Namaku diah, aku salah satu mahasiswi sebuah PTN bergengsi di Surabaya. Aku mahasiswi perantauan dari Bontang. dan seperti kebanyakan mahasiswi perantauan lainnya, aku memilih kos sebagai tempat tinggal selama menempuh studiku.
Seperti banyak kos di sekitar kampus, rata-rata kos-kosan di sini dihuni banyak mahasiