Jumat, April 29, 2011

Cermin

:untuk panoptic monkey

Aku sore ini datang
Mengunjugimu:berharap
Tak bersua muka, sebab
Telah kubawa cermin
Sebagai ganti agar
Kau temu dirimu
Tanpa menggali mataku
Mengaduk hatiku yang
Padanya tak menuju kemana
Tak memberimu apa
Terkecuali duka.

Cermin itu: bawalah kemana
Engkau suka, niscaya
Kan kau raba dimana
Rasa
Yang pada mimpi mencarimu
Berharap sebuah temu
Dan padanya tak kenal pulang
Maka kaulah labuh akhir
Atas anasir, atas takdir.

Jika telah kau bawa:
Cermin itu, simpanlah.
Jauhkan dia atas debu
Namun, apa kiranya debu?
Tak mampu menyaru
Mengelabuhimu lewat kata
Yang diucapkan lewat angin
Yang mencipta deru, maka
Satusatunya cara tentulah
Membantingnya, memecahruah.

Aku sore tadi datang
Menghindarimu: meyakini
Kau terlampau mafhum
Pada dirimu bukan aku
Maka lenyap percik
Wujudku pada sela
Muntahan cermin pada
Sela kakimu sesaat sebelum
Kurayakan waktu atas
Sederhana menyecap diri
Serupa apatis meluap peduli

Surabaya, Tutup April 2011

Lomba Cipta Puisi Nasional Bentara Budaya Bali 2011

Masyarakat Indonesia umumnya mengenal mitologi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari unsur-unsur kepercayaan lokal. Sebelum agama-agama disebarkan serta dipeluk secara luas, mitologi telah memiliki peran penting dalam upaya kontrol sosial masyarakat melalui beragam tata nilai, norma serta amanat yang terkandung di dalamnya. Bahkan, hingga kini, kisah-kisah mite masih mengambil andil dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat berbagai daerah, baik sebagai warisan intangible culture maupun fungsi-fungsi lain yang bersifat edukatif dan rekreatif.


Hanya saja, oleh sebagian kalangan, utamanya generasi muda, cerita-cerita mitologi kini cenderung lebih dipandang sebagai kisahan biasa semata, tanpa memiliki muatan makna ataupun peran-peran sebagaimana yang disebutkan di atas. Di sisi lain, bila dibandingkan dengan karya-karya sastra ataupun penulisan populer yang kian berkembang dewasa ini, mitologi seringkali dipandang sebagai hasil cipta yang ketinggalan zaman, identik dengan tradisi masa silam serta tidak relevan mewakili kekinian kehidupan. Sebagai akibatnya, cerita-cerita rakyat ini semakin tidak mendapat tempat di lingkungan sosial berbagai daerah, terutama dalam keseharian para penerus bangsa.

Menimbang fenomena di atas, di tahun 2011, Bentara Budaya Bali mengadakan Lomba Cipta Puisi yang berangkat dari kisah-kisah mitologi berbagai daerah di Nusantara, dengan tema “Mitologi dalam Refleksi Kekinian”. Kompetisi dimaksudkan bukan semata sebagai upaya pengenalan kembali terkait ragam, ataupun muatan isi suatu mitologi, melainkan juga turut mendorong lahirnya karya-karya kreatif yang secara kritis menyikapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sehingga dapat menjadi refleksi bagi kekinian bermasyarakat. Kompetisi ini memperebutkan Piala Bentara.

Simak Ketentuan dan Persyaratan Lomba Cipta Puisi Nasional Bentara Budaya Bali 2011, di bawah ini:

1. Lomba ini terbuka bagi masyarakat umum se-Indonesia, tanpa batasan usia.
2. Lomba Cipta Puisi ini bersifat perorangan.
3. Tiap puisi yang disertakan dalam lomba wajib mengacu ataupun merespon tema yang telah ditetapkan Panitia, yakni “Mitologi Dalam Refleksi Kekinian”
4. Karya puisi yang dilombakan belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku, dan dipublikasikan lewat media cetak atau online, serta tidak sedang diikutkan dalam lomba atau kegiatan serupa lainnya.
5. Karya puisi yang diikutsertakan bukan saduran, terjemahan, plagiat atau pun murni menjiplak, baik sebagian maupun keseluruhan, dari naskah yang telah ada sebelumnya.
6. Terkait ketentuan 4 dan 5 dibuktikan dengan surat pernyataan dari peserta lomba.
7. Tiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya dengan melampirkan data diri dan pindai/fotokopi kartu identitas yang masih berlaku (SIM/KTP/Pasport, dll).
8. Puisi wajib dikirim dengan format Times New Roman, 12 pt, spasi 1,5 melalui : Via email : ciptapuisibentarabali@yahoo.com, ATAU, Via Pos: Bentara Budaya Bali, Jalan By Pass IB Mantra 88 A, Ketewel, Gianyar Bali. Bagi peserta yang mengirim lewat pos, naskah wajib dicopy rangkap 4 (empat).
9. Naskah diterima panitia selambat-lambatnya pada 20 Mei 2011
10. Dewan Juri menetapkan 3 Pemenang Utama, Pemenang Harapan, dan 25 Nominator yang akan dibukukan, serta menjadi puisi wajib bagi Lomba Baca dan Dramatisasi Puisi se-Bali tahun 2011 (Juli 2011)
11. Total hadiah untuk keseluruhan lomba adalah Rp 10.000.000,00. Selain uang tunai, pemenang juga mendapat trophy, piagam dan hadiah lainnya. Para finalis Juara akan diundang khusus untuk menghadiri puncak acara di Bentara Budaya Bali.
12. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.

Diposkan oleh Relawan Bentara Budaya Bali pada Februari 14, 2011 di http://bentarabudayabali.wordpress.com dan dipos ulang di Blog ini.

Untuk informasi lebih lanjut, Sila langsung ke website Bentara Budaya Bali di http://bentarabudayabali.wordpress.com


Jimat Sero - Sebuah Cerpen dari Eka Kurniawan

Cerpen Eka Kurniawan (Suara Merdeka, 24 Januari 2010)

Saya baru selesai membaca cerpen ini dan saya rasa cerpen ini sangat menarik. Kebetulan sekali saya juga baru selesai membaca buku kumpulan cerpen Eka Kurniawan "Cinta Tak Ada Mati", tapi rasanya lebih memungkinkan memposting cerpen Eka yang pernah dimuat di Suara Merdeka ini karena memang tidak diambil dari buku. Semoga saja penulis berkenan. Jadi semoga posting ini bermanfaat bagi siapa saja yang sengaja/tidak sengaja ingin mengambil manfaat :). Sila membaca.



“KAMU masih sering dipukul orang?” tanya teman lamaku, waktu kami berjumpa di rumah nenek, lebaran lalu. “Ya, enggak, lah,” jawabku sambil nyengir.


Ia mengingatkanku pada masa kecil kami. Saat itu ibuku baru melahirkan adik, dan bapak menitipkanku ke rumah nenek di kampung. Di sekolah yang baru, hanya aku yang pakai sepatu dan hanya aku yang punya rautan pensil. Sial sekali memang. Dengan tubuh kecil, ringkih, hidung penuh ingus dan sering pilek, aku menjadi bulan-bulanan teman sekelas. Setiap hari mereka merampok uang jajanku.

Satu hari tiga anak memukuliku, karena aku sengaja tidak membawa uang jajan. Nenek mengetahuinya. Seharusnya Nenek mendatangi Kepala Sekolah dan mengadukan kelakuan anak-anak itu. Atau mengembalikan aku ke rumah ibuku, seperti keinginanku.

Rupanya Nenek punya cara sendiri. Sore hari ia membawaku ke sebuah gubuk di tepi mata air. Kelak aku mengetahui, pekerjaan pemilik gubuk itu memang menjaga mata air tersebut. Gubuk itu mungil saja, dengan asap mengepul dari celah atap sirapnya. Barangkali penghuni rumah sedang memasak di tungku dapur. Nenek mengetuk dan tak lama kemudian pintu terbuka.

Di depan kami berdiri seorang lelaki tua yang langsung mempersilakan Nenek duduk. “Enggak usah, aku cuma mampir sebentar,” kata Nenek sambil menoleh ke belakang lelaki tua itu. Di sana berdiri seorang anak lelaki, lebih tua dariku, memerhatikan kami dengan penasaran. “Kelas berapa anakmu, si Rohman itu?” tanya Nenek.

“Kelas empat,” si lelaki tua menjawab sambil menoleh ke anaknya dan berkata kepada anak itu, “Suruh emakmu bawa teh.”

Tapi Nenek buru-buru memberi isyarat Rohman agar tidak pergi, dan menyuruh mendekat. Rohman menghampiri Nenek, dan tanpa mempedulikan lelaki tua itu, Nenek berkata kepada Rohman:

“Dengar, mulai besok, kamu belajar di kelas dua dan duduk satu bangku dengan cucuku ini. Jika seseorang mengganggunya, kau boleh menghajar mereka sesuka kamu.”

Dengan kebingungan, Rohman menoleh ke ayahnya. Si lelaki tua hanya tersenyum, kemudian berkata, “Jangan khawatir. Besok ia akan duduk di kelas dua.”

Begitulah cara Nenek menyelesaikan persoalanku. Sejak saat itu, Rohman turun kelas dua tingkat. Hebat juga anak itu, sejak ia duduk sebangku denganku, tak seorang pun berani menggangguku lagi. Sepatuku terbebas dari injakan kaki-kaki dekil. Ah ya, kadang-kadang di luar sekolah, masih ada anak yang tak tahu apa-apa menggangguku, dan esok harinya, Rohman bisa menghajarnya hingga babak-belur.

Tapi tak lama setelah itu, Ayah mengambilku kembali dari rumah Nenek. Aku tak tahu apa yang terjadi. Ibu hanya pernah bercerita, aku menangis berhari-hari meminta pulang. Aku tak ingat apa yang membuatku menangis. Aku juga tak tahu apa yang terjadi dengan Rohman: apakah ia kembali melompat dua kelas sebagaimana mestinya, atau tetap meneruskan tingkatannya saat itu. Di sekolah yang baru, kadang-kadang ada yang mengganggu, tapi aku bisa mengatasinya. Di SMP, aku punya banyak teman dan tak ada yang mengganggu. Di SMA aku mengencani beberapa gadis cantik dan pintar, dan karena “gadis cantik yang pintar” jarang jadi rebutan, aku nyaris tak punya saingan. Aku masuk universitas dan jadi kutu buku. Aku bahkan nyaris lupa pernah punya teman sebangku bernama Rohman. Kini aku bertunangan dengan anak gadis bosku, Raisa, dan tak seorang pun berani mengusik hubungan kami.

Kemudian, lebaran lalu aku mengunjungi Nenek dan berjumpa dengan si Rohman ini, dan pertanyaannya sungguh konyol: “Kamu masih suka dipukuli orang?”

Kami berdua duduk di beranda dan berbagi segala hal yang kami tidak ketahui selama perpisahan itu. Rohman berkata, “Setiap kali pulang kampung, aku selalu menemui nenekmu hanya untuk tahu kabar tentangmu.” Aku hanya tersenyum dan menepuk lututnya. Lalu ia menambahkan, “Sampai sekarang aku masih sering kuatir, ada orang memukulimu.”

Aku tertawa dan kembali menepuk lututnya. “Enggak usah berlebihan begitu.”

Tapi dengan tatapan serius ia memandangku dan kembali berkata, “Di mana kamu sekarang tinggal? Aku akan memberimu sebuah jimat.”

“Jimat?”

“Jimat. Kamu bakal tahan pukul dan kebal senjata.”

***

JIMAT itu sekarang berada di tanganku. Namanya jimat sero. Kata Rohman, yang sengaja datang ke apartemenku, itu memang terbuat dari ekor sero. Rubah.

Karena tak tahu harus berbuat apa, aku bertanya apakah aku harus membayar? Berapa? Rohman hanya tertawa sambil menggeleng. Tidak, katanya, kamu tak perlu membayar sepeser pun. Ia memberikan jimat itu benar-benar karena ia mengkhawatirkanku. Ingat, katanya, dulu ia berjanji untuk menjagaku. Tapi ia tak mungkin menjagaku terus-menerus. Ia hanya bisa memberiku jimat itu.

Aku yang tak terbiasa memperoleh sesuatu secara cuma-cuma mencoba bertanya mengenai pekerjaannya. Barangkali ia punya anak, dan seperti kebiasaan orang desa, barangkali ia mencoba menitipkan anaknya untuk dimasukkan ke perusahaan tempatku bekerja, atau ke kantor-kantor kenalanaku. Tapi jelas ia tak membutuhkan apa pun. Ia sudah jadi juragan kopra di Banten selatan dan anaknya yang paling tua masih berumur sebelas tahun. Ia benar-benar tak membutuhkan apa pun dariku.

