi juga nasi bungkus untuk satpam yang aku sogok. Awalnya memang tidak memberikan masalah buatku karena tentu harga mainannya aku naikkan tapi masalah lain yang lebih penting untuk keberlangsungan karirku mengancam. Kau mungkin heran masalah apa yang mengancam pekerjaan remeh di negerimu itu yang dengan bangga di negeriku aku sebut karir. Aku akhirnya sadar ternyata lebih sulit membuat anak-anak kecil komplek mewah menangis.

Seperti yang sudah aku bilang tadi aku berhenti berkeliling di komplek mewah di Negeriku bukan karena ongkos sogok yang kadang tidak cukup hanya rokok tapi lebih karena susah sekali membuat anak-anak di sana menangis. Waktu kecil kau mungkin pernah menangis karena kau begitu menginginkan sebuah mainan yang dipajang tapi orang tuamu menolak untuk membelikannya. Jika orang tuamu miskin pasti akan bilang, “buat makan aja susah malah mau beli mainan, memangnya kau mau makan mainanmu?” Tapi jika orangtuamu kaya tapi pelit, mereka mungkin akan bilang, “Kemaren kan baru aja beli mainan (padahal sudah beberapa bulan lalu), nanti kalo bosen pasti dibiarin.” Mungkin mereka baru mau membelikan jika anaknya mau memakan mainannya setelah bosan. Maka terpujilah bagi orangtua seperti mereka jika di Negeriku karena dengan begitu aku bisa membuat anak mereka menangis. Dan jika tangisannya semakin keras dan begitu lama bahkan sampai membuat anak mereka berhalusinasi pada mainan yang mereka inginkan maka bukan hanya laba tapi sebuah prestasi tersendiri buatku demi berlangsungnya kehidupan umat manusia di negeriku Doogya.

Kau tak perlu heran apa hubungannya menjual mainan dengan anak kecil yang menangis bisa menjadi laba dan prestasi. Apalagi dengan membawa-bawa keberlangsungan umat manusia di negeriku karena semuanya akan kuceritakan setelah ini. Oya aku hampir lupa sebelumnya. Kau pasti dari negeri yang korupsi dan kejahatan begitu subur sehingga terlalu banyak orang sedih bahkan akhirnya banyak anak-anak menangis histeris karena orangtuanya sibuk dengan kesedihannya dan tak lagi peduli dengan anaknya. Kau harus bersyukur pada koruptor-koruptor dan orang-orang jahat di negerimu. Di negeriku, Doogya, hampir semua orang sudah baik pada yang lain kecuali masih menyisakan sangat sedikit orang jahat, seperti satpam komplek mewah yang biasa aku sogok atau diriku sendiri tentu.

Kau tahu kenapa harus bersyukur telah tinggal di Negerimu? Kau tahu, di negeriku sekarang umat manusia terancam punah karena sudah tidak ada kebencian. Yang ada saling sayang satu sama lain. Itu membuat manusia di Doogya tidak mempunyai beban pikiran dan tentram. Karena minimnya beban pikiran, mereka jadi jarang berpikir. Kau tau apa yang terjadi jika manusia jarang berpikir, mereka melakukan apa saja tanpa pertimbangan apapun. Lalu jika mereka sudah tanpa pertimbangan tentu saja mereka jadi ikhlas itu sebabnya tidak ada kebencian diantara mereka. Dan akhir dari semua itu tentu kebahagiaan tak terkira. Kalau manusia sudah bahagia di Doogya lalu buat apa surga.

Aku, salah satu manusia Doogya yang masih berpikir, tentu saja ingin mengembalikan konsep surga. Itu sebabnya aku berusaha membuat anak kecil menangis. Karena ketika mereka menangis bahkan sampai lupa cara meringis akan membawa efek traumatis. Ketika mereka besar, mereka akan berusaha menjadi orang yang bisa mendapatkan segalanya yang mereka inginkan. Tak peduli jika harus saudara mereka yang dikorbankan. Semakin banyak yang seperti itu maka kelangsungan Doogya dan konsep surga bisa dipertahankan.

Kau harus tahu juga di Doogya dari semua komplek yang ada hanya tinggal satu yang kumuh. Inilah mereka yang menjaga ketidakberaturan Negeri dan konsep surga. Itu sebabnya sangat mudah membuat anak-anak mereka menangis. Kau mungkin akan bilang cubit atau pukul saja biar menangis. Kalau yang seperti itu mereka sudah sering mendapatkan dari orangtuanya sendiri. Mereka harus menangis karena tersiksa oleh kegagalan mendapatkan apa yang sangat mereka inginkan. Kau mungkin baru tahu keinginan anak kecil melebihi keinginan seorang dewasa menginginkan tidur bersama setelah bertahun-tahun di penjara. Kau jangan tertawa. Ini masalah serius.

Kau sekarang pasti mulai bangga karena negerimu masih punya mimpi pada surga. Lihat saja angka kemiskinan yang semakin naik. Aku saja iri melihat semakin banyaknya komplek kumuh dan ala kadarnya di Negerimu. Di sini yang tinggal satu itu saja mungkin sewaktu-waktu berubah jadi mewah seperti yang lainnya. Itu jika semakin banyak orang terpengaruh untuk memenuhi kebutuhan anak mereka.

