Surat Hemingway kepada Grace Hall Hemingway (ibunya)
Dari Kansas City, 16 Januari 1918
Mama tersayang,
Kuterima
suratmu hari ini. Aku heran kenapa lama tak ada kabar dari kalian di
rumah seolah hubungan kita sedemikian buruknya. Dua puluh derajat di
luar, sangat dingin meski tidak banyak salju. Di Kansas paling-paling
hanya setebal dua atau tiga kaki. Tak ada kereta jalan dari barat atau
dari timur. Hubungan kita pasti terputus untuk sementara waktu. Stok
batu bara sangat buruk di sini. Karenanya kami hanya bisa berharap agar
musim semi segera tiba.
Sekarang, keringkan air matamu, Mama, dan
bergembiralah. Kau akan menemukan sesuatu yang lebih baik daripada
terus gelisah. Jangan rusuh hatimu atau menangis atau meratap hanya
karena aku bukan seorang Kristen yang baik. Aku sebisa mungkin selalu
berdoa setiap malam dan yakin sekuat mungkin untuk selalu bahagia. Maka,
jangan resah hatimu hanya karena aku orang Kristen yang periang. Alasan
kenapa aku tidak ke gereja pada hari Minggu adalah karena pada hari
Sabtu aku harus bekerja keras hingga pukul satu dinihari untuk
menyiapkan The Sunday Star dan kadang hingga pukul tiga atau empat pagi.
Dan aku tak pernah membuka mata pada hari Minggu sampai pukul setengah
satu siang. Kautahu, itu bukan kehendakku. Kautahu, aku tak terlalu
menggebu-gebu soal agama tetapi aku tetap seorang Kristen sejauh bisa.
Minggu adalah hari di mana aku bisa tidur nyenyak. Gereja tante Arabell
juga terlalu menonjolkan mode pakaian dan tanpa pendeta yang
simpatik—aku merasa tidak cocok di sana….
Dengan rasa kasih,
Ernie
(Diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari Ernest Hemingway, Selected Letters, Carlos Baker)
-reblogged from http://as-laksana.blogspot.com/-
Minggu, Desember 18, 2011
Jumat, September 09, 2011
Saya suka lirik lagu mbak Bjork yang satu ini (moon)
Jumat, Agustus 19, 2011
Sajak Untuk R
:R
bahasa kita adalah kesunyian
suara telah menjelma gelembung
tak sanggup kita pecahkan:
melambung
kitapun limbung
mata kita tak mampu mengeja
kekosongan adalah satusatunya rasa
atas berderet huruf serta angka
yang padanya kita begitu alpa
lalu adalah debar
gelombang tak sanggup mengalir
apalagi berdesir
adieu
adieu
adieu
bahasa kita adalah kesunyian
suara telah menjelma gelembung
tak sanggup kita pecahkan:
melambung
kitapun limbung
mata kita tak mampu mengeja
kekosongan adalah satusatunya rasa
atas berderet huruf serta angka
yang padanya kita begitu alpa
lalu adalah debar
gelombang tak sanggup mengalir
apalagi berdesir
adieu
adieu
adieu
Jumat, Juni 10, 2011
Mafhum
Aku akan menjemputmu
bukan hari ini
ketika kereta
tak mampu
menyeret tubuhnya
yang keras
pada rel yang
terlampau jenuh
putaran rodanya.
Aku akan menjemputmu
mungkin besok
ketika angkot
tak lagi berkelok
mencoba semua jalur
seakan dialah
kaki terkuat
maka mesti mengulat
berputar melingkar.
Aku akan menjemputmu
saat ini juga
saat aku rasa
aku butuh pulang
butuh membelai pintumu
menghirup udara
dalam paru
ruang tamumu
dan menerobos
dalam ruang
yang tak seorang
kau izinkan
kecuali dirimu
karena aku..kau telah tahu.
bukan hari ini
ketika kereta
tak mampu
menyeret tubuhnya
yang keras
pada rel yang
terlampau jenuh
putaran rodanya.
Aku akan menjemputmu
mungkin besok
ketika angkot
tak lagi berkelok
mencoba semua jalur
seakan dialah
kaki terkuat
maka mesti mengulat
berputar melingkar.
Aku akan menjemputmu
saat ini juga
saat aku rasa
aku butuh pulang
butuh membelai pintumu
menghirup udara
dalam paru
ruang tamumu
dan menerobos
dalam ruang
yang tak seorang
kau izinkan
kecuali dirimu
karena aku..kau telah tahu.
Minggu, Juni 05, 2011
Sibuk
kita adalah kekasih
aku dan kau:kesibukan.
meski memang
sesekali jenuh
datang merayu: dia
tahu dia begitu ayu, namun
percayalah laiknya kekasih,
aku tak kemana
terkecuali mengubur diri
pada debur laku
atas perintah
atas sadar
atas niscaya
atas segala anasir yang kau cipta.
maka akulah debu
tak letih mengendap
tak peduli berjuta kali
bersih memburuku.
aku adalah sibuk
tak peduli jenuh
mengurai ngilu
karena rutin
sekarang jiwaku.
maka ingatlah wahai kekasihku:
aku dan kau adalah sepasang binar terang
telah lupa cara gelap merangsang
aku dan kau adalah rekah tawa
telah kubuang gelisah duka
namun bukankah kita
serupa berjutapasang kekasih lainnya
aku mungkin sesekali mendua
aku mungkin suatu saat tak lagi sibuk
aku mungkin seketika tergoda
oleh jenuh
oleh temaram
oleh kesunyian
oleh kehampaan
oleh ketidakhadiran
karena aku mungkin
salah ucap
banal berjanji
lemah ingat
atau aku memang
hanyalah manusia
sebuah prototipe lama.
maklumlah!
aku dan kau:kesibukan.
meski memang
sesekali jenuh
datang merayu: dia
tahu dia begitu ayu, namun
percayalah laiknya kekasih,
aku tak kemana
terkecuali mengubur diri
pada debur laku
atas perintah
atas sadar
atas niscaya
atas segala anasir yang kau cipta.
maka akulah debu
tak letih mengendap
tak peduli berjuta kali
bersih memburuku.
aku adalah sibuk
tak peduli jenuh
mengurai ngilu
karena rutin
sekarang jiwaku.
maka ingatlah wahai kekasihku:
aku dan kau adalah sepasang binar terang
telah lupa cara gelap merangsang
aku dan kau adalah rekah tawa
telah kubuang gelisah duka
namun bukankah kita
serupa berjutapasang kekasih lainnya
aku mungkin sesekali mendua
aku mungkin suatu saat tak lagi sibuk
aku mungkin seketika tergoda
oleh jenuh
oleh temaram
oleh kesunyian
oleh kehampaan
oleh ketidakhadiran
karena aku mungkin
salah ucap
banal berjanji
lemah ingat
atau aku memang
hanyalah manusia
sebuah prototipe lama.
maklumlah!
Rabu, Mei 18, 2011
This Posting May be a Mistake..??!
"Which is it? is man only God's mistake or God only man's mistake?" -Nietzche, Twilight of The Idols.
Rabu, Mei 11, 2011
Biarkan Saya Jengah Sebentar
Saya sedang membenci negeri-negeri pemodal. Seperti yang terlihat di belakang saya. Semuanya hanya untuk membuat kita laiknya anjing yang hebat jika mampu memiliki penciuman tinggi. Padahal tak lebih hanya tunduk pada bau yang seakan membuktikan kita tak pernah punya daya tawar. Saya benci amerika karena itu saya MEMBELAKANGI 'produknya ' yang satu ini. Saya sebenarnya (mungkin) juga akan benci Indonesia jika bertingkah laiknya Amerika jika tiba-tiba kaya (yah meski sedikit lama atau berat).
Jumat, April 29, 2011
Cermin
:untuk panoptic monkey
Aku sore ini datang
Mengunjugimu:berharap
Tak bersua muka, sebab
Telah kubawa cermin
Sebagai ganti agar
Kau temu dirimu
Tanpa menggali mataku
Mengaduk hatiku yang
Padanya tak menuju kemana
Tak memberimu apa
Terkecuali duka.
Cermin itu: bawalah kemana
Engkau suka, niscaya
Kan kau raba dimana
Rasa
Yang pada mimpi mencarimu
Berharap sebuah temu
Dan padanya tak kenal pulang
Maka kaulah labuh akhir
Atas anasir, atas takdir.
Jika telah kau bawa:
Cermin itu, simpanlah.
Jauhkan dia atas debu
Namun, apa kiranya debu?
Tak mampu menyaru
Mengelabuhimu lewat kata
Yang diucapkan lewat angin
Yang mencipta deru, maka
Satusatunya cara tentulah
Membantingnya, memecahruah.
Aku sore tadi datang
Menghindarimu: meyakini
Kau terlampau mafhum
Pada dirimu bukan aku
Maka lenyap percik
Wujudku pada sela
Muntahan cermin pada
Sela kakimu sesaat sebelum
Kurayakan waktu atas
Sederhana menyecap diri
Serupa apatis meluap peduli
Aku sore ini datang
Mengunjugimu:berharap
Tak bersua muka, sebab
Telah kubawa cermin
Sebagai ganti agar
Kau temu dirimu
Tanpa menggali mataku
Mengaduk hatiku yang
Padanya tak menuju kemana
Tak memberimu apa
Terkecuali duka.
Cermin itu: bawalah kemana
Engkau suka, niscaya
Kan kau raba dimana
Rasa
Yang pada mimpi mencarimu
Berharap sebuah temu
Dan padanya tak kenal pulang
Maka kaulah labuh akhir
Atas anasir, atas takdir.
Jika telah kau bawa:
Cermin itu, simpanlah.
Jauhkan dia atas debu
Namun, apa kiranya debu?
Tak mampu menyaru
Mengelabuhimu lewat kata
Yang diucapkan lewat angin
Yang mencipta deru, maka
Satusatunya cara tentulah
Membantingnya, memecahruah.
Aku sore tadi datang
Menghindarimu: meyakini
Kau terlampau mafhum
Pada dirimu bukan aku
Maka lenyap percik
Wujudku pada sela
Muntahan cermin pada
Sela kakimu sesaat sebelum
Kurayakan waktu atas
Sederhana menyecap diri
Serupa apatis meluap peduli
Surabaya, Tutup April 2011
Lomba Cipta Puisi Nasional Bentara Budaya Bali 2011
Masyarakat Indonesia umumnya mengenal mitologi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari unsur-unsur kepercayaan lokal. Sebelum agama-agama disebarkan serta dipeluk secara luas, mitologi telah memiliki peran penting dalam upaya kontrol sosial masyarakat melalui beragam tata nilai, norma serta amanat yang terkandung di dalamnya. Bahkan, hingga kini, kisah-kisah mite masih mengambil andil dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat berbagai daerah, baik sebagai warisan intangible culture maupun fungsi-fungsi lain yang bersifat edukatif dan rekreatif.
Hanya saja, oleh sebagian kalangan, utamanya generasi muda, cerita-cerita mitologi kini cenderung lebih dipandang sebagai kisahan biasa semata, tanpa memiliki muatan makna ataupun peran-peran sebagaimana yang disebutkan di atas. Di sisi lain, bila dibandingkan dengan karya-karya sastra ataupun penulisan populer yang kian berkembang dewasa ini, mitologi seringkali dipandang sebagai hasil cipta yang ketinggalan zaman, identik dengan tradisi masa silam serta tidak relevan mewakili kekinian kehidupan. Sebagai akibatnya, cerita-cerita rakyat ini semakin tidak mendapat tempat di lingkungan sosial berbagai daerah, terutama dalam keseharian para penerus bangsa.