Setelah memaksanya menginap semalam dan mengajaknya berkeliling Jakarta untuk sekadar bersantai, ia akhirnya pulang.

Dan jimat itu bersamaku. Jimat sero.

Selama beberapa hari aku mencoba menghiraukannya, tapi semakin aku mencoba melupakan bahwa aku memiliki jimat, semakin aku mengingatnya. Jimat itu tebungkus dalam kantung kain katun kecil, dengan tali untuk mencantelkan, sebesar gelang tangan. Aku sudah memeriksanya, dan memang itu tampak seperti ekor binatang yang sudah kering. Tak ada tanda-tanda benda itu memiliki kesaktian apa pun. Bahkan aku ragu ia bisa melindungi dirinya sendiri.

“Kamu harus membawanya jika ingin merasakan keampuhan jimat ini. Masukkan ke saku celana sudah cukup,” begitu kata Rohman sebelum pergi.

Aku malah menggeletakkannya di meja, di samping komputerku.

Sampai kemudian terpikir olehku bahwa satu-satunya cara untuk meyakinkan apakah benda itu berguna atau tidak adalah dengan menjajalnya. Tapi sebelum itu tentu saja aku harus memastikan sesuatu. Sepuluh hari selepas kunjungan Rohman, aku meneleponnya.

“Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya,” kataku. “Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?”

Rohman tertawa dan menggeleng, “Tak ada yang perlu kamu risaukan.”

***

SEUMUR hidup aku tak pernah berkelahi. Tentu saja bukan berarti aku tak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Apa pun yang terjadi, aku selalu mencoba mengakhiri setiap perselisihan dengan siapa pun tanpa berkelahi. Teman-temanku bilang, aku pandai dalam hal membuat musuh menjadi teman. Tapi sejujurnya, ada kalanya aku harus menghindar. Lebih tepatnya, mengalah.

Saat pertama kali kupikirkan untuk mencoba jimat sero, aku langsung membayangkan beberapa orang yang menyebalkan, yang seharusnya kuhajar: sopir taksi yang pernah mengajakku berkeliling sambil berpura-pura tersesat, lalu memaksaku membayar dengan harga argometer yang melambung ke langit; preman kecil yang pernah menodongku di Tanah Abang, bertahun-tahun lalu ketika aku pertama kali datang ke Jakarta; dan barangkali seorang kolonel yang pernah aku lihat menabrak seorang perempuan tua di pinggir jalan, lalu pergi begitu saja seolah tak merasa bersalah.

Dengan sedikit was-was, kuambil jimat sero dari atas meja dan kutimang-timang sejenak di telapak tangan. Benarkah aku percaya omong-kosong mengenai jimat ini? Bukan hal yang aneh jika orang semacam Rohman bisa memiliki jimat, bahkan membuatnya. Aku tak tahu bagaimana seorang anak kecil tukang berkelahi menjelma seorang lelaki penuh klenik yang mampu menyediakan jimat. Tapi setelah kupikir-pikir, itu bukan hal yang aneh, sebenarnya.

Ayahnya, si tukang menjaga mata air, konon juga pemilik beragam ajian. Dan selama bertahun-tahun, ia merupakan orang kepercayaan Nenek dan Kakek. Ayah dan ibuku tak pernah menyinggung soal itu dan aku juga tak terlalu menaruh perhatian, tapi aku mengetahui hal itu.

Kumasukan jimat ke saku kiri celanaku. Itu tempat yang aman, sebab aku tak pernah menaruh apa pun di sana. Jimat itu tak akan jatuh secara tidak sengaja (misalnya karena aku mengambil uang receh atau telepon genggam). Dan untuk sejenak kucoba merasakan sekiranya ada tanda-tanda tertentu yang diberikan jimat itu kepadaku.

Tak ada apa-apa.

Rasanya aku jadi agak ragu-ragu. Benarkah ia membuatku kebal pukul dan senjata? Jangan-jangan jika aku mencobanya, aku malah babak-belur. Masih untung jika tidak langsung mati.

Aku bergidik dan kulirik pisau cukur.

“Tidak, kamu akan berdarah jika kamu lakukan sendiri. Jimat itu hanya bekerja jika seseorang memukulmu atau mencoba melukaimu dengan senjata.”

Tak ada cara lain untuk membuktikannya, pikirku. Setelah memikirkan hal itu selama beberapa saat, akhirnya aku pergi ke tempat kerjaku. Tak apa, toh sebenarnya tak ada keharusan untuk membuktikannya. Jika aku takut jimat itu ternyata tak bekerja sebagaimana yang dijanjikan, aku tak perlu berkelahi dengan siapa pun. Aku bisa melanjutkan hidupku sebagaimana biasa, sebagaimana hari-hari ketika jimat sero belum ada.

Umurku dua puluh sembilan tahun, dan aku baik-baik saja tanpa jimat sero. Dengan pikiran seperti itu, entah kenapa, aku tetap membawa jimat sero di saku celanaku.

***

AKU berjalan kaki ke apartemenku sambil menggigil. Aku tak tahu seberapa kusut diriku. Orang-orang melihatku dengan tatapan curiga. Aku tak peduli dan terus berjalan. Kulihat tanganku. Darah kering di mana-mana. Bahkan kemejaku juga berpelotan. Aku bisa melihat jemariku meregang satu sama lain dan aku tak yakin bisa menggerakkannya. Mereka bergerak sendiri. Ikut menggigil.

Terbayang olehku tubuh Nasrudin tersungkur ke pojok kamar mandi. Ada darah dari sudut bibirnya. Aku sangat senang melihat darah itu. Ternyata darah tidak semerah yang kubayangkan. Darah lebih gelap daripada merah. Merah itu warna bendera dan darah tidak berwarna seperti bendera. Darah lebih seperti warna kelopak mawar yang membusuk. Dan aku suka warna itu mengalir dari sudut bibir Nasrudin.

“Itu untuk mulut najismu,” kataku.

Aku membencinya sejak lama. Ia selalu mencari muka di depan bosku, dan selalu berupaya menjatuhkanku. Ia selalu punya cara untuk membantah gagasan-gagasanku, dan menjungkirkannya seolah-olah gagasanku merupakan gurauan orang bodoh. Aku tahu bosku termakan omongannya, tatapannya memandangku sedih. Hanya karena aku bertunangan dengan Raisa, tempatku di kantor tak tersentuh siapa pun. Meskipun begitu, sungguh, sesekali aku ingin menghajar Nasrudin.

Ingatan tersebut kembali membuatku menggigil.

Hari itu aku berhasil membuatnya marah dan aku menunggu apakah ia akan memukulku. Peristiwa itu terjadi di kamar mandi, setelah sebagian besar teman kerja kami pulang. Ia tidak memukulku, maka aku kembali memancingnya. Akhirnya ia menghampiriku, menyentuh pangkal kemejaku dan bertanya:

“Maumu apa?”

Aku meludahi mukanya.

Ia tercekat sejenak. Tentu saja ia tak akan percaya aku melakukan itu. Ia mengusap mukanya dengan lengan kemajanya, tanpa melepaskan genggamannya di pangkal kemejaku. Ia memandangku. Aku tersenyum mengejek. Ia masih memandangku. Kupandang kembali matanya. Itu saat-saat yang sangat menegangkan. Aku menunggu apa yang akan dilakukannya.

Lalu, bug, ia mengirimkan jotosannya ke rahangku. Aku terdorong beberapa langkah, tapi aku tak merasakan apa pun. Aku tersenyum dan menghampirinya.

Ia memukulku lagi. Aku tak merasakan pukulannya. Ia kembali memukul. Aku menerimanya bagaikan karung pasir. Ia memukuliku selama sekitar sepuluh menit, atau tiga puluh menit? Ia benar-benar kebingungan pukulannya tak berpengaruh apa-apa padaku. Hingga akhirnya aku melancarkan serangan balasan.

Satu pukulan mengirimnya ke samping pintu. Pukulan kedua membuat memar dahinya. Pukulan ketiga membuatnya terhuyung-huyung. Entah pukulan keberapa ia tersungkur di sudut kamar mandi dan darah mulai keluar dari ujung bibirnya.

“Ampun, ampun,” katanya.

Aku keluar dari kamar mandi. Aku tersenyum. Lalu tertawa. Lalu menggigil.

Aku masih menggigil tapi juga dilanda kesenangan ketika membuka kunci pintu apartemen. Ketika aku masuk ke dalam, aku merasa ada orang di dalam apartemenku. Tentu saja itu Raisa, pikirku. Raisa memiliki kunci apartemenku, dan ia bisa datang dan pergi sesuka hatinya. Kadang-kadang ia tidur di tempatku, dan saat-saat seperti itu tentu saja kami akan bercinta. Pagi hari ia akan pulang, kembali ke rumah orang tuanya.

Kunyalakan lampu dan kulihat Raisa di tempat tidur. Yang tidak biasa, ia di sana tidak sendirian. Ia bersama seorang lelaki. Aku hanya duduk di sofa, sambil memandang mereka melalui pintu kamar terbuka.

Aku mencopot sepatu, melepas kaus kaki. Kupandangi tanganku yang penuh noda darah. Kuintip kembali Raisa dengan lelaki itu. Kudengar desahan suara Raisa yang sangat kukenal.

Kemudian segalanya selesai.

Ia turun dari tempat tidur dan menghampiriku. “Hai, sudah pulang?” tanyanya. Suaranya kukenal baik. Rohman.

Aku tak menjawab. Aku tak tahu apakah aku tertidur atau tidak. Mungkin di antara itu.

***

KEMUDIAN aku teringat apa yang dulu membuatku menangis berhari-hari di rumah Nenek. Malam itu, aku melihat Nenek di atas tempat tidur bersama si penjaga mata air. Kakek hanya duduk di dipan rotan. Pemandangan itu menakutkanku, dan aku menangis sejak malam itu.

Entah bagaimana aku bisa melupakannya. Tapi malam ini, bertahun-tahun kemudian, aku mengingatnya. Tapi aku senang-senang saja. Aku senang melihat darah di tanganku. Aku senang melihat Raisa mandi keringat di tempat tidur. Aku senang melihat Rohman berjalan telanjang ke arahku. Terutama aku senang memiliki jimat sero di saku kiri celanaku. (*)

Kamis, April 14, 2011

Minat Baca yang Kembali?

Pagi ini setelah urusan bimbingan skripsi berjalan lebih mudah dengan dosen pembimbing dan terutama setelah ada keputusan bersama untuk melakukan bimbingan via e-mail, rasanya ada beban yang sedikit terlepas dari benak. well it's such a relief!. Semoga tidak justru membuat semakin bermalas-malasan.

Paling tidak untuk menjaga keseimbangan, akhirnya diputuskan untuk meminjam beberapa buku bacaan/novel di perpustakaan kampus yang selama ini belum sempat dibaca: As I lay Dying milik Kakek Faulkner, The Catcher in the Rye karya J.D Sallinger dan citarasa lokal untuk tetap melihat diri dari kacamata kebangsaan dipilihlah karya Mochtar Lubis Jalan Tak Ada Ujung. Semoga buku-buku tersebut mampu mengusir kejenuhan untuk mengerjakan skripsi lebih serius jika tidak ingin disebut main-main. Atau paling tidak tetap mampu memberikan jeda yang berarti ketika lelah pada kekonyolan hidup itu sendiri. Tentunya mampu mengingatkan jika tak ingin menganggap sebagai motivasi untuk mengerjakan kewajiban yang diwajib-wajibkan yaitu skripsi itu sendiri. Hhhh...

Akhirnya semoga pagi ini menjadi titik awal untuk menjaga diri pada jalur yang tepat meski tetaplah itu semua tidak lebih dari jalur random/acak dan menuju ketiadaan itu sendiri. Tetap membaca, tetap bekerja, tetap menulis dan selalu setia menghidupi kekonyolan hidup.

-sangit-

Minggu, April 10, 2011

Tanggal Sepuluh di bulan april

Tanggal sepuluh di bulan april. Semua berjalan seperti biasanya. Kebetulan sekali hari sabtu. Bukan, bukan karena di hari lain sibuk. Ahh..mungkin menonton film memang bisa disebut sibuk. Jadi mungkin memang sibuk. Tapi tanggal sepuluh april pun ternyata lebih banyak dihabiskan menonton film juga. Jadi kalaupun sibuk maka kesibukannya pun sama.

Tanggal sepuluh di bulan april. Posting pertama di bulan april. Ahh..mungkin bukan posting pertama di bulan april karena tahun lalu sudah pernah. Jadi yang benar adalah posting pertama di tanggal sepuluh di bulan april di tahun ini. Itu berarti di tanggal yang sama dan di bulan april tahun lalu sudah pernah ada posting yang seperti ini. Ohh..rasanya tidak, mungkin hanya sama di bulan april atau sebenarnya tidak pernah..entahlah. Tapi jika benar belum pernah maka ini jadi posting pertama di tanggal sepuluh di bulan april.

Tanggal sepuluh di bulan april. Tidak banyak yang bisa diceritakan. Tidur di pagi hari setelah menjemur pakaian. Bangun siang hari agak kesorean dengan kepala sedikit pusing. Bukan, bukan karena jatuh dari tempat tidur dan kepala terbentur lantai kemudian tertimpa laptop yang jatuh dari meja. Terlalu berlebihan. Hanya pusing sederhana seorang manusia megembalikan kesadaran nyata setelah menghidupi kesadaran mimpi (yang barusan adalah denotasi tak menyimpan konotasi).

Tanggal sepuluh di bulan april. Tidak ada yang istimewa yang dilakukan setelah kesadaran didapat. Hanya kemudian memasak air untuk segelas teh sambil menikmati sore di balkon depan kamar kos sangat sangat sangat serius sederhana dengan sahutan eyang-eyang Beatles dan Om-om Naif. Ahh..sore yang begitu sederhana dan nyaman di tanggal sepuluh di bulan april dengan buih gula yang masih berputar di cangkir.

Tanggal sepuluh di bulan april. Berdiam diri di kamar sambil medengarkan suara film 'Janji Joni' dan 'Tiga Hari Untuk Selamanya'. Sebuah cara baru menikmati film di tanggal sepuluh di bulan april. Ahh..tak harus di tanggal sepuluh, tapi mungkin harus di bulan april karena bulan depan bulan mei. Itu berarti tanggal sepuluh di bulan mei. Ahh..bulan apalah asal ada film yang diputar dan siap didengarkan.

Tanggal sepuluh di bulan april. Setelah puas medengarkan film, sepertinya memang harus kembali ke cara konvensional tradisional komunal visual. 'Menonton film'. Akhirnya, setelah melalui perdebatan batin dan berakhir dengan sistem random, yang ditonton adalah 'Tiga Hari Untuk Selamanya' dan 'Gie' kebetulan dua-duanya film Riri Riza. Dianggap kebetulan karena dibetul-betulkan. Kebetulan yang dibetul-betulkan di tanggal sepuluh di bulan april.

Tanggal sepuluh di bulan april. Dan inilah yang benar-benar tanggal sepuluh di bulan april. Dinihari sesaat setelah menyantap nasi dengan tempe gorengan orag lain dan telur ceplok gorengan sendiri, diputuskan untuk keluar kos. Sedikit kaget karena di luar masih ramai seperti jam 7 malam. Mungkin orang-orang di sekitar kos memang lebih suka minggu dinihari dibanding malam minggu. Iya Minggu dinihari di tanggal sepuluh di bulan april.

Tanggal sepuluh di bulan april. Sesaat sebelum berhalusinasi dengan postingan 'tanggal sepuluh di bulan april,' sedikit menengok blok teman karena ada pemberitahuan posting baru di dasbor blog. Tidak ada yang istimewa seperti di blog ini kecuali berisi posting makian dan cacian atau sekedar pertanyaan 'sudah puaskah seseorang karena telah meninggalkan teman yang punya blog.' Banyak kejadian di tanggal sepuluh di bulan april. Hanya seperjutaan dari sekian banyak yang mampu diambil dan dimasukkan dalam catatan. Ahh..akhirnya sebuah catatan di tanggal sepuluh di bulan april yang melibatkan sembilan april selesai. Semoga masih ada sepuluh april lainnya. Bukan, bukan takut tak bertemu sepuluh april lagi, tapi bukankah lebih menakutkan jika tanggal sembilan dan sebelas di bulan april tak pernah bertemu karena tanggal sepuluh di bulan april hilang.

-sangit-