Kau tahu satpam yang bekerja di komplek mewah yang biasa aku sogok dulu adalah mereka yang tinggal di komplek kumuh. Dengan waktu yang lama untuk bekerja di sana serta gaji yang melimpah mereka semakin malas untuk berpikir sogok yang cuma rokok atau nasi bungkus. Mereka semakin menikmati bekerja dan membawa aura ikhlas ke rumah mereka. Mereka menebar senyum bahagia. Mereka jadi lupa dengan apa yang disebut surga. Mungkin bukan lupa sepenuhya tapi aku yakin sebentar lagi Doogya mungkin akan menjadi Soorga, sedikit mirip dengan surga, yang jelas berarti tempat bahagia. Karena kalian tahu sekarang yang aku sebut komplek kumuh pun tinggal satu rumah. Dan itu rumahku. Tinggal aku istri dan anakku.

Ahh..kau sekarang mungkin tidak hanya bangga tapi sudah membuat perayaan dan syukuran di mana-mana. Kau akan mengundang para koruptor dan teman-temannya, mungkin kau sendiri juga. Kalian akan membuat sumpah untuk meningkatkan kinerja kejahatan kalian di masing-masing sektor yang kalian kuasai. Kalian kemudian lupa dengan duka lara memikirkan kejahatan di negeri kalian. Kalian..ya kalian akan mengampanyekan kejahatan di setiap sudut negeri kalian sampai semua terlaksana. Tapi pada akhirnya mungkin akan ada salah satu dari kalian yang seperti aku tapi melawan kejahatan yang mewabah dimana-mana karena dia ingin menjaga konsep neraka meski tak harus menjual mainan tentunya. Dia tak ingin nantinya kalian tak takut lagi pada neraka seperti aku yang tak ingin warga Doogya merasa biasa saja pada surga karena sudah punya Soorga.

11 Januari 2011 20:47



Rabu, Desember 29, 2010

Hujan Akhir Desember

Antara Malang dan Surabaya, Sore hari mendekati maghrib
“Seperti yang sudah-sudah, hujan selalu turun dari atas ke bawah,” kubilang seperti itu dan kau menatapku seolah ada yang baru dari ucapanku. Sesekali aku hisap rokok. Kita berdua, waktu itu sedang duduk menunggu hujan deras reda di depan satu toko yang sudah tutup entah di mana di antara Malang dan Surabaya. “Coba kau perhatikan,” kataku.
“Benarkah hujan memang turun dari langit? Kita sendiri tidak pernah berada di langit tapi sangat yakin hujan memang dari langit.”
Kau pun tersenyum, seyum termanis yang pernah kamu punya. “Hanya karena yang terlihat di atas langit, tak berarti di atas langit tak ada sungai atau sejenisnya yang sewaktu-waktu mengalirkan airnya ke bumi dan melewati langit yang jelas tampak di mata kita.” Kau diam dan memandang ke atas seolah ingin membuktikan benarkah ada sungai yang semacam itu di atas langit.

Tiga jam sebelumnya di Blitar
“Menurutmu apakah Soekarno akan senang kalau tahu aku bawa kamu ke sini tanpa izin dari orang tua kamu?” Kamu terus berdoa di depan makam itu, tapi aku tahu kau mendengar. “Atau mugkin Soekarno malah bertanya, jangan tanyakan apa yang sudah diberikan orangtuamu padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan pada orangtuamu.” Kau tertawa lepas, sangat lepas, tak pernah selepas itu, tapi matamu tidak, benakmu juga, mata dan benakmu tak pernah lepas. Rasanya terlalu berat apa yang kita hadapi, ah..tidak, hanya kamu yang menghadapinya.

Pagi hari, Subuh tepatnya.
“Jadi berangkat?” Kau mengangguk. “Sudah bilang ke mama?” kau menggeleng. “kalau nanti aku dituduh menculik?” Kau mulai memakai helm dan ransel lalu tersenyum, seolah mengatakan semua akan baik-baik saja. “Ya, mungkin. Semoga semua baik-baik saja,” kataku. Dan kita pun berangkat dengan motor jelekku.
***
Subuh di depan rumah.
Seperti yang sudah kita sepakati, kau pun datang dengan motor jelekmu, tapi aku suka. Ditambah helm yang tak kalah jelek menjadikan kombinasi jelek yag tak pernah mengurangi sukaku dengan kalian bertiga; kamu, motor dan helm jelekmu. Bagaimanapun juga dua benda rosokan itulah yang selalu setia mengantarmu menuju diriku. Aku bahkan tak tau apa yang bisa kulihat darimu kecuali ambigu. Kadang kau lucu, kadang kaku, tapi yang pasti kau peragu. Masih saja kau tanyakan kita jadi pergi atau tidak sedang kau sendiri sudah ada di depanku. Harusnya kau tak perlu datang jika ragu. Semudah itu harusnya kau tahu.