Menimbang fenomena di atas, di tahun 2011, Bentara Budaya Bali mengadakan Lomba Cipta Puisi yang berangkat dari kisah-kisah mitologi berbagai daerah di Nusantara, dengan tema “Mitologi dalam Refleksi Kekinian”. Kompetisi dimaksudkan bukan semata sebagai upaya pengenalan kembali terkait ragam, ataupun muatan isi suatu mitologi, melainkan juga turut mendorong lahirnya karya-karya kreatif yang secara kritis menyikapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sehingga dapat menjadi refleksi bagi kekinian bermasyarakat. Kompetisi ini memperebutkan Piala Bentara.
Simak Ketentuan dan Persyaratan Lomba Cipta Puisi Nasional Bentara Budaya Bali 2011, di bawah ini:
1. Lomba ini terbuka bagi masyarakat umum se-Indonesia, tanpa batasan usia.
2. Lomba Cipta Puisi ini bersifat perorangan.
3. Tiap puisi yang disertakan dalam lomba wajib mengacu ataupun merespon tema yang telah ditetapkan Panitia, yakni “Mitologi Dalam Refleksi Kekinian”
4. Karya puisi yang dilombakan belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku, dan dipublikasikan lewat media cetak atau online, serta tidak sedang diikutkan dalam lomba atau kegiatan serupa lainnya.
5. Karya puisi yang diikutsertakan bukan saduran, terjemahan, plagiat atau pun murni menjiplak, baik sebagian maupun keseluruhan, dari naskah yang telah ada sebelumnya.
6. Terkait ketentuan 4 dan 5 dibuktikan dengan surat pernyataan dari peserta lomba.
7. Tiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya dengan melampirkan data diri dan pindai/fotokopi kartu identitas yang masih berlaku (SIM/KTP/Pasport, dll).
8. Puisi wajib dikirim dengan format Times New Roman, 12 pt, spasi 1,5 melalui : Via email : ciptapuisibentarabali@yahoo.com, ATAU, Via Pos: Bentara Budaya Bali, Jalan By Pass IB Mantra 88 A, Ketewel, Gianyar Bali. Bagi peserta yang mengirim lewat pos, naskah wajib dicopy rangkap 4 (empat).
9. Naskah diterima panitia selambat-lambatnya pada 20 Mei 2011
10. Dewan Juri menetapkan 3 Pemenang Utama, Pemenang Harapan, dan 25 Nominator yang akan dibukukan, serta menjadi puisi wajib bagi Lomba Baca dan Dramatisasi Puisi se-Bali tahun 2011 (Juli 2011)
11. Total hadiah untuk keseluruhan lomba adalah Rp 10.000.000,00. Selain uang tunai, pemenang juga mendapat trophy, piagam dan hadiah lainnya. Para finalis Juara akan diundang khusus untuk menghadiri puncak acara di Bentara Budaya Bali.
12. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.
Hanya saja, oleh sebagian kalangan, utamanya generasi muda, cerita-cerita mitologi kini cenderung lebih dipandang sebagai kisahan biasa semata, tanpa memiliki muatan makna ataupun peran-peran sebagaimana yang disebutkan di atas. Di sisi lain, bila dibandingkan dengan karya-karya sastra ataupun penulisan populer yang kian berkembang dewasa ini, mitologi seringkali dipandang sebagai hasil cipta yang ketinggalan zaman, identik dengan tradisi masa silam serta tidak relevan mewakili kekinian kehidupan. Sebagai akibatnya, cerita-cerita rakyat ini semakin tidak mendapat tempat di lingkungan sosial berbagai daerah, terutama dalam keseharian para penerus bangsa.
Menimbang fenomena di atas, di tahun 2011, Bentara Budaya Bali mengadakan Lomba Cipta Puisi yang berangkat dari kisah-kisah mitologi berbagai daerah di Nusantara, dengan tema “Mitologi dalam Refleksi Kekinian”. Kompetisi dimaksudkan bukan semata sebagai upaya pengenalan kembali terkait ragam, ataupun muatan isi suatu mitologi, melainkan juga turut mendorong lahirnya karya-karya kreatif yang secara kritis menyikapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sehingga dapat menjadi refleksi bagi kekinian bermasyarakat. Kompetisi ini memperebutkan Piala Bentara.
Simak Ketentuan dan Persyaratan Lomba Cipta Puisi Nasional Bentara Budaya Bali 2011, di bawah ini:
1. Lomba ini terbuka bagi masyarakat umum se-Indonesia, tanpa batasan usia.
2. Lomba Cipta Puisi ini bersifat perorangan.
3. Tiap puisi yang disertakan dalam lomba wajib mengacu ataupun merespon tema yang telah ditetapkan Panitia, yakni “Mitologi Dalam Refleksi Kekinian”
4. Karya puisi yang dilombakan belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku, dan dipublikasikan lewat media cetak atau online, serta tidak sedang diikutkan dalam lomba atau kegiatan serupa lainnya.
5. Karya puisi yang diikutsertakan bukan saduran, terjemahan, plagiat atau pun murni menjiplak, baik sebagian maupun keseluruhan, dari naskah yang telah ada sebelumnya.
6. Terkait ketentuan 4 dan 5 dibuktikan dengan surat pernyataan dari peserta lomba.
7. Tiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu karya dengan melampirkan data diri dan pindai/fotokopi kartu identitas yang masih berlaku (SIM/KTP/Pasport, dll).
8. Puisi wajib dikirim dengan format Times New Roman, 12 pt, spasi 1,5 melalui : Via email : ciptapuisibentarabali@yahoo.com, ATAU, Via Pos: Bentara Budaya Bali, Jalan By Pass IB Mantra 88 A, Ketewel, Gianyar Bali. Bagi peserta yang mengirim lewat pos, naskah wajib dicopy rangkap 4 (empat).
9. Naskah diterima panitia selambat-lambatnya pada 20 Mei 2011
10. Dewan Juri menetapkan 3 Pemenang Utama, Pemenang Harapan, dan 25 Nominator yang akan dibukukan, serta menjadi puisi wajib bagi Lomba Baca dan Dramatisasi Puisi se-Bali tahun 2011 (Juli 2011)
11. Total hadiah untuk keseluruhan lomba adalah Rp 10.000.000,00. Selain uang tunai, pemenang juga mendapat trophy, piagam dan hadiah lainnya. Para finalis Juara akan diundang khusus untuk menghadiri puncak acara di Bentara Budaya Bali.
12. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.
Diposkan oleh Relawan Bentara Budaya Bali pada Februari 14, 2011 di http://bentarabudayabali.wordpress.com dan dipos ulang di Blog ini.
Untuk informasi lebih lanjut, Sila langsung ke website Bentara Budaya Bali di http://bentarabudayabali.wordpress.com
Untuk informasi lebih lanjut, Sila langsung ke website Bentara Budaya Bali di http://bentarabudayabali.wordpress.com
Jimat Sero - Sebuah Cerpen dari Eka Kurniawan
Cerpen Eka Kurniawan (Suara Merdeka, 24 Januari 2010)
Saya baru selesai membaca cerpen ini dan saya rasa cerpen ini sangat menarik. Kebetulan sekali saya juga baru selesai membaca buku kumpulan cerpen Eka Kurniawan "Cinta Tak Ada Mati", tapi rasanya lebih memungkinkan memposting cerpen Eka yang pernah dimuat di Suara Merdeka ini karena memang tidak diambil dari buku. Semoga saja penulis berkenan. Jadi semoga posting ini bermanfaat bagi siapa saja yang sengaja/tidak sengaja ingin mengambil manfaat :). Sila membaca.
“KAMU masih sering dipukul orang?” tanya teman lamaku, waktu kami berjumpa di rumah nenek, lebaran lalu. “Ya, enggak, lah,” jawabku sambil nyengir.
Ia mengingatkanku pada masa kecil kami. Saat itu ibuku baru melahirkan adik, dan bapak menitipkanku ke rumah nenek di kampung. Di sekolah yang baru, hanya aku yang pakai sepatu dan hanya aku yang punya rautan pensil. Sial sekali memang. Dengan tubuh kecil, ringkih, hidung penuh ingus dan sering pilek, aku menjadi bulan-bulanan teman sekelas. Setiap hari mereka merampok uang jajanku.
Satu hari tiga anak memukuliku, karena aku sengaja tidak membawa uang jajan. Nenek mengetahuinya. Seharusnya Nenek mendatangi Kepala Sekolah dan mengadukan kelakuan anak-anak itu. Atau mengembalikan aku ke rumah ibuku, seperti keinginanku.
Rupanya Nenek punya cara sendiri. Sore hari ia membawaku ke sebuah gubuk di tepi mata air. Kelak aku mengetahui, pekerjaan pemilik gubuk itu memang menjaga mata air tersebut. Gubuk itu mungil saja, dengan asap mengepul dari celah atap sirapnya. Barangkali penghuni rumah sedang memasak di tungku dapur. Nenek mengetuk dan tak lama kemudian pintu terbuka.
Di depan kami berdiri seorang lelaki tua yang langsung mempersilakan Nenek duduk. “Enggak usah, aku cuma mampir sebentar,” kata Nenek sambil menoleh ke belakang lelaki tua itu. Di sana berdiri seorang anak lelaki, lebih tua dariku, memerhatikan kami dengan penasaran. “Kelas berapa anakmu, si Rohman itu?” tanya Nenek.
“Kelas empat,” si lelaki tua menjawab sambil menoleh ke anaknya dan berkata kepada anak itu, “Suruh emakmu bawa teh.”
Tapi Nenek buru-buru memberi isyarat Rohman agar tidak pergi, dan menyuruh mendekat. Rohman menghampiri Nenek, dan tanpa mempedulikan lelaki tua itu, Nenek berkata kepada Rohman:
“Dengar, mulai besok, kamu belajar di kelas dua dan duduk satu bangku dengan cucuku ini. Jika seseorang mengganggunya, kau boleh menghajar mereka sesuka kamu.”
Dengan kebingungan, Rohman menoleh ke ayahnya. Si lelaki tua hanya tersenyum, kemudian berkata, “Jangan khawatir. Besok ia akan duduk di kelas dua.”
Begitulah cara Nenek menyelesaikan persoalanku. Sejak saat itu, Rohman turun kelas dua tingkat. Hebat juga anak itu, sejak ia duduk sebangku denganku, tak seorang pun berani menggangguku lagi. Sepatuku terbebas dari injakan kaki-kaki dekil. Ah ya, kadang-kadang di luar sekolah, masih ada anak yang tak tahu apa-apa menggangguku, dan esok harinya, Rohman bisa menghajarnya hingga babak-belur.
Tapi tak lama setelah itu, Ayah mengambilku kembali dari rumah Nenek. Aku tak tahu apa yang terjadi. Ibu hanya pernah bercerita, aku menangis berhari-hari meminta pulang. Aku tak ingat apa yang membuatku menangis. Aku juga tak tahu apa yang terjadi dengan Rohman: apakah ia kembali melompat dua kelas sebagaimana mestinya, atau tetap meneruskan tingkatannya saat itu. Di sekolah yang baru, kadang-kadang ada yang mengganggu, tapi aku bisa mengatasinya. Di SMP, aku punya banyak teman dan tak ada yang mengganggu. Di SMA aku mengencani beberapa gadis cantik dan pintar, dan karena “gadis cantik yang pintar” jarang jadi rebutan, aku nyaris tak punya saingan. Aku masuk universitas dan jadi kutu buku. Aku bahkan nyaris lupa pernah punya teman sebangku bernama Rohman. Kini aku bertunangan dengan anak gadis bosku, Raisa, dan tak seorang pun berani mengusik hubungan kami.
Kemudian, lebaran lalu aku mengunjungi Nenek dan berjumpa dengan si Rohman ini, dan pertanyaannya sungguh konyol: “Kamu masih suka dipukuli orang?”
Kami berdua duduk di beranda dan berbagi segala hal yang kami tidak ketahui selama perpisahan itu. Rohman berkata, “Setiap kali pulang kampung, aku selalu menemui nenekmu hanya untuk tahu kabar tentangmu.” Aku hanya tersenyum dan menepuk lututnya. Lalu ia menambahkan, “Sampai sekarang aku masih sering kuatir, ada orang memukulimu.”
Aku tertawa dan kembali menepuk lututnya. “Enggak usah berlebihan begitu.”
Tapi dengan tatapan serius ia memandangku dan kembali berkata, “Di mana kamu sekarang tinggal? Aku akan memberimu sebuah jimat.”
“Jimat?”
“Jimat. Kamu bakal tahan pukul dan kebal senjata.”
***
JIMAT itu sekarang berada di tanganku. Namanya jimat sero. Kata Rohman, yang sengaja datang ke apartemenku, itu memang terbuat dari ekor sero. Rubah.
Karena tak tahu harus berbuat apa, aku bertanya apakah aku harus membayar? Berapa? Rohman hanya tertawa sambil menggeleng. Tidak, katanya, kamu tak perlu membayar sepeser pun. Ia memberikan jimat itu benar-benar karena ia mengkhawatirkanku. Ingat, katanya, dulu ia berjanji untuk menjagaku. Tapi ia tak mungkin menjagaku terus-menerus. Ia hanya bisa memberiku jimat itu.
Aku yang tak terbiasa memperoleh sesuatu secara cuma-cuma mencoba bertanya mengenai pekerjaannya. Barangkali ia punya anak, dan seperti kebiasaan orang desa, barangkali ia mencoba menitipkan anaknya untuk dimasukkan ke perusahaan tempatku bekerja, atau ke kantor-kantor kenalanaku. Tapi jelas ia tak membutuhkan apa pun. Ia sudah jadi juragan kopra di Banten selatan dan anaknya yang paling tua masih berumur sebelas tahun. Ia benar-benar tak membutuhkan apa pun dariku.
Setelah memaksanya menginap semalam dan mengajaknya berkeliling Jakarta untuk sekadar bersantai, ia akhirnya pulang.
Dan jimat itu bersamaku. Jimat sero.
Selama beberapa hari aku mencoba menghiraukannya, tapi semakin aku mencoba melupakan bahwa aku memiliki jimat, semakin aku mengingatnya. Jimat itu tebungkus dalam kantung kain katun kecil, dengan tali untuk mencantelkan, sebesar gelang tangan. Aku sudah memeriksanya, dan memang itu tampak seperti ekor binatang yang sudah kering. Tak ada tanda-tanda benda itu memiliki kesaktian apa pun. Bahkan aku ragu ia bisa melindungi dirinya sendiri.
“Kamu harus membawanya jika ingin merasakan keampuhan jimat ini. Masukkan ke saku celana sudah cukup,” begitu kata Rohman sebelum pergi.
Aku malah menggeletakkannya di meja, di samping komputerku.
Sampai kemudian terpikir olehku bahwa satu-satunya cara untuk meyakinkan apakah benda itu berguna atau tidak adalah dengan menjajalnya. Tapi sebelum itu tentu saja aku harus memastikan sesuatu. Sepuluh hari selepas kunjungan Rohman, aku meneleponnya.
“Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya,” kataku. “Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?”
Rohman tertawa dan menggeleng, “Tak ada yang perlu kamu risaukan.”
***
SEUMUR hidup aku tak pernah berkelahi. Tentu saja bukan berarti aku tak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Apa pun yang terjadi, aku selalu mencoba mengakhiri setiap perselisihan dengan siapa pun tanpa berkelahi. Teman-temanku bilang, aku pandai dalam hal membuat musuh menjadi teman. Tapi sejujurnya, ada kalanya aku harus menghindar. Lebih tepatnya, mengalah.
Saat pertama kali kupikirkan untuk mencoba jimat sero, aku langsung membayangkan beberapa orang yang menyebalkan, yang seharusnya kuhajar: sopir taksi yang pernah mengajakku berkeliling sambil berpura-pura tersesat, lalu memaksaku membayar dengan harga argometer yang melambung ke langit; preman kecil yang pernah menodongku di Tanah Abang, bertahun-tahun lalu ketika aku pertama kali datang ke Jakarta; dan barangkali seorang kolonel yang pernah aku lihat menabrak seorang perempuan tua di pinggir jalan, lalu pergi begitu saja seolah tak merasa bersalah.
Dengan sedikit was-was, kuambil jimat sero dari atas meja dan kutimang-timang sejenak di telapak tangan. Benarkah aku percaya omong-kosong mengenai jimat ini? Bukan hal yang aneh jika orang semacam Rohman bisa memiliki jimat, bahkan membuatnya. Aku tak tahu bagaimana seorang anak kecil tukang berkelahi menjelma seorang lelaki penuh klenik yang mampu menyediakan jimat. Tapi setelah kupikir-pikir, itu bukan hal yang aneh, sebenarnya.
Ayahnya, si tukang menjaga mata air, konon juga pemilik beragam ajian. Dan selama bertahun-tahun, ia merupakan orang kepercayaan Nenek dan Kakek. Ayah dan ibuku tak pernah menyinggung soal itu dan aku juga tak terlalu menaruh perhatian, tapi aku mengetahui hal itu.
Kumasukan jimat ke saku kiri celanaku. Itu tempat yang aman, sebab aku tak pernah menaruh apa pun di sana. Jimat itu tak akan jatuh secara tidak sengaja (misalnya karena aku mengambil uang receh atau telepon genggam). Dan untuk sejenak kucoba merasakan sekiranya ada tanda-tanda tertentu yang diberikan jimat itu kepadaku.
Tak ada apa-apa.
Rasanya aku jadi agak ragu-ragu. Benarkah ia membuatku kebal pukul dan senjata? Jangan-jangan jika aku mencobanya, aku malah babak-belur. Masih untung jika tidak langsung mati.
Aku bergidik dan kulirik pisau cukur.
“Tidak, kamu akan berdarah jika kamu lakukan sendiri. Jimat itu hanya bekerja jika seseorang memukulmu atau mencoba melukaimu dengan senjata.”
Tak ada cara lain untuk membuktikannya, pikirku. Setelah memikirkan hal itu selama beberapa saat, akhirnya aku pergi ke tempat kerjaku. Tak apa, toh sebenarnya tak ada keharusan untuk membuktikannya. Jika aku takut jimat itu ternyata tak bekerja sebagaimana yang dijanjikan, aku tak perlu berkelahi dengan siapa pun. Aku bisa melanjutkan hidupku sebagaimana biasa, sebagaimana hari-hari ketika jimat sero belum ada.
Umurku dua puluh sembilan tahun, dan aku baik-baik saja tanpa jimat sero. Dengan pikiran seperti itu, entah kenapa, aku tetap membawa jimat sero di saku celanaku.
***
AKU berjalan kaki ke apartemenku sambil menggigil. Aku tak tahu seberapa kusut diriku. Orang-orang melihatku dengan tatapan curiga. Aku tak peduli dan terus berjalan. Kulihat tanganku. Darah kering di mana-mana. Bahkan kemejaku juga berpelotan. Aku bisa melihat jemariku meregang satu sama lain dan aku tak yakin bisa menggerakkannya. Mereka bergerak sendiri. Ikut menggigil.
Terbayang olehku tubuh Nasrudin tersungkur ke pojok kamar mandi. Ada darah dari sudut bibirnya. Aku sangat senang melihat darah itu. Ternyata darah tidak semerah yang kubayangkan. Darah lebih gelap daripada merah. Merah itu warna bendera dan darah tidak berwarna seperti bendera. Darah lebih seperti warna kelopak mawar yang membusuk. Dan aku suka warna itu mengalir dari sudut bibir Nasrudin.
“Itu untuk mulut najismu,” kataku.
Aku membencinya sejak lama. Ia selalu mencari muka di depan bosku, dan selalu berupaya menjatuhkanku. Ia selalu punya cara untuk membantah gagasan-gagasanku, dan menjungkirkannya seolah-olah gagasanku merupakan gurauan orang bodoh. Aku tahu bosku termakan omongannya, tatapannya memandangku sedih. Hanya karena aku bertunangan dengan Raisa, tempatku di kantor tak tersentuh siapa pun. Meskipun begitu, sungguh, sesekali aku ingin menghajar Nasrudin.
Ingatan tersebut kembali membuatku menggigil.
Hari itu aku berhasil membuatnya marah dan aku menunggu apakah ia akan memukulku. Peristiwa itu terjadi di kamar mandi, setelah sebagian besar teman kerja kami pulang. Ia tidak memukulku, maka aku kembali memancingnya. Akhirnya ia menghampiriku, menyentuh pangkal kemejaku dan bertanya:
“Maumu apa?”
Aku meludahi mukanya.
Ia tercekat sejenak. Tentu saja ia tak akan percaya aku melakukan itu. Ia mengusap mukanya dengan lengan kemajanya, tanpa melepaskan genggamannya di pangkal kemejaku. Ia memandangku. Aku tersenyum mengejek. Ia masih memandangku. Kupandang kembali matanya. Itu saat-saat yang sangat menegangkan. Aku menunggu apa yang akan dilakukannya.
Lalu, bug, ia mengirimkan jotosannya ke rahangku. Aku terdorong beberapa langkah, tapi aku tak merasakan apa pun. Aku tersenyum dan menghampirinya.
Ia memukulku lagi. Aku tak merasakan pukulannya. Ia kembali memukul. Aku menerimanya bagaikan karung pasir. Ia memukuliku selama sekitar sepuluh menit, atau tiga puluh menit? Ia benar-benar kebingungan pukulannya tak berpengaruh apa-apa padaku. Hingga akhirnya aku melancarkan serangan balasan.
Satu pukulan mengirimnya ke samping pintu. Pukulan kedua membuat memar dahinya. Pukulan ketiga membuatnya terhuyung-huyung. Entah pukulan keberapa ia tersungkur di sudut kamar mandi dan darah mulai keluar dari ujung bibirnya.
“Ampun, ampun,” katanya.
Aku keluar dari kamar mandi. Aku tersenyum. Lalu tertawa. Lalu menggigil.
Aku masih menggigil tapi juga dilanda kesenangan ketika membuka kunci pintu apartemen. Ketika aku masuk ke dalam, aku merasa ada orang di dalam apartemenku. Tentu saja itu Raisa, pikirku. Raisa memiliki kunci apartemenku, dan ia bisa datang dan pergi sesuka hatinya. Kadang-kadang ia tidur di tempatku, dan saat-saat seperti itu tentu saja kami akan bercinta. Pagi hari ia akan pulang, kembali ke rumah orang tuanya.
Kunyalakan lampu dan kulihat Raisa di tempat tidur. Yang tidak biasa, ia di sana tidak sendirian. Ia bersama seorang lelaki. Aku hanya duduk di sofa, sambil memandang mereka melalui pintu kamar terbuka.
Aku mencopot sepatu, melepas kaus kaki. Kupandangi tanganku yang penuh noda darah. Kuintip kembali Raisa dengan lelaki itu. Kudengar desahan suara Raisa yang sangat kukenal.
Kemudian segalanya selesai.
Ia turun dari tempat tidur dan menghampiriku. “Hai, sudah pulang?” tanyanya. Suaranya kukenal baik. Rohman.
Aku tak menjawab. Aku tak tahu apakah aku tertidur atau tidak. Mungkin di antara itu.
***
KEMUDIAN aku teringat apa yang dulu membuatku menangis berhari-hari di rumah Nenek. Malam itu, aku melihat Nenek di atas tempat tidur bersama si penjaga mata air. Kakek hanya duduk di dipan rotan. Pemandangan itu menakutkanku, dan aku menangis sejak malam itu.
Entah bagaimana aku bisa melupakannya. Tapi malam ini, bertahun-tahun kemudian, aku mengingatnya. Tapi aku senang-senang saja. Aku senang melihat darah di tanganku. Aku senang melihat Raisa mandi keringat di tempat tidur. Aku senang melihat Rohman berjalan telanjang ke arahku. Terutama aku senang memiliki jimat sero di saku kiri celanaku. (*)
Saya baru selesai membaca cerpen ini dan saya rasa cerpen ini sangat menarik. Kebetulan sekali saya juga baru selesai membaca buku kumpulan cerpen Eka Kurniawan "Cinta Tak Ada Mati", tapi rasanya lebih memungkinkan memposting cerpen Eka yang pernah dimuat di Suara Merdeka ini karena memang tidak diambil dari buku. Semoga saja penulis berkenan. Jadi semoga posting ini bermanfaat bagi siapa saja yang sengaja/tidak sengaja ingin mengambil manfaat :). Sila membaca.
“KAMU masih sering dipukul orang?” tanya teman lamaku, waktu kami berjumpa di rumah nenek, lebaran lalu. “Ya, enggak, lah,” jawabku sambil nyengir.
Ia mengingatkanku pada masa kecil kami. Saat itu ibuku baru melahirkan adik, dan bapak menitipkanku ke rumah nenek di kampung. Di sekolah yang baru, hanya aku yang pakai sepatu dan hanya aku yang punya rautan pensil. Sial sekali memang. Dengan tubuh kecil, ringkih, hidung penuh ingus dan sering pilek, aku menjadi bulan-bulanan teman sekelas. Setiap hari mereka merampok uang jajanku.
Satu hari tiga anak memukuliku, karena aku sengaja tidak membawa uang jajan. Nenek mengetahuinya. Seharusnya Nenek mendatangi Kepala Sekolah dan mengadukan kelakuan anak-anak itu. Atau mengembalikan aku ke rumah ibuku, seperti keinginanku.
Rupanya Nenek punya cara sendiri. Sore hari ia membawaku ke sebuah gubuk di tepi mata air. Kelak aku mengetahui, pekerjaan pemilik gubuk itu memang menjaga mata air tersebut. Gubuk itu mungil saja, dengan asap mengepul dari celah atap sirapnya. Barangkali penghuni rumah sedang memasak di tungku dapur. Nenek mengetuk dan tak lama kemudian pintu terbuka.
Di depan kami berdiri seorang lelaki tua yang langsung mempersilakan Nenek duduk. “Enggak usah, aku cuma mampir sebentar,” kata Nenek sambil menoleh ke belakang lelaki tua itu. Di sana berdiri seorang anak lelaki, lebih tua dariku, memerhatikan kami dengan penasaran. “Kelas berapa anakmu, si Rohman itu?” tanya Nenek.
“Kelas empat,” si lelaki tua menjawab sambil menoleh ke anaknya dan berkata kepada anak itu, “Suruh emakmu bawa teh.”
Tapi Nenek buru-buru memberi isyarat Rohman agar tidak pergi, dan menyuruh mendekat. Rohman menghampiri Nenek, dan tanpa mempedulikan lelaki tua itu, Nenek berkata kepada Rohman:
“Dengar, mulai besok, kamu belajar di kelas dua dan duduk satu bangku dengan cucuku ini. Jika seseorang mengganggunya, kau boleh menghajar mereka sesuka kamu.”
Dengan kebingungan, Rohman menoleh ke ayahnya. Si lelaki tua hanya tersenyum, kemudian berkata, “Jangan khawatir. Besok ia akan duduk di kelas dua.”
Begitulah cara Nenek menyelesaikan persoalanku. Sejak saat itu, Rohman turun kelas dua tingkat. Hebat juga anak itu, sejak ia duduk sebangku denganku, tak seorang pun berani menggangguku lagi. Sepatuku terbebas dari injakan kaki-kaki dekil. Ah ya, kadang-kadang di luar sekolah, masih ada anak yang tak tahu apa-apa menggangguku, dan esok harinya, Rohman bisa menghajarnya hingga babak-belur.
Tapi tak lama setelah itu, Ayah mengambilku kembali dari rumah Nenek. Aku tak tahu apa yang terjadi. Ibu hanya pernah bercerita, aku menangis berhari-hari meminta pulang. Aku tak ingat apa yang membuatku menangis. Aku juga tak tahu apa yang terjadi dengan Rohman: apakah ia kembali melompat dua kelas sebagaimana mestinya, atau tetap meneruskan tingkatannya saat itu. Di sekolah yang baru, kadang-kadang ada yang mengganggu, tapi aku bisa mengatasinya. Di SMP, aku punya banyak teman dan tak ada yang mengganggu. Di SMA aku mengencani beberapa gadis cantik dan pintar, dan karena “gadis cantik yang pintar” jarang jadi rebutan, aku nyaris tak punya saingan. Aku masuk universitas dan jadi kutu buku. Aku bahkan nyaris lupa pernah punya teman sebangku bernama Rohman. Kini aku bertunangan dengan anak gadis bosku, Raisa, dan tak seorang pun berani mengusik hubungan kami.
Kemudian, lebaran lalu aku mengunjungi Nenek dan berjumpa dengan si Rohman ini, dan pertanyaannya sungguh konyol: “Kamu masih suka dipukuli orang?”
Kami berdua duduk di beranda dan berbagi segala hal yang kami tidak ketahui selama perpisahan itu. Rohman berkata, “Setiap kali pulang kampung, aku selalu menemui nenekmu hanya untuk tahu kabar tentangmu.” Aku hanya tersenyum dan menepuk lututnya. Lalu ia menambahkan, “Sampai sekarang aku masih sering kuatir, ada orang memukulimu.”
Aku tertawa dan kembali menepuk lututnya. “Enggak usah berlebihan begitu.”
Tapi dengan tatapan serius ia memandangku dan kembali berkata, “Di mana kamu sekarang tinggal? Aku akan memberimu sebuah jimat.”
“Jimat?”
“Jimat. Kamu bakal tahan pukul dan kebal senjata.”
***
JIMAT itu sekarang berada di tanganku. Namanya jimat sero. Kata Rohman, yang sengaja datang ke apartemenku, itu memang terbuat dari ekor sero. Rubah.
Karena tak tahu harus berbuat apa, aku bertanya apakah aku harus membayar? Berapa? Rohman hanya tertawa sambil menggeleng. Tidak, katanya, kamu tak perlu membayar sepeser pun. Ia memberikan jimat itu benar-benar karena ia mengkhawatirkanku. Ingat, katanya, dulu ia berjanji untuk menjagaku. Tapi ia tak mungkin menjagaku terus-menerus. Ia hanya bisa memberiku jimat itu.
Aku yang tak terbiasa memperoleh sesuatu secara cuma-cuma mencoba bertanya mengenai pekerjaannya. Barangkali ia punya anak, dan seperti kebiasaan orang desa, barangkali ia mencoba menitipkan anaknya untuk dimasukkan ke perusahaan tempatku bekerja, atau ke kantor-kantor kenalanaku. Tapi jelas ia tak membutuhkan apa pun. Ia sudah jadi juragan kopra di Banten selatan dan anaknya yang paling tua masih berumur sebelas tahun. Ia benar-benar tak membutuhkan apa pun dariku.
Setelah memaksanya menginap semalam dan mengajaknya berkeliling Jakarta untuk sekadar bersantai, ia akhirnya pulang.
Dan jimat itu bersamaku. Jimat sero.
Selama beberapa hari aku mencoba menghiraukannya, tapi semakin aku mencoba melupakan bahwa aku memiliki jimat, semakin aku mengingatnya. Jimat itu tebungkus dalam kantung kain katun kecil, dengan tali untuk mencantelkan, sebesar gelang tangan. Aku sudah memeriksanya, dan memang itu tampak seperti ekor binatang yang sudah kering. Tak ada tanda-tanda benda itu memiliki kesaktian apa pun. Bahkan aku ragu ia bisa melindungi dirinya sendiri.
“Kamu harus membawanya jika ingin merasakan keampuhan jimat ini. Masukkan ke saku celana sudah cukup,” begitu kata Rohman sebelum pergi.
Aku malah menggeletakkannya di meja, di samping komputerku.
Sampai kemudian terpikir olehku bahwa satu-satunya cara untuk meyakinkan apakah benda itu berguna atau tidak adalah dengan menjajalnya. Tapi sebelum itu tentu saja aku harus memastikan sesuatu. Sepuluh hari selepas kunjungan Rohman, aku meneleponnya.
“Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya,” kataku. “Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?”
Rohman tertawa dan menggeleng, “Tak ada yang perlu kamu risaukan.”
***
SEUMUR hidup aku tak pernah berkelahi. Tentu saja bukan berarti aku tak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Apa pun yang terjadi, aku selalu mencoba mengakhiri setiap perselisihan dengan siapa pun tanpa berkelahi. Teman-temanku bilang, aku pandai dalam hal membuat musuh menjadi teman. Tapi sejujurnya, ada kalanya aku harus menghindar. Lebih tepatnya, mengalah.
Saat pertama kali kupikirkan untuk mencoba jimat sero, aku langsung membayangkan beberapa orang yang menyebalkan, yang seharusnya kuhajar: sopir taksi yang pernah mengajakku berkeliling sambil berpura-pura tersesat, lalu memaksaku membayar dengan harga argometer yang melambung ke langit; preman kecil yang pernah menodongku di Tanah Abang, bertahun-tahun lalu ketika aku pertama kali datang ke Jakarta; dan barangkali seorang kolonel yang pernah aku lihat menabrak seorang perempuan tua di pinggir jalan, lalu pergi begitu saja seolah tak merasa bersalah.
Dengan sedikit was-was, kuambil jimat sero dari atas meja dan kutimang-timang sejenak di telapak tangan. Benarkah aku percaya omong-kosong mengenai jimat ini? Bukan hal yang aneh jika orang semacam Rohman bisa memiliki jimat, bahkan membuatnya. Aku tak tahu bagaimana seorang anak kecil tukang berkelahi menjelma seorang lelaki penuh klenik yang mampu menyediakan jimat. Tapi setelah kupikir-pikir, itu bukan hal yang aneh, sebenarnya.
Ayahnya, si tukang menjaga mata air, konon juga pemilik beragam ajian. Dan selama bertahun-tahun, ia merupakan orang kepercayaan Nenek dan Kakek. Ayah dan ibuku tak pernah menyinggung soal itu dan aku juga tak terlalu menaruh perhatian, tapi aku mengetahui hal itu.
Kumasukan jimat ke saku kiri celanaku. Itu tempat yang aman, sebab aku tak pernah menaruh apa pun di sana. Jimat itu tak akan jatuh secara tidak sengaja (misalnya karena aku mengambil uang receh atau telepon genggam). Dan untuk sejenak kucoba merasakan sekiranya ada tanda-tanda tertentu yang diberikan jimat itu kepadaku.
Tak ada apa-apa.
Rasanya aku jadi agak ragu-ragu. Benarkah ia membuatku kebal pukul dan senjata? Jangan-jangan jika aku mencobanya, aku malah babak-belur. Masih untung jika tidak langsung mati.
Aku bergidik dan kulirik pisau cukur.
“Tidak, kamu akan berdarah jika kamu lakukan sendiri. Jimat itu hanya bekerja jika seseorang memukulmu atau mencoba melukaimu dengan senjata.”
Tak ada cara lain untuk membuktikannya, pikirku. Setelah memikirkan hal itu selama beberapa saat, akhirnya aku pergi ke tempat kerjaku. Tak apa, toh sebenarnya tak ada keharusan untuk membuktikannya. Jika aku takut jimat itu ternyata tak bekerja sebagaimana yang dijanjikan, aku tak perlu berkelahi dengan siapa pun. Aku bisa melanjutkan hidupku sebagaimana biasa, sebagaimana hari-hari ketika jimat sero belum ada.
Umurku dua puluh sembilan tahun, dan aku baik-baik saja tanpa jimat sero. Dengan pikiran seperti itu, entah kenapa, aku tetap membawa jimat sero di saku celanaku.
***
AKU berjalan kaki ke apartemenku sambil menggigil. Aku tak tahu seberapa kusut diriku. Orang-orang melihatku dengan tatapan curiga. Aku tak peduli dan terus berjalan. Kulihat tanganku. Darah kering di mana-mana. Bahkan kemejaku juga berpelotan. Aku bisa melihat jemariku meregang satu sama lain dan aku tak yakin bisa menggerakkannya. Mereka bergerak sendiri. Ikut menggigil.
Terbayang olehku tubuh Nasrudin tersungkur ke pojok kamar mandi. Ada darah dari sudut bibirnya. Aku sangat senang melihat darah itu. Ternyata darah tidak semerah yang kubayangkan. Darah lebih gelap daripada merah. Merah itu warna bendera dan darah tidak berwarna seperti bendera. Darah lebih seperti warna kelopak mawar yang membusuk. Dan aku suka warna itu mengalir dari sudut bibir Nasrudin.
“Itu untuk mulut najismu,” kataku.
Aku membencinya sejak lama. Ia selalu mencari muka di depan bosku, dan selalu berupaya menjatuhkanku. Ia selalu punya cara untuk membantah gagasan-gagasanku, dan menjungkirkannya seolah-olah gagasanku merupakan gurauan orang bodoh. Aku tahu bosku termakan omongannya, tatapannya memandangku sedih. Hanya karena aku bertunangan dengan Raisa, tempatku di kantor tak tersentuh siapa pun. Meskipun begitu, sungguh, sesekali aku ingin menghajar Nasrudin.
Ingatan tersebut kembali membuatku menggigil.
Hari itu aku berhasil membuatnya marah dan aku menunggu apakah ia akan memukulku. Peristiwa itu terjadi di kamar mandi, setelah sebagian besar teman kerja kami pulang. Ia tidak memukulku, maka aku kembali memancingnya. Akhirnya ia menghampiriku, menyentuh pangkal kemejaku dan bertanya:
“Maumu apa?”
Aku meludahi mukanya.
Ia tercekat sejenak. Tentu saja ia tak akan percaya aku melakukan itu. Ia mengusap mukanya dengan lengan kemajanya, tanpa melepaskan genggamannya di pangkal kemejaku. Ia memandangku. Aku tersenyum mengejek. Ia masih memandangku. Kupandang kembali matanya. Itu saat-saat yang sangat menegangkan. Aku menunggu apa yang akan dilakukannya.
Lalu, bug, ia mengirimkan jotosannya ke rahangku. Aku terdorong beberapa langkah, tapi aku tak merasakan apa pun. Aku tersenyum dan menghampirinya.
Ia memukulku lagi. Aku tak merasakan pukulannya. Ia kembali memukul. Aku menerimanya bagaikan karung pasir. Ia memukuliku selama sekitar sepuluh menit, atau tiga puluh menit? Ia benar-benar kebingungan pukulannya tak berpengaruh apa-apa padaku. Hingga akhirnya aku melancarkan serangan balasan.
Satu pukulan mengirimnya ke samping pintu. Pukulan kedua membuat memar dahinya. Pukulan ketiga membuatnya terhuyung-huyung. Entah pukulan keberapa ia tersungkur di sudut kamar mandi dan darah mulai keluar dari ujung bibirnya.
“Ampun, ampun,” katanya.
Aku keluar dari kamar mandi. Aku tersenyum. Lalu tertawa. Lalu menggigil.
Aku masih menggigil tapi juga dilanda kesenangan ketika membuka kunci pintu apartemen. Ketika aku masuk ke dalam, aku merasa ada orang di dalam apartemenku. Tentu saja itu Raisa, pikirku. Raisa memiliki kunci apartemenku, dan ia bisa datang dan pergi sesuka hatinya. Kadang-kadang ia tidur di tempatku, dan saat-saat seperti itu tentu saja kami akan bercinta. Pagi hari ia akan pulang, kembali ke rumah orang tuanya.
Kunyalakan lampu dan kulihat Raisa di tempat tidur. Yang tidak biasa, ia di sana tidak sendirian. Ia bersama seorang lelaki. Aku hanya duduk di sofa, sambil memandang mereka melalui pintu kamar terbuka.
Aku mencopot sepatu, melepas kaus kaki. Kupandangi tanganku yang penuh noda darah. Kuintip kembali Raisa dengan lelaki itu. Kudengar desahan suara Raisa yang sangat kukenal.
Kemudian segalanya selesai.
Ia turun dari tempat tidur dan menghampiriku. “Hai, sudah pulang?” tanyanya. Suaranya kukenal baik. Rohman.
Aku tak menjawab. Aku tak tahu apakah aku tertidur atau tidak. Mungkin di antara itu.
***
KEMUDIAN aku teringat apa yang dulu membuatku menangis berhari-hari di rumah Nenek. Malam itu, aku melihat Nenek di atas tempat tidur bersama si penjaga mata air. Kakek hanya duduk di dipan rotan. Pemandangan itu menakutkanku, dan aku menangis sejak malam itu.
Entah bagaimana aku bisa melupakannya. Tapi malam ini, bertahun-tahun kemudian, aku mengingatnya. Tapi aku senang-senang saja. Aku senang melihat darah di tanganku. Aku senang melihat Raisa mandi keringat di tempat tidur. Aku senang melihat Rohman berjalan telanjang ke arahku. Terutama aku senang memiliki jimat sero di saku kiri celanaku. (*)
Rabu, April 27, 2011
Kamis, April 14, 2011
Minat Baca yang Kembali?
Pagi ini setelah urusan bimbingan skripsi berjalan lebih mudah dengan dosen pembimbing dan terutama setelah ada keputusan bersama untuk melakukan bimbingan via e-mail, rasanya ada beban yang sedikit terlepas dari benak. well it's such a relief!. Semoga tidak justru membuat semakin bermalas-malasan.Paling tidak untuk menjaga keseimbangan, akhirnya diputuskan untuk meminjam beberapa buku bacaan/novel di perpustakaan kampus yang selama ini belum sempat dibaca: As I lay Dying milik Kakek Faulkner, The Catcher in the Rye karya J.D Sallinger dan citarasa lokal untuk tetap melihat diri dari kacamata kebangsaan dipilihlah karya Mochtar Lubis Jalan Tak Ada Ujung. Semoga buku-buku tersebut mampu mengusir kejenuhan untuk mengerjakan skripsi lebih serius jika tidak ingin disebut main-main. Atau paling tidak tetap mampu memberikan jeda yang berarti ketika lelah pada kekonyolan hidup itu sendiri. Tentunya mampu mengingatkan jika tak ingin menganggap sebagai motivasi untuk mengerjakan kewajiban yang diwajib-wajibkan yaitu skripsi itu sendiri. Hhhh...
Akhirnya semoga pagi ini menjadi titik awal untuk menjaga diri pada jalur yang tepat meski tetaplah itu semua tidak lebih dari jalur random/acak dan menuju ketiadaan itu sendiri. Tetap membaca, tetap bekerja, tetap menulis dan selalu setia menghidupi kekonyolan hidup.
-sangit-
Minggu, April 10, 2011
Tanggal Sepuluh di bulan april
Tanggal sepuluh di bulan april. Semua berjalan seperti biasanya. Kebetulan sekali hari sabtu. Bukan, bukan karena di hari lain sibuk. Ahh..mungkin menonton film memang bisa disebut sibuk. Jadi mungkin memang sibuk. Tapi tanggal sepuluh april pun ternyata lebih banyak dihabiskan menonton film juga. Jadi kalaupun sibuk maka kesibukannya pun sama.
Tanggal sepuluh di bulan april. Posting pertama di bulan april. Ahh..mungkin bukan posting pertama di bulan april karena tahun lalu sudah pernah. Jadi yang benar adalah posting pertama di tanggal sepuluh di bulan april di tahun ini. Itu berarti di tanggal yang sama dan di bulan april tahun lalu sudah pernah ada posting yang seperti ini. Ohh..rasanya tidak, mungkin hanya sama di bulan april atau sebenarnya tidak pernah..entahlah. Tapi jika benar belum pernah maka ini jadi posting pertama di tanggal sepuluh di bulan april.
Tanggal sepuluh di bulan april. Tidak banyak yang bisa diceritakan. Tidur di pagi hari setelah menjemur pakaian. Bangun siang hari agak kesorean dengan kepala sedikit pusing. Bukan, bukan karena jatuh dari tempat tidur dan kepala terbentur lantai kemudian tertimpa laptop yang jatuh dari meja. Terlalu berlebihan. Hanya pusing sederhana seorang manusia megembalikan kesadaran nyata setelah menghidupi kesadaran mimpi (yang barusan adalah denotasi tak menyimpan konotasi).
Tanggal sepuluh di bulan april. Tidak ada yang istimewa yang dilakukan setelah kesadaran didapat. Hanya kemudian memasak air untuk segelas teh sambil menikmati sore di balkon depan kamar kos sangat sangat sangat serius sederhana dengan sahutan eyang-eyang Beatles dan Om-om Naif. Ahh..sore yang begitu sederhana dan nyaman di tanggal sepuluh di bulan april dengan buih gula yang masih berputar di cangkir.
Tanggal sepuluh di bulan april. Berdiam diri di kamar sambil medengarkan suara film 'Janji Joni' dan 'Tiga Hari Untuk Selamanya'. Sebuah cara baru menikmati film di tanggal sepuluh di bulan april. Ahh..tak harus di tanggal sepuluh, tapi mungkin harus di bulan april karena bulan depan bulan mei. Itu berarti tanggal sepuluh di bulan mei. Ahh..bulan apalah asal ada film yang diputar dan siap didengarkan.
Tanggal sepuluh di bulan april. Setelah puas medengarkan film, sepertinya memang harus kembali ke cara konvensional tradisional komunal visual. 'Menonton film'. Akhirnya, setelah melalui perdebatan batin dan berakhir dengan sistem random, yang ditonton adalah 'Tiga Hari Untuk Selamanya' dan 'Gie' kebetulan dua-duanya film Riri Riza. Dianggap kebetulan karena dibetul-betulkan. Kebetulan yang dibetul-betulkan di tanggal sepuluh di bulan april.
Tanggal sepuluh di bulan april. Dan inilah yang benar-benar tanggal sepuluh di bulan april. Dinihari sesaat setelah menyantap nasi dengan tempe gorengan orag lain dan telur ceplok gorengan sendiri, diputuskan untuk keluar kos. Sedikit kaget karena di luar masih ramai seperti jam 7 malam. Mungkin orang-orang di sekitar kos memang lebih suka minggu dinihari dibanding malam minggu. Iya Minggu dinihari di tanggal sepuluh di bulan april.
Tanggal sepuluh di bulan april. Sesaat sebelum berhalusinasi dengan postingan 'tanggal sepuluh di bulan april,' sedikit menengok blok teman karena ada pemberitahuan posting baru di dasbor blog. Tidak ada yang istimewa seperti di blog ini kecuali berisi posting makian dan cacian atau sekedar pertanyaan 'sudah puaskah seseorang karena telah meninggalkan teman yang punya blog.' Banyak kejadian di tanggal sepuluh di bulan april. Hanya seperjutaan dari sekian banyak yang mampu diambil dan dimasukkan dalam catatan. Ahh..akhirnya sebuah catatan di tanggal sepuluh di bulan april yang melibatkan sembilan april selesai. Semoga masih ada sepuluh april lainnya. Bukan, bukan takut tak bertemu sepuluh april lagi, tapi bukankah lebih menakutkan jika tanggal sembilan dan sebelas di bulan april tak pernah bertemu karena tanggal sepuluh di bulan april hilang.
-sangit-
Tanggal sepuluh di bulan april. Posting pertama di bulan april. Ahh..mungkin bukan posting pertama di bulan april karena tahun lalu sudah pernah. Jadi yang benar adalah posting pertama di tanggal sepuluh di bulan april di tahun ini. Itu berarti di tanggal yang sama dan di bulan april tahun lalu sudah pernah ada posting yang seperti ini. Ohh..rasanya tidak, mungkin hanya sama di bulan april atau sebenarnya tidak pernah..entahlah. Tapi jika benar belum pernah maka ini jadi posting pertama di tanggal sepuluh di bulan april.
Tanggal sepuluh di bulan april. Tidak banyak yang bisa diceritakan. Tidur di pagi hari setelah menjemur pakaian. Bangun siang hari agak kesorean dengan kepala sedikit pusing. Bukan, bukan karena jatuh dari tempat tidur dan kepala terbentur lantai kemudian tertimpa laptop yang jatuh dari meja. Terlalu berlebihan. Hanya pusing sederhana seorang manusia megembalikan kesadaran nyata setelah menghidupi kesadaran mimpi (yang barusan adalah denotasi tak menyimpan konotasi).
Tanggal sepuluh di bulan april. Tidak ada yang istimewa yang dilakukan setelah kesadaran didapat. Hanya kemudian memasak air untuk segelas teh sambil menikmati sore di balkon depan kamar kos sangat sangat sangat serius sederhana dengan sahutan eyang-eyang Beatles dan Om-om Naif. Ahh..sore yang begitu sederhana dan nyaman di tanggal sepuluh di bulan april dengan buih gula yang masih berputar di cangkir.
Tanggal sepuluh di bulan april. Berdiam diri di kamar sambil medengarkan suara film 'Janji Joni' dan 'Tiga Hari Untuk Selamanya'. Sebuah cara baru menikmati film di tanggal sepuluh di bulan april. Ahh..tak harus di tanggal sepuluh, tapi mungkin harus di bulan april karena bulan depan bulan mei. Itu berarti tanggal sepuluh di bulan mei. Ahh..bulan apalah asal ada film yang diputar dan siap didengarkan.
Tanggal sepuluh di bulan april. Setelah puas medengarkan film, sepertinya memang harus kembali ke cara konvensional tradisional komunal visual. 'Menonton film'. Akhirnya, setelah melalui perdebatan batin dan berakhir dengan sistem random, yang ditonton adalah 'Tiga Hari Untuk Selamanya' dan 'Gie' kebetulan dua-duanya film Riri Riza. Dianggap kebetulan karena dibetul-betulkan. Kebetulan yang dibetul-betulkan di tanggal sepuluh di bulan april.
Tanggal sepuluh di bulan april. Dan inilah yang benar-benar tanggal sepuluh di bulan april. Dinihari sesaat setelah menyantap nasi dengan tempe gorengan orag lain dan telur ceplok gorengan sendiri, diputuskan untuk keluar kos. Sedikit kaget karena di luar masih ramai seperti jam 7 malam. Mungkin orang-orang di sekitar kos memang lebih suka minggu dinihari dibanding malam minggu. Iya Minggu dinihari di tanggal sepuluh di bulan april.
Tanggal sepuluh di bulan april. Sesaat sebelum berhalusinasi dengan postingan 'tanggal sepuluh di bulan april,' sedikit menengok blok teman karena ada pemberitahuan posting baru di dasbor blog. Tidak ada yang istimewa seperti di blog ini kecuali berisi posting makian dan cacian atau sekedar pertanyaan 'sudah puaskah seseorang karena telah meninggalkan teman yang punya blog.' Banyak kejadian di tanggal sepuluh di bulan april. Hanya seperjutaan dari sekian banyak yang mampu diambil dan dimasukkan dalam catatan. Ahh..akhirnya sebuah catatan di tanggal sepuluh di bulan april yang melibatkan sembilan april selesai. Semoga masih ada sepuluh april lainnya. Bukan, bukan takut tak bertemu sepuluh april lagi, tapi bukankah lebih menakutkan jika tanggal sembilan dan sebelas di bulan april tak pernah bertemu karena tanggal sepuluh di bulan april hilang.
-sangit-
Jumat, Maret 11, 2011
[nyampah] Jepang dan Tokyo Story
Judul di atas tidak pernah mewakili tulisan yang sekarang saya ketik dan kemudian nantinya mungkin (meski kemungkinannya kecil) salah satu anda membacanya. satu-satunya alasan tulisan ini diketik hanyalah karena agak merasa aneh dengan kata jepang akhir-akhir ini atau lebih tepatnya beberapa jam sebelum posting ini dibuat.
Aneh karena baru saja saya sempat menonton film 'Tokyo Story' karya Ozu dan harus saya akui bahwa film tersebut termasuk tiga film yang membuat saya benar-benar terharu dan cukup lama tak bisa berkata-kata atau jika kondisi 'tak mampu berkata-kata' terlalu berlebihan paling tidak dalam benak saya muncul rasa rindu yang luar biasa terhadap orang tua saya. Dan bukan berarti sebelumnya tidak pernah tapi lebih seperti sebuah rindu yang seakan sebelumnya tertahan 'nalar' dan 'pendewaan terhadap kebebasan semu' yang menemukan celah keluar dan seakan kemudian tak cukup celah namun membuncah. Dan adakah yang lebih besar dari rindu yang membuncah?
Aneh? belum sampai ternyata setelah kemudian memutuskan browsing di internet ternyata baru saja terjadi bencana di Jepang. Kebetulan atau tidak yang jelas saya merasa banyak belajar berpikir ulang akhir-akhir ini setelah melihat cara berpikir orang jepang baik dari buku atau lewat film. Bukan, bukan untuk meniru apa yang mereka pikirkan dan lakukan tapi bagaimana mereka bisa menghidupi hidup dengan tradisi mereka meski jelas merekapun mulai terserap modernisasi.
Ah..aneh atau tidak, semoga dimanapun dan siapapun yang tertimpa bencana mampu menguasai diri masing-masing dan tetap tak bosan menghidupi hidup yag konyol seperti ini. Bukankah sekonyol-konyolnya hidup ini tak lebih konyol daripada membaca tulisan ini. Indeed ridiculous!
Aneh karena baru saja saya sempat menonton film 'Tokyo Story' karya Ozu dan harus saya akui bahwa film tersebut termasuk tiga film yang membuat saya benar-benar terharu dan cukup lama tak bisa berkata-kata atau jika kondisi 'tak mampu berkata-kata' terlalu berlebihan paling tidak dalam benak saya muncul rasa rindu yang luar biasa terhadap orang tua saya. Dan bukan berarti sebelumnya tidak pernah tapi lebih seperti sebuah rindu yang seakan sebelumnya tertahan 'nalar' dan 'pendewaan terhadap kebebasan semu' yang menemukan celah keluar dan seakan kemudian tak cukup celah namun membuncah. Dan adakah yang lebih besar dari rindu yang membuncah?
Aneh? belum sampai ternyata setelah kemudian memutuskan browsing di internet ternyata baru saja terjadi bencana di Jepang. Kebetulan atau tidak yang jelas saya merasa banyak belajar berpikir ulang akhir-akhir ini setelah melihat cara berpikir orang jepang baik dari buku atau lewat film. Bukan, bukan untuk meniru apa yang mereka pikirkan dan lakukan tapi bagaimana mereka bisa menghidupi hidup dengan tradisi mereka meski jelas merekapun mulai terserap modernisasi.
Ah..aneh atau tidak, semoga dimanapun dan siapapun yang tertimpa bencana mampu menguasai diri masing-masing dan tetap tak bosan menghidupi hidup yag konyol seperti ini. Bukankah sekonyol-konyolnya hidup ini tak lebih konyol daripada membaca tulisan ini. Indeed ridiculous!
Kamis, Februari 03, 2011
Bright Star, would I were stedfast as thou art - a John Keats' poem

Not in lone splendor hung aloft the night
And watching, with eternal lids apart,
Like nature's patient, sleepless Eremite,
The moving waters at their priestlike task
Of pure ablution round earth's human shores,
Or gazing on the new soft-fallen mask
Of snow upon the mountains and the moors
No yet still stedfast, still unchangeable,
Pillow'd upon my fair love's ripening breast,
To feel for ever its soft fall and swell,
Awake for ever in a sweet unrest,
Still, still to hear her tender-taken breath,
And so live ever or else swoon to death
Rabu, Februari 02, 2011
Kursi
:badut
Maka semua menyebutmu kursi
Tempat kaki menyerah menyangga diri
Kau tahu, kau tak butuh benar menahanku
Pada pangkuanmu, karena seketika itu
Cukup kutahu ada harapan untuk jedaku
Padamu tentu.
Maka semua meyebutmu kursi
Tempat tubuh tak menyerah membaring diri
Kau tahu, Kau cukup melunakkan tengah tubuhku
Menyandarkan sisanya, dan oleh sebab itu
Terlihat landai pandanganku tak perlu curam
Padamu tentu.
Kau tahu mereka menyebutmu?
Kau tak tahu mereka menyebutmu
Kau hanya tahu mereka tak benar mereka
Kau sangat yakin mereka Satu
Kau menyebutku mereka
Kau jeda pada senyap sakral langit berbintang mereka
Kau debar landai pandang membelakangi curam mereka
Padamu? Kau pasti tahu.
Maka semua menyebutmu kursi
Tempat kaki menyerah menyangga diri
Kau tahu, kau tak butuh benar menahanku
Pada pangkuanmu, karena seketika itu
Cukup kutahu ada harapan untuk jedaku
Padamu tentu.
Maka semua meyebutmu kursi
Tempat tubuh tak menyerah membaring diri
Kau tahu, Kau cukup melunakkan tengah tubuhku
Menyandarkan sisanya, dan oleh sebab itu
Terlihat landai pandanganku tak perlu curam
Padamu tentu.
Kau tahu mereka menyebutmu?
Kau tak tahu mereka menyebutmu
Kau hanya tahu mereka tak benar mereka
Kau sangat yakin mereka Satu
Kau menyebutku mereka
Kau jeda pada senyap sakral langit berbintang mereka
Kau debar landai pandang membelakangi curam mereka
Padamu? Kau pasti tahu.
01-01-11 18:34
Senin, Januari 24, 2011
Black Swan (2010)
Black Swan|2010|Directed by. Darren Aronovsky"I had the craziest dream last night about a girl who has turned into a swan, but her prince falls for the wrong girl and she kills herself."-Nina, Black Swan
Jika penulis pernah bilang film yang tidak mungkin disangkal sebagai film yang tidak boleh dilewatkan di tahun 2010 adalah Inception, Black Swan mungkin adalah film untuk menutup 2010 dan memulai 2011 dengan berharap akan ada film sespektakuler film tersebut.
Film ini dimulai dengan sebuah mimpi Nina (Natalie Portman) tentang seorang gadis yang berubah menjadi 'angsa' tapi pangeran dari angsa tersebut memilih gadis lain sehingga 'si angsa' memilih untuk bunuh diri. Mimpi Nina tersebut berhubungan dengan sebuah peran utama dalam pagelaran balerina "Swan Lake" yang sudah sangat familiar mungkin bagi kita. Sebagai seorang balerina, peran utama dalam "Swan Lake" adalah peran yang sangat luar biasa.
Setelah dibuka dengan mimpi Nina, film ini berlanjut dengan sebuah pengumuman dari Thomas Leroy (Vincent Cassel) bahwa dia akan mencari pengganti Beth (Winona Ryder) dalam pertunjukan "Swan Lake" sebagai pembuka musim pertunjukannya yang baru. Dan pada akhirnya Nina lah yang ditunjuk sebagai Balerina utama. Apakah film ini selesai begitu saja setelah Nina mendapatkan perannya? rasanya tidak. Butuh sebuah 'kekuatan' untuk tetap menjaga peran tersebut di tangan karena muncul Balerina baru, Lily (Mila Kunis) yang juga sangat menarik Thomas. Selain itu Nina harus menghadapi fakta bahwa dia luar biasa memerankan White Swan, tapi tidak dengan Black Swan.
Film ini sendiri pada akhirnya berakhir bahagia jika tidak ingin dibilang tragis. Karena bagi penulis, apa yang lebih bahagia dari ambisi yang terbayar. Beberapa hal yang membuat penulis sangat tertarik adalah bahwa keinginan yang semakin besar akan menjadi sebuah ambisi dan ambisi yang semakin membesar akan berubah menjadi halusinasi yang menghantui.
Bagi penulis pribadi, tidak ada masalah ketika sesuatu sekedar menjadi keinginan atau berubah menjadi ambisi bahkan sampai berhalusinansi karena sebenarnya keduanya mencari hasil sebagai solusi. Apakah selalu keinginan dan ambisi bisa meraih hasil? mungkin tidak selalu, tapi bagaimana menghadapi kegagalan itulah yang hampir pasti mengikuti keinginan dan ambisi. Serta bagaimana jika ambisi menemui solusi? kesempunaan tentunya, apa lagi? seperti ucapan Nina di akhir film;
"I felt perfect, I was Perfect,"-Nina, black Swan
Download Black Swan(Dvdscr|400mb|mkv|mediafire) part1 | part2
Subtitle Indonesia
Join file dengan HjSplit|download HjSplit di Cinema3satu
Thanks to Cinema3satu.
Inception (2010)
Inception|2010|Directed by. Christopher Nolan"Dreams feel real while we're in them. It's only when we wake up that we realize something was actually strange."-Cobb, Inception-
Inilah film yang tidak bisa disangkal lagi sebagai film yang tidak boleh dilewatkan di tahun 2010. Rasanya tidak berlebihan jika penulis berasumsi seperti itu. kita akan benar-benar disuguhi sebuah perpaduan antara cerita yang bagus, efek luar biasa dan tentu saja bagaimana film ini mampu menjaga mata untuk terus melihat mulai dari awal sampai akhir.
Film ini bercerita tentang sebuah perjalanan yang tidak bisa dibilang biasa yang 'harus' dilakukan oleh Cobb (Leonardo DiCaprio) ke dalam mimpi Rober Fischer (Cillian Murphy) untuk menanamkan sebuah keinginan yang dalam hal ini akan menguntungkan bisnis Saito (Ken Watanabe) di dunia nyata. Cobb 'harus' melakukan perjalanan ini karena permintaan Saito yang mempunyai 'kekuatan' untuk bisa membebaskan dirinya dari pelarian sehingga dia bisa menemui kembali dua anaknya.
Dibantu Arthur (Joseph Gordon-Levitt), 'rekrutan baru' Adriane (Ellen Page) dan Saito sendiri, Cobb dkk berseluncur ke dalam mimpi untuk menemui mimpi Robert Fischer. Untuk melakukan penanaman pikiran (inception), Cobb dkk harus melakukannya dalam beberapa lapis mimpi. Hal ini tidak mudah tentu saja karena mereka tidak punya banyak waktu dan sangat susah pasti menjaga stabilitas mimpi dalam mimpi. Selain itu Cobb harus melawan kehadiran 'istrinya', Mal (Marion Cotillard) yang terus berusaha merayu Cobb. Sebagai resiko, bisa saja mereka terlempar ke dalam Limbo, sebuah tempat dalam mimpi yang membuat orang tidak akan pernah lagi kembali ke dunia nyata.
Mampukah Cobb dkk melewati semua itu? Film ini sendiri pada akhirnya harus berakhir ambigu jika tidak ingin dibilang tanpa penyelesaian. Namun Apakah segala hal harus mempunyai akhir yang pasti? Rasanya sang sutradara, Christopher Nolan tidak pernah salah membuat film seluar biasa ini karena dari beberapa film yang telah dia buat Inilah film yang mempunyai rating tertinggi di IMDB walaupun tentunya film yang lain pun tidak mungkin dibilang jelek.
Terlepas dari keseluruhan film, penulis pribadi sangat tertarik dengan ide cerita tentang bagaimana bermimpi dalam sebuah mimpi serta konsep Limbo. Sebagian dari kita mungkin tahu apa arti Limbo yaitu tempat dimana orang akan dilupakan. Mungkinkah hal itu benar-benar ada di dunia nyata atau yah.. sekedar di dunia fiksi? Rasanya fiksi ataupun nyata mempunyai kebenaran masing-masing, bisa saja sama bisa sama sekali berbeda. Tidak ada yag lebih agung diantaranya karena jika begitu, kita bisa lihat apa yag terjadi di televisi akhir-akhir ini orang-orang lebih menghargai fiksi ketika hal itu diberi nama reality (yah seperti reality show di tv yang tidak benar-benar reality maupun fiksi).
Download Inception (DVDRip450mb|mkv)pass=dell@indofiles
Subtitle|English|Indonesia
Join file dengan HjSplit|download HjSplit di Cinema3satu
Thanks to Cinema3satu.
Kamis, Januari 13, 2011
Kisah Lelaki Penjual Mainan Dan Air Mata
Namaku Raet. Aku adalah salah satu warga negeri Doogya. Negeri yang tidak terlalu jauh dari negerimu. Sehari-hari aku berkeliling komplek rumah dari mulai komplek yang paling kumuh sampai yang paling mewah. Tapi mulai beberapa tahun lalu kuputuskan untuk berhenti menyambangi komplek mewah.
Kau mungkin akan maklum karena sebagai penjual mainan keliling rasanya susah sekali mendapat izin masuk komplek mewah seperti itu, sama seperti di negerimu bukan. Beberapa kali aku harus memotong uang labaku tidak hanya untuk rokok, tapi juga nasi bungkus untuk satpam yang aku sogok. Awalnya memang tidak memberikan masalah buatku karena tentu harga mainannya aku naikkan tapi masalah lain yang lebih penting untuk keberlangsungan karirku mengancam. Kau mungkin heran masalah apa yang mengancam pekerjaan remeh di negerimu itu yang dengan bangga di negeriku aku sebut karir. Aku akhirnya sadar ternyata lebih sulit membuat anak-anak kecil komplek mewah menangis.
Seperti yang sudah aku bilang tadi aku berhenti berkeliling di komplek mewah di Negeriku bukan karena ongkos sogok yang kadang tidak cukup hanya rokok tapi lebih karena susah sekali membuat anak-anak di sana menangis. Waktu kecil kau mungkin pernah menangis karena kau begitu menginginkan sebuah mainan yang dipajang tapi orang tuamu menolak untuk membelikannya. Jika orang tuamu miskin pasti akan bilang, “buat makan aja susah malah mau beli mainan, memangnya kau mau makan mainanmu?” Tapi jika orangtuamu kaya tapi pelit, mereka mungkin akan bilang, “Kemaren kan baru aja beli mainan (padahal sudah beberapa bulan lalu), nanti kalo bosen pasti dibiarin.” Mungkin mereka baru mau membelikan jika anaknya mau memakan mainannya setelah bosan. Maka terpujilah bagi orangtua seperti mereka jika di Negeriku karena dengan begitu aku bisa membuat anak mereka menangis. Dan jika tangisannya semakin keras dan begitu lama bahkan sampai membuat anak mereka berhalusinasi pada mainan yang mereka inginkan maka bukan hanya laba tapi sebuah prestasi tersendiri buatku demi berlangsungnya kehidupan umat manusia di negeriku Doogya.
Kau tak perlu heran apa hubungannya menjual mainan dengan anak kecil yang menangis bisa menjadi laba dan prestasi. Apalagi dengan membawa-bawa keberlangsungan umat manusia di negeriku karena semuanya akan kuceritakan setelah ini. Oya aku hampir lupa sebelumnya. Kau pasti dari negeri yang korupsi dan kejahatan begitu subur sehingga terlalu banyak orang sedih bahkan akhirnya banyak anak-anak menangis histeris karena orangtuanya sibuk dengan kesedihannya dan tak lagi peduli dengan anaknya. Kau harus bersyukur pada koruptor-koruptor dan orang-orang jahat di negerimu. Di negeriku, Doogya, hampir semua orang sudah baik pada yang lain kecuali masih menyisakan sangat sedikit orang jahat, seperti satpam komplek mewah yang biasa aku sogok atau diriku sendiri tentu.
Kau tahu kenapa harus bersyukur telah tinggal di Negerimu? Kau tahu, di negeriku sekarang umat manusia terancam punah karena sudah tidak ada kebencian. Yang ada saling sayang satu sama lain. Itu membuat manusia di Doogya tidak mempunyai beban pikiran dan tentram. Karena minimnya beban pikiran, mereka jadi jarang berpikir. Kau tau apa yang terjadi jika manusia jarang berpikir, mereka melakukan apa saja tanpa pertimbangan apapun. Lalu jika mereka sudah tanpa pertimbangan tentu saja mereka jadi ikhlas itu sebabnya tidak ada kebencian diantara mereka. Dan akhir dari semua itu tentu kebahagiaan tak terkira. Kalau manusia sudah bahagia di Doogya lalu buat apa surga.
Aku, salah satu manusia Doogya yang masih berpikir, tentu saja ingin mengembalikan konsep surga. Itu sebabnya aku berusaha membuat anak kecil menangis. Karena ketika mereka menangis bahkan sampai lupa cara meringis akan membawa efek traumatis. Ketika mereka besar, mereka akan berusaha menjadi orang yang bisa mendapatkan segalanya yang mereka inginkan. Tak peduli jika harus saudara mereka yang dikorbankan. Semakin banyak yang seperti itu maka kelangsungan Doogya dan konsep surga bisa dipertahankan.
Kau harus tahu juga di Doogya dari semua komplek yang ada hanya tinggal satu yang kumuh. Inilah mereka yang menjaga ketidakberaturan Negeri dan konsep surga. Itu sebabnya sangat mudah membuat anak-anak mereka menangis. Kau mungkin akan bilang cubit atau pukul saja biar menangis. Kalau yang seperti itu mereka sudah sering mendapatkan dari orangtuanya sendiri. Mereka harus menangis karena tersiksa oleh kegagalan mendapatkan apa yang sangat mereka inginkan. Kau mungkin baru tahu keinginan anak kecil melebihi keinginan seorang dewasa menginginkan tidur bersama setelah bertahun-tahun di penjara. Kau jangan tertawa. Ini masalah serius.
Kau sekarang pasti mulai bangga karena negerimu masih punya mimpi pada surga. Lihat saja angka kemiskinan yang semakin naik. Aku saja iri melihat semakin banyaknya komplek kumuh dan ala kadarnya di Negerimu. Di sini yang tinggal satu itu saja mungkin sewaktu-waktu berubah jadi mewah seperti yang lainnya. Itu jika semakin banyak orang terpengaruh untuk memenuhi kebutuhan anak mereka.
Kau tahu satpam yang bekerja di komplek mewah yang biasa aku sogok dulu adalah mereka yang tinggal di komplek kumuh. Dengan waktu yang lama untuk bekerja di sana serta gaji yang melimpah mereka semakin malas untuk berpikir sogok yang cuma rokok atau nasi bungkus. Mereka semakin menikmati bekerja dan membawa aura ikhlas ke rumah mereka. Mereka menebar senyum bahagia. Mereka jadi lupa dengan apa yang disebut surga. Mungkin bukan lupa sepenuhya tapi aku yakin sebentar lagi Doogya mungkin akan menjadi Soorga, sedikit mirip dengan surga, yang jelas berarti tempat bahagia. Karena kalian tahu sekarang yang aku sebut komplek kumuh pun tinggal satu rumah. Dan itu rumahku. Tinggal aku istri dan anakku.
Ahh..kau sekarang mungkin tidak hanya bangga tapi sudah membuat perayaan dan syukuran di mana-mana. Kau akan mengundang para koruptor dan teman-temannya, mungkin kau sendiri juga. Kalian akan membuat sumpah untuk meningkatkan kinerja kejahatan kalian di masing-masing sektor yang kalian kuasai. Kalian kemudian lupa dengan duka lara memikirkan kejahatan di negeri kalian. Kalian..ya kalian akan mengampanyekan kejahatan di setiap sudut negeri kalian sampai semua terlaksana. Tapi pada akhirnya mungkin akan ada salah satu dari kalian yang seperti aku tapi melawan kejahatan yang mewabah dimana-mana karena dia ingin menjaga konsep neraka meski tak harus menjual mainan tentunya. Dia tak ingin nantinya kalian tak takut lagi pada neraka seperti aku yang tak ingin warga Doogya merasa biasa saja pada surga karena sudah punya Soorga.
Kau mungkin akan maklum karena sebagai penjual mainan keliling rasanya susah sekali mendapat izin masuk komplek mewah seperti itu, sama seperti di negerimu bukan. Beberapa kali aku harus memotong uang labaku tidak hanya untuk rokok, tapi juga nasi bungkus untuk satpam yang aku sogok. Awalnya memang tidak memberikan masalah buatku karena tentu harga mainannya aku naikkan tapi masalah lain yang lebih penting untuk keberlangsungan karirku mengancam. Kau mungkin heran masalah apa yang mengancam pekerjaan remeh di negerimu itu yang dengan bangga di negeriku aku sebut karir. Aku akhirnya sadar ternyata lebih sulit membuat anak-anak kecil komplek mewah menangis.
Seperti yang sudah aku bilang tadi aku berhenti berkeliling di komplek mewah di Negeriku bukan karena ongkos sogok yang kadang tidak cukup hanya rokok tapi lebih karena susah sekali membuat anak-anak di sana menangis. Waktu kecil kau mungkin pernah menangis karena kau begitu menginginkan sebuah mainan yang dipajang tapi orang tuamu menolak untuk membelikannya. Jika orang tuamu miskin pasti akan bilang, “buat makan aja susah malah mau beli mainan, memangnya kau mau makan mainanmu?” Tapi jika orangtuamu kaya tapi pelit, mereka mungkin akan bilang, “Kemaren kan baru aja beli mainan (padahal sudah beberapa bulan lalu), nanti kalo bosen pasti dibiarin.” Mungkin mereka baru mau membelikan jika anaknya mau memakan mainannya setelah bosan. Maka terpujilah bagi orangtua seperti mereka jika di Negeriku karena dengan begitu aku bisa membuat anak mereka menangis. Dan jika tangisannya semakin keras dan begitu lama bahkan sampai membuat anak mereka berhalusinasi pada mainan yang mereka inginkan maka bukan hanya laba tapi sebuah prestasi tersendiri buatku demi berlangsungnya kehidupan umat manusia di negeriku Doogya.
Kau tak perlu heran apa hubungannya menjual mainan dengan anak kecil yang menangis bisa menjadi laba dan prestasi. Apalagi dengan membawa-bawa keberlangsungan umat manusia di negeriku karena semuanya akan kuceritakan setelah ini. Oya aku hampir lupa sebelumnya. Kau pasti dari negeri yang korupsi dan kejahatan begitu subur sehingga terlalu banyak orang sedih bahkan akhirnya banyak anak-anak menangis histeris karena orangtuanya sibuk dengan kesedihannya dan tak lagi peduli dengan anaknya. Kau harus bersyukur pada koruptor-koruptor dan orang-orang jahat di negerimu. Di negeriku, Doogya, hampir semua orang sudah baik pada yang lain kecuali masih menyisakan sangat sedikit orang jahat, seperti satpam komplek mewah yang biasa aku sogok atau diriku sendiri tentu.
Kau tahu kenapa harus bersyukur telah tinggal di Negerimu? Kau tahu, di negeriku sekarang umat manusia terancam punah karena sudah tidak ada kebencian. Yang ada saling sayang satu sama lain. Itu membuat manusia di Doogya tidak mempunyai beban pikiran dan tentram. Karena minimnya beban pikiran, mereka jadi jarang berpikir. Kau tau apa yang terjadi jika manusia jarang berpikir, mereka melakukan apa saja tanpa pertimbangan apapun. Lalu jika mereka sudah tanpa pertimbangan tentu saja mereka jadi ikhlas itu sebabnya tidak ada kebencian diantara mereka. Dan akhir dari semua itu tentu kebahagiaan tak terkira. Kalau manusia sudah bahagia di Doogya lalu buat apa surga.
Aku, salah satu manusia Doogya yang masih berpikir, tentu saja ingin mengembalikan konsep surga. Itu sebabnya aku berusaha membuat anak kecil menangis. Karena ketika mereka menangis bahkan sampai lupa cara meringis akan membawa efek traumatis. Ketika mereka besar, mereka akan berusaha menjadi orang yang bisa mendapatkan segalanya yang mereka inginkan. Tak peduli jika harus saudara mereka yang dikorbankan. Semakin banyak yang seperti itu maka kelangsungan Doogya dan konsep surga bisa dipertahankan.
Kau harus tahu juga di Doogya dari semua komplek yang ada hanya tinggal satu yang kumuh. Inilah mereka yang menjaga ketidakberaturan Negeri dan konsep surga. Itu sebabnya sangat mudah membuat anak-anak mereka menangis. Kau mungkin akan bilang cubit atau pukul saja biar menangis. Kalau yang seperti itu mereka sudah sering mendapatkan dari orangtuanya sendiri. Mereka harus menangis karena tersiksa oleh kegagalan mendapatkan apa yang sangat mereka inginkan. Kau mungkin baru tahu keinginan anak kecil melebihi keinginan seorang dewasa menginginkan tidur bersama setelah bertahun-tahun di penjara. Kau jangan tertawa. Ini masalah serius.
Kau sekarang pasti mulai bangga karena negerimu masih punya mimpi pada surga. Lihat saja angka kemiskinan yang semakin naik. Aku saja iri melihat semakin banyaknya komplek kumuh dan ala kadarnya di Negerimu. Di sini yang tinggal satu itu saja mungkin sewaktu-waktu berubah jadi mewah seperti yang lainnya. Itu jika semakin banyak orang terpengaruh untuk memenuhi kebutuhan anak mereka.
Kau tahu satpam yang bekerja di komplek mewah yang biasa aku sogok dulu adalah mereka yang tinggal di komplek kumuh. Dengan waktu yang lama untuk bekerja di sana serta gaji yang melimpah mereka semakin malas untuk berpikir sogok yang cuma rokok atau nasi bungkus. Mereka semakin menikmati bekerja dan membawa aura ikhlas ke rumah mereka. Mereka menebar senyum bahagia. Mereka jadi lupa dengan apa yang disebut surga. Mungkin bukan lupa sepenuhya tapi aku yakin sebentar lagi Doogya mungkin akan menjadi Soorga, sedikit mirip dengan surga, yang jelas berarti tempat bahagia. Karena kalian tahu sekarang yang aku sebut komplek kumuh pun tinggal satu rumah. Dan itu rumahku. Tinggal aku istri dan anakku.
Ahh..kau sekarang mungkin tidak hanya bangga tapi sudah membuat perayaan dan syukuran di mana-mana. Kau akan mengundang para koruptor dan teman-temannya, mungkin kau sendiri juga. Kalian akan membuat sumpah untuk meningkatkan kinerja kejahatan kalian di masing-masing sektor yang kalian kuasai. Kalian kemudian lupa dengan duka lara memikirkan kejahatan di negeri kalian. Kalian..ya kalian akan mengampanyekan kejahatan di setiap sudut negeri kalian sampai semua terlaksana. Tapi pada akhirnya mungkin akan ada salah satu dari kalian yang seperti aku tapi melawan kejahatan yang mewabah dimana-mana karena dia ingin menjaga konsep neraka meski tak harus menjual mainan tentunya. Dia tak ingin nantinya kalian tak takut lagi pada neraka seperti aku yang tak ingin warga Doogya merasa biasa saja pada surga karena sudah punya Soorga.
11 Januari 2011 20:47
Sabtu, Januari 08, 2011
Lenyap
Maka sebenarnya untuk apa
Bumi dan udara ada
Jika padanya justru hanya
Mengantarku pada tiada, t-i-a-d-a
Pada daun yang jatuh
Meninggalkan rantingnya yang kukuh
Justru kulihat arti penuh
Bahwa tak harus utuh
Sesekali, justru kau butuh
Mengaduh, pelan namun riuh.
Aku hanya ingin lenyap
Lenyap yang entah senyap
Atau justru sekedar tiarap
Dari banyak barisan berderap
Karena tak mampu tegap
Bumi dan udara ada
Jika padanya justru hanya
Mengantarku pada tiada, t-i-a-d-a
Pada daun yang jatuh
Meninggalkan rantingnya yang kukuh
Justru kulihat arti penuh
Bahwa tak harus utuh
Sesekali, justru kau butuh
Mengaduh, pelan namun riuh.
Aku hanya ingin lenyap
Lenyap yang entah senyap
Atau justru sekedar tiarap
Dari banyak barisan berderap
Karena tak mampu tegap
27-05-2010 01:32 AM
Langganan:
Postingan (Atom)