Aku tak tahu kenapa aku harus suka kepadamu. Jelas-jelas aku tahu kamu sendiri tak pernah menunjukkkan kamu cinta aku. Bukan apa-apa, penting buat perempuan tahu apakah seorang laki-laki benar-benar cinta padanya sebelum memutuskan menyerahkan waktu untuk belajar mencintai laki-laki itu. Itu sebabnya status penting buat mereka, bagiku juga mungkin, sebelum bertemu denganmu.

Siang hari di makam Ir. Soekarno.
Akhirnya kita sampai di makam. Aku begitu senang meski aku tak bisa menunjukkannya padamu. Entahlah, mungkin karena masih ada hal lain yang tidak bisa begitu dengan mudah dikesampingkan.

Ah..yang jelas aku sangat nyaman. Datang ke tempat ini pertama kali setelah beberapa kali selalu gagal meski sudah sampai di kota ini. Dari tadi aku perhatikan sejak pertama sampai hingga sekarang kau selalu bicara. Bahkan kau sendiri tahu aku sedang berdoa di depan makam. Seolah kita bertukar peran. Tiba-tiba kau banyak omong sampai-sampai kau buat aku tertawa di tengah doa.

Aku tahu, ini bukan pertama kalinya aku tertawa lepas. Aku rasa aku sering tertawa seperti ini, tapi biasanya itu aku lakukan untuk membuat kamu yang jarang mau tertawa bisa ikut tertawa juga. Sekarang justru kamu yang sepertinya sedang melakukan apa yang biasa aku lakukan. Ternyata kita tidak kompak sama sekali. Ah..aku rasa tidak, aku rasa kita justru sangat kompak. Buktinya kita kompak berganti peran.

Sesaat sebelum maghrib di Lawang.
Hujan tiba-tiba turun deras sekali seakan langit tak keburu lagi jika menunggu besok. Langsung saja kau pinggirkan motormu di satu toko yang sudah tutup. Sambil menunggu hujan reda, kau terus bicara. Aku dengar kau bertanya mungkinkah di atas langit sana ada semacam sungai. Aku hanya diam dan sesaat setelah itu kulihat langit mulai mengurangi tetesan airnya. Aku seolah bingung bukan karena mungkin ada sungai di atas langit seperti yang kau bilang, tapi mungkinkah besok masih sempat aku lihat hujan seperti ini lagi dengan kau di sampingku.

Surabaya, sesampainya di rumah.
Rasanya aku belum ingin turun dari motor jelekmu, tapi ternyata kau sudah memgang helm jelek yang tadi aku pakai dan aku pun sudah berdiri di depanmu sambil melihat kau senyum dan masih duduk di motormu. Aku sangat ingin menciummu dan saat itu juga aku bungkukkan sedikit punggungku. Gerimis masih sedikit turun dari sisa hujan sepanjang jalan tadi. Aku bisa merasakan bulir air yang menyela diantara bibirku dan bibirmu. Hmm..aku harus segera masuk rumah. Bukan, bukan karena jam 8 sudah terlalu malam, tapi besok pagi sekali aku sudah harus siap untuk acara lamaranku yang aku tak pernah tahu bagaimana harus mengatakannya padamu. Ah..harusnya aku bersyukur betapa bahagianya menjadi diriku. Aku bahkan tak perlu susah-susah memilih siapa yang akan jadi pendampingku karena mamaku dengan kasih sayangnya yang begitu luar biasa rela melakukannya untukku.
****
Pagi ini hujan turun lebat. Rasanya seperti kemarin sore di depan toko antara Malang dan Surabaya. Dari tadi malam sendiri aku belum tidur. Beberapa kali aku melihat handphone, berharap kau mengirim pesan untukku. Aku ingin mendahului menelphonmu tapi mungkin kau terlalu capek karena satu pesan pun tak sempat kau kirimkan. Atau mungkin semalam kau sibuk mengingat-ingat akhirnya kau bisa berkunjung ke makam panutanmu sehingga kau lupa sekedar menyapaku lewat sebuah pesan pendek. Ah..mungkin aku yang aneh. Bukankah selama ini kita jarang berkomunikasi lewat handphone. Kita lebih suka bertemu, meski kadang sekedar duduk lalu kau berbicara banyak sekali dan aku hanya diam mendengarkan sambil sesekali ikut tertawa. Tapi apa salahnya jika sekali saja kau kirim pesan meski aku memang jarang membalas pesanmu.

Akhirnya ada bunyi dari handphoneku. Mungkin itu kamu. Mungkin kau mau bilang maaf karena semalam tidak sempat mengirim pesan untukku. Atau kau mungkin mau bilang aku pasti sedang di balkon depan kamar kosku sama sepertimu yang sedang di balkon depan kamarmu melihat hujan yang turun deras seperti kemarin di antara Malang dan Surabaya. Ahh..rupanya bukan pesan darimu, tapi dari ica, sahabat karibmu di kuliah dulu yang sama sekali tidak akrab denganku. Tumben sekali pikirku. Dia bilang mohon doa dan semoga Tuhan menerimamu di sisiNya. Sekitar satu jam setelah pesan itu, sesaat setelah hujan tinggal menyisakan gerimis, beberapa kali handphoneku berbunyi. Mungkin sudah belasan pesan tapi kuabaikan karena kurasa bukan Tuhan yang sekarang di sisimu, tapi Aku. Ya, kamu tidak kemana-mana. Kamu sekarang di sampingku. Kita berdua sedang duduk di balkon di depan kamarku menikmati gerimis yang mungkin sebentar lagi akan berhenti menutup tahun ini.

Desember, 2010

A.S. Ibrohimi. Surabaya, Desember 2010

Selasa, Desember 28, 2010

Indekos - Sebuah Cerpen

Namaku diah, aku salah satu mahasiswi sebuah PTN bergengsi di Surabaya. Aku mahasiswi perantauan dari Bontang. dan seperti kebanyakan mahasiswi perantauan lainnya, aku memilih kos sebagai tempat tinggal selama menempuh studiku.

Seperti banyak kos di sekitar kampus, rata-rata kos-kosan di sini dihuni banyak mahasiswa, meskipun sebagian juga sudah bekerja. Mereka yang bekerja pun sebenarnya rata-rata adalah dulunya mahasiswa kampus dekat kos. Mungkin mereka sudah terlalu betah atau sebenarnya hanya ingin mempertahankan harga lama pembayaran kos dari sejak pertama mereka kuliah.
Kos-kosanku sendiri ada enam kamar, tiga kamar di atas dan tiga kamar di bawah. Tentu saja ada dua kamar mandi, kebetulan dua-duanya di bawah dan tepat di depan kamarku. Paling tidak aku bisa gampang kalau mau mandi. Tidak perlu naik turun tangga, karena aku punya pengalaman buruk dengan ketinggian.
Seperti yang sudah aku bilang tadi, kamarku tepat di depan kamar mandi. Dan itu berarti yang paling kiri di lantai bawah. Di samping kamarku, kamar tengah lantai bawah, dihuni seorang mahasiswa Science yang kalau diperhatikan dari pakaiannya adalah mahasiwa yang mengikuti kerohanian islam di kampus. Seringkali dia keluar pagi sekitar jam sembilan dan hampir selalu pulang ke kos jam satu pagi, mungkin karena sibuk dengan kegiatan organisasinya itu. Hampir selalu seperti itu. Kau mungkin bertanya bagaimana aku tahu. Sangat mudah karena aku paling tidak bisa tidur ada suara pintu dibuka atau ditutup karena aku pasti terbangun. Oh iya aku hampir lupa memberitahu. Semua pintu kecuali kamarku jika dibuka hampir pasti megeluarkan suara yang keras. Seperti yang kau sering dapati pada pintu yang sudah harus diganti engselnya. Ah..iya, aku juga belum memberitahukan nama mahasiswa di samping kamarku. Namanya khoir, entahlah nama lengkapnya, karena aku sendiri tidak pernah langsung berkenalan. Yang jelas satu kali aku pernah dengar dia ngobrol dengan Adi, penghuni kamar atas tepat di atas kamarku. Dia bilang waktu itu, ‘Aku Khoir mas, Khoir itu artinya baik. Mas sendiri siapa namanya?’ “Ara..”, “Ara??” “Iya, Ara..nama lengkapku sebenarnya Asmara, mungkin orang tuaku dulu tahu bahwa nantinya aku punya banyak kisah asmara haha.” “bisa aja mas.”

Iya bisa aja. Itulah Adi, setahuku dia memang bernama Adi bukan Asmara, tapi karena dia memang selalu “bisa aja”, dia selalu memperkenalkan dirinya dengan nama Asmara. Mungkin karena dia selalu berusaha menutupi siapa sebenarnya dia. Kau mungkin bingung bagaimana aku bisa tahu bahwa namanya Adi, bukan Asmara. Mudah saja, atau mungkin tepatnya tidak sengaja karena kartu kerjanya yang mirip kartu ATM itu jatuh bersama barang-barang yang lain dari tasnya ketika dia lewat depan kamarku untuk berangkat kerja pagi. Sepertinya dia bingung setelah kehilangan kartu tersebut karena sorenya pulang dari kerja dia seperti sedang mencari-cari kartunya yang bertulis cukup besar ADI KAOHENA dan dibawah tulisan tersebut tertulis lebih kecil SALESMAN. Dia sepertinya merasa kartunya jatuh di depan kamarku, tapi tak berani mengetuk pintu untuk bertanya. Yang aku tahu tentang Adi selain sebagai salesman dan selalu mengaku sebagai Asmara adalah selalu ramah pada semua penghuni kos kecuali padaku, mungkin itulah kenapa dia jadi sales. Dari semua penghuni, Adi paling ramah atau tepatnya berusaha akrab dengan mahasiswa samping kamarnya, mahasiswa sastra yang kamarnya tepat di atas kamar Khoir. Bukan apa-apa, ini mungkin jadi alasan kenapa Adi mengenalkan dirinya sebagai Asmara.

Mahasiswa inilah Asmara sebenarnya, bukan, nama aslinya bukan asmara, tapi Langit. Langit inilah yang benar mempunyai banyak kisah asmara seperti yang dicita-citakan Adi. Entahlah bisa disebut asmara atau tidak, yang jelas di kamarnya hampir tiap dinihari setengah jam atau satu jam setelah Khoir balik ke kos, akan selalu ada lenguhan-lenguhan berbeda di tiap malamya. Aku tak tahu apakah dia menyewa tapi sepertinya tidak karena menurutku dia bukan tipikal mahasiswa kaya. Meski kulitnya cukup bersih, tidak terlalu tampan tapi seperti biru langit, Langit dianugrahi raut muka yang sendu serupa biru jika diibaratkan warna. Seakan ada keresahan lama yang dia simpan sehingga perempuan seakan terpicu memburu cumbu. Bukankah perempuan memang suka dengan laki-laki yang pernah gagal karena dikhianati. Seakan ada keagungan dari keputusannya menjaga kesetiaan meski dia sebenarnya mampu mendapatkan wanita lain untuk dicumbu. Serupa pemain sepakbola yang menangis karena gagal di final piala dunia. Perempuan akan sangat mau menjadi penghibur dukanya. Ah.. mungkin aku tidak sepenuhnya benar juga, Langit bisa jadi sangat sederhana. Dia mungkin hanya sekedar ingin bertukar peluh tanpa peduli ada keagungan atau tidak dari raut sendunya. Sederhana sekali. Dia mungkin juga tak terlalu peduli bahwa Adi begitu menginginkan seperti dia di tiap dinihari atau bahwa Khoir sangat terganggu bunyi ranjang dan lenguh perempuan-perempuan yang ia tunggangi meski dibalik lenguhan terdengar sahutan Thom Yorke dengan Motion Picture Soundtrack yang sengaja dia putar namun liriknya juga tidak terlalu membantu mengurangi kebecian Khoir. Bisa jadi memang Langit cukup sesederhana ritual Motion Picture Soundtrack nya. Sekarang lagi-lagi kau mungin akan bertanya bagaimana aku tahu Khoir sangat membenci ritual Motion Picture Soundtrack sangat mengganggu Khoir. Aku tidak akan bilang mudah tapi mungkin sederhana saja. Waktu khoir sedang menunggu giliran mandi, kamar mandi yang biasa dia tempati baru saja selesai di pakai Agus. “Loh ir, belum tidur?” “Belum mas, kayaknya yang diatas kesurupan.” “Oalah..memang agak gila anak itu.”

Mungkin memang Agus tak segila Langit dalam hal menuggangi. Agus memang tidak pernah terpikir untuk menunggangi istrinya sambil memutar lagu yang ia anggap aneh seperti ocehan setan. Meski sebenarnya dia tahu hal yang lebih mengganggu adalah lenguhan-lenguhan yang berbeda tiap diniharinya tapi sama renyahnya dari kamar Langit. Bukan, bukan lenguhan-lenguhan itu menggangu karena tidak enak didengarkan sama seperti lagu yang diputar, tapi sangat mengganggu karena dia tahu istrinya yang kadang-kadang mengunjunginya tak pernah memberinya lenguh serenyah lenguhan-lenguhan dari kamar Langit. Aku tak tahu apakah istrinya malu melenguh karena melakukannya di kos-kosan, tapi sepertinya memang istrinya tak menunjukkan gairah sama sekali. Entahlah persisnya. Aku hanya menduga. Paling tidak Agus dan Khoir sama-sama terganggu meski dengan perasaan yang sama sekali berbeda. Agus yang berangkat kerja agak siang harus cepat-cepat kembali ke kos sebelum dinihari jika ingin menunggangi istrinya tanpa perasaan iri dan kehilangan moodnya. Maka sejauh ini memang semua penghuni kos seakan tertarik dalam gravitasi kamar Langit dengan ritual Motion Picture Soundtrack nya kecuali satu orang, Sulur.

Sulur, dulunya mahasiswa sama seperti Adi dan Agus. Sekarang dia sudah bekerja, sebagai penjaga toko buku yang cukup besar yang di tiap kota besar ada beberapa. Ya dia memang tidak menginginkan berhenti pada pekerjaanya sekarang. Tapi demi menunggu sampai ada pekerjaan yang dia inginkan, Apoteker, terdengar sama mungkin hanya beda yang dijaga. Meski menjadi penjaga toko buku sementara, dia tidak setengah hati mengerjakannya. Pagi dia sudah berada di tempat kerja membersihkan dan menata buku-buku baru atau buku lama yang harus dipindah dan sore sekitar jam enam dia sudah pulang sampai satu jam berikutnya dia sudah akan tidur. Dan hampir setiap hari seperti itu. Maka sangat wajar jika gravitasi Motion Picture Soundtrack Langit tak mampu mencapai Sulur dan kamarnya. Satu-satunya orang yang terhubung denga Sulur adalah Langit tapi tanpa ritualnya. Tentu saja ketika Langit meliburkan ritual dan menunggu Sulur bangun untuk memesan buku yang sulur tak pernah peduli kecuali uang yang dia dapat dari potongan buku, itupun jika Langit jadi memesan. Aku, aku sendiri sangat ingin memesan buku entah apa asal tidak berhubungan dengan ketinggian dan bisa dibaca dengan nalar yang pas-pasan ini tapi aku malu. Aku selalu malu untuk mencoba menyapa Sulur, mecoba basa-basi sedikit kemudian memesan buku apalah namanya tentunya.

Oh iya, aku sekarang tidak sendiri di kamar. Ada Agung, mahasiswa kedokteran, sepertinya akan benar-benar jadi dokter. Aku awalnya kaget bagaimana mungkin Ibu kosku megijinkan Agung sekamar denganku. Tapi satu hari aku tahu ternyata pintu kamarku juga butuh diganti engselnya. Yang aku ingat, Adi waktu itu mengetuk pintu setelah beberapa hari sebelumnya tak berani. “Eh bro, sorry ya ganggu, ada kartu kayak KTM ato ATM gak di sini pas kamu masuk kemarin?” “Oh..yang ini mas?” “Oh iya..ternyata beneran jatuh terus masuk kamar ini, thanks ya bro. Akhirnya ada yang nempatin kamar ini, katanya dulu yang nempatin cewek soalnya dulu kos-kosan cewek, anaknya jatuh dari atas kepleset habis jemur pakaian. Tapi santai saja selama ini gak ada apa-apa kok.. oh iya aku Ara” “Ara?” “Iya, Asmara, mungkin orang tuaku dulu tahu bahwa nantinya aku punya banyak kisah asmara haha.” “Bisa aja mas, Agung Sasmito, panggil saja Agung.”

Surabaya, 27 Desember 2010


Minggu, Desember 19, 2010

Akhir Musim - Sebuah Cerpen dari Sunlie Tentang Hujan

Hanya beberapa saat tadi, sebelum memutuskan untuk tidur tiba-tiba secara tidak sengaja saya menemukan cerpen 'Akhir Musim' oleh Sunlie Thomas Alexander yang saya agak kaget karena suasananya sedikit mirip dengan cerpen yang saya buat tapi belum pernah berani untuk saya publikasikan di blog kumuh saya (ya, mungkin lain kali). Ya tapi tentu saja cerpen saya masih bukan apa-apa dibanding cerpen seorang Sunlie. Berikut cerpennya, silahkan membaca jika berkenan. Satu hal lagi tentang hujan hhe.
-***-

Aku simpan janjimu dalam setiap pagiku, setiap malamku. Suatu saat nanti aku akan menagih dan kau tidak boleh kaget lantas bilang tidak.

SUNGGUH-SUNGGUHKAH aku berjanji? Atau hanya terlampau takut membuatmu kecewa? Gerimis akhir musim tiba-tiba membesar disertai deru angin yang menjadi liar serupa kelebat bayangmu dalam kepalaku. Aku urung beranjak dari teras warung tempat aku baru saja menghabiskan semangkok mie ayam sambil berbalas SMS denganmu. Kurapatkan jaketku sekadar mengurangi rasa dingin yang merasuki pori-pori. Tetapi, seolah ada yang lebih dingin lagi merayap dalam dadaku.

Suatu hari nanti aku akan mengunjungimu di kotamu. Sepuluh menit lalu balasan pesanku padamu itu muncul di layar ponselku sebagai huruf-huruf yang gemetar untuk menjawab pertanyaanmu kapan kita akan bertemu lagi setelah sekian lama. Larik-larik air yang jatuh dari atap warung membentuk semacam tirai di hadapanku, dan seorang gadis manis berlari menembusnya. Gadis itu merapat ke sisi kiriku dengan tubuh menggigil. Seluruh pakaiannya basah kuyup. Ada sisa parfum cukup tajam yang menguap dari tubuhnya yang sintal, dan lagi-lagi mengingatkanku padamu. Bukankah serupa benar dengan bau parfummu? Entahlah, segalanya seolah bersatu padu melekatkan bayangmu pada benakku. Segalanya: malam yang miris, hujan menderas, bau parfum, bahkan seekor nyamuk yang hinggap di pipi mulus gadis itu. Gerakannya menepis begitu mirip dengan gayamu mengusir nyamuk yang juga hinggap di pipimu ketika itu. Di pinggir Sungai Siak pada sore terakhir pertemuan kita setahun silam. Waktu itu juga hujan, dan kita berteduh di teras sebuah warung kopi di tepi sungai.

Kerinduan memang selalu datang begitu saja. Seperti hari ini, aku baru bangun dari tidur sore yang nyenyak ketika menemukan rintik-rintik gerimis di luar jendela. Dan seperti yang sering terjadi, tentunya aku segera teringat padamu. Aku merasa begitu kangen padamu, dan entahlah, tiba-tiba merasa ingin sekali makan mie ayam kesukaanmu. Aku pun buru-buru menyambar jaket dan berlari ke luar rumah, menerobos gerimis yang melebar, menuju warung di ujung jalan.

Ah, bukankah kamu begitu menyukai hujan? Kamu pernah membisikiku kalau kamu menganggap lelaki itu seperti hujan. Aku hanya tertawa waktu itu, walau tidak tahu apa dalihmu.

Aku merasa kamu seolah-olah ada di sisiku, dan kita berdua sedang termangu menatap hujan yang berkejaran di jalan. Bau parfummu yang khas lagi-lagi menyengat penciumanku. Aku menoleh ke samping. Gadis manis itu tampak gelisah, berkali-kali ia melirik jam tangannya. Apakah ia tengah menunggu seorang laki-laki yang berjanji padanya? Gadis itu tiba-tiba berpaling padaku. Mata kami bertemu. Ia tersenyum dan aku membalas dengan kikuk. Ia ternyata punya lesung pipit kiri-kanan sepertimu...

Mungkin seharusnya aku memang tidak berjanji. Tapi sambil makan, tanpa sadar aku meraih ponsel di kantong celana. Aku baru saja hendak mengetik pesan untukmu, ketika ponsel dalam genggamanku itu berdering nyaring. Dan aku terlonjak girang mendapati sebuah pesan darimu masuk: Apa kabar, Say? I miss U.

Hujan turun semakin deras. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Jalanan melengang. Aspal tampak berkilau di bawah siraman larik-larik hujan, memantulkan cahaya lelampuan toko-toko dan satu-dua mobil yang melintas mencipratkan air. Sejumlah orang mengeluh.

Ai, hujan tiba-tiba menjadi getir di mataku, suara curahannya terdengar seperti sebuah konser sedih.

***

TAK lama lagi aku menikah. Aku akan segera memasuki sebuah kehidupan yang lain, dan menemukan diri berada dalam sebuah kotak bersama orang lain, bukan dirimu. Barangkali kamu hanya akan menertawakan kecemasan yang tiba-tiba menyergapku, atau justru merasa bersedih untukku, pikirku menduga-duga sambil mulai mengetik sebuah pesan untukmu.

Tentu, aku hanya bisa menerka-nerka saja bagaimana perasaanmu bila hingga saat ini kamu belum juga membalas SMS terakhirku dua malam lalu. Adakah kamu marah lantaran cemburu, sebagaimana yang sering aku rasakan setiap kali kamu bercerita tentang seseorang itu, lelaki yang mengisi hidupmu dengan bunga-bunga dan membuahi rahimmu, atau tentang anak-anak buah rahimmu itu, yang begitu lucu dan manis. Mungkin kamu sengaja tidak membalas pesanku agar aku tahu kalau kamu marah. Tapi bisa jadi kamu cuma kehabisan pulsa. Ah...!

Hujan masih turun rintik-rintik di luar jendela kamarku. Apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Apakah kamu juga sedang termangu di depan jendela kamarmu dengan gorden yang bergerak-gerak dipermainkan angin, memandangi larik-larik hujan yang singgah di luar jendela itu sambil menggigit bibir? Kamu pernah mengatakan jika setiap kali hujan turun di kotamu, kamu selalu teringat padaku dan membayangkan aku ada di sampingmu. Karenanya, kamu selalu berlama-lama memandangi hujan tercurah dari langit. Terkadang kamu mengirimiku pesan: Apakah hujan juga sedang turun di kotamu? Dan sering kali aku berbohong kalau aku juga sedang menikmati hujan sepertimu, sekedar untuk menyenangkanmu (Atau mungkin menyenangkan hatiku sendiri? Entahlah). Aku merasa cemburu membayangkan kamu sedang dicumbui seseorang itu. Bukankah hujan adalah waktu yang teramat indah buat bercumbu?

Kau seperti hujan yang datang membasahi, membuat pepohonan dan rerumputan meruap segar di hatiku, dan ketika pergi meninggalkan aroma tanah yang gembur. Gerutumu suatu saat. Barangkali sejak itulah, aku mulai menyukai hujan dan betah menikmatinya berlama-lama. Sebab aku merasa menemukan dirimu... Ketika aku mengatakannya padamu, kamu terdengar begitu girang.

"Bagaimana kalau kita mendirikan Paguyuban Pecinta Hujan? Mungkin banyak orang yang juga mencintai hujan seperti kita dan mereka boleh bergabung," olokku suatu hari yang membuatmu tertawa nyaring di ponsel.

***

HUJAN akhir musim turun lagi membasahi ingatanku padamu. Ingin sekali aku meraih ponselku dan mengirimkan sebuah pesan untukmu sebagaimana biasanya. Sekadar mengabarkan bahwa hujan lagi turun di kotaku dan aku rindu sekali padamu. Atau mengirimkan kalimat "Selamat Berbahagia" untukmu? Ah, justru pikiran untuk mengucapkan "selamat" inilah yang selalu saja mengurungku niatku untuk menghubungimu. Sekiranya saja kau tahu, kalau kabarmu sungguh-sungguh membuatku sakit. Betapa aku tak sanggup harus membayangkan akan segera ada seseorang yang setia di sampingmu. Sedang aku mungkin akan tinggal bayang-bayang yang jauh, seperti langit sering tampak jauh pada musim kemarau, yang akan datang sebentar lagi. Apakah nanti kita akan tetap saling berkirim pesan dan sesekali saling menelepon? Tentunya secara diam-diam, seperti yang selama ini selalu kulakukan.

Apakah saat ini kamu sedang menatap hujan sepertiku? Kau pasti kian gelisah karena tak juga mendapatkan balasan SMS-ku. Aku tahu, kalau kini kau mulai menyukai hujan juga seperti aku.

Andaikan saja kau tahu, kalau sebenarnya aku menyukai hujan semenjak bertemu denganmu pada malam acara sastra yang basah itu dan betapa dulu aku pernah begitu membenci hujan. Selama bertahun-tahun, kenanganku tentang hujan adalah kenangan seorang gadis cilik yang malang. Seorang gadis cilik dengan air mata melekat basah di kaca jendela yang tertutup rapat, seakan air mata itu hendak menyatu dengan hujan yang tercurah deras di halaman. Gadis cilik berkepang dua dengan sepasang mata bulat bening yang penuh rasa iri dan dengki menatap ke luar jendela, di mana anak-anak lain sedang bertelanjang bulat melonjak-lonjak kegirangan di bawah siraman hujan.

Ia anak yang manis, anak semata wayang. Dan anak manis harus bermain di rumah. Jangan keluyuran dan sembarang bergaul, apalagi bermain hujan-hujanan dengan anak-anak kampung yang dekil itu. Hujan membawa bibit penyakit, dan kalau sampai si anak manis sakit bagaimana? Tukas Mama.

Maka temannya hanya boneka-boneka, buku-buku komik dan dongeng. Ada Tin-Tin, Superman, Godam, Gundala, juga Cinderella, Bawang Merah-Bawang Putih, Ande-Ande Lumut, White Snow dan Tujuh Kurcaci, Sleeping Beauty, Peter Pan, Alice di Wonderland. Sepupu-sepupunya yang cerewet kadang datang merobek buku-buku kesayangannya itu. Sepupu-sepupu tak tahu diri yang suka berteriak-teriak dan bercerita tentang hujan. Sejak itu ia semakin membenci hujan, juga riuh-rendah suara anak-anak bermain di halaman.

Hanya bersama buku-bukunya ia bisa berpetualang, menjelajahi dunia di luar rumah yang terlarang. Papa jarang pulang, tapi setiap pulang selalu membawakan oleh-oleh buku baru untuknya. Buku-buku itu disusun dengan rapi di rak mungil berwarna ungu di sudut kamarnya. Sampai suatu saat ia merasa bosan pada cerita-cerita yang begitu-begitu saja. Ia ingin cerita yang lebih seru, lebih fantatis dan tak selalu berakhir dengan kebahagiaan puteri yang baik hati, tenggelamnya kapal bajak laut, ditangkapnya anak-anak yang tak penurut oleh nenek sihir jahat, atau hukuman Tuhan buat saudara tiri yang culas.

Ia tak ingat kapan persisnya ia mulai menulis ceritanya sendiri. Tokoh-tokoh utamanya adalah anak-anak yang dengan gembira membakar rumah, pangeran tampan yang dibunuh nenek sihir malang, atau puteri culas yang menemukan kebahagiaan dengan ksatria idamannya.

Ketika seseorang itu, lelaki pilihan Mama, datang meminangnya pada sebuah musim hujan, ia hanya meminta satu syarat saja, yaitu ia boleh terus menulis cerita-ceritanya.

***

AKU tak ingin musim hujan berlalu. Aku takut kehilangan bayangmu. Kalau saja kamu tahu, betapa cemasnya aku. Kadang aku berharap hujan akan melupakan musimnya dan turun sepanjang waktu seperti rinduku padamu. Agar jejak percintaan kita tak meranggas oleh kemarau yang bakal tiba tak lama lagi.

Apakah musim hujan yang akan segera pergi juga akan membawa pergi pesan-pesan, membawa pergi debar dada yang begitu nikmat setiap kali ponsel berdering nyaring. Sehingga barangkali aku akan lupa pernah berjanji padamu.

Terlebih pada musim kemarau kali ini, aku harus menyiapkan sebuah pesta besar, menyebarkan undangan-undangan, memilih ranjang dan lemari baru, tentunya juga mencarikan gaun pengantin untuk seseorang yang akan bersanding denganku di pelaminan merah beludru. Ah, pastinya aku tidak akan mencari gaun pengantin berwarna ungu seperti pintanya, sebab gaun ungu hanya akan menyakitkanku lantaran mengingatkan pada foto pengantinmu dengan lelaki itu pada sebuah musim hujan.

Seharusnya aku memang tak berjanji padamu. Sebab mungkin aku tak akan pernah menepatinya.

Belinyu, Maret 2006


Read also here:

Hujan dan Lagu Hujan

Puisi tentang hujan di blog ini: 1, 2, 3, 4, 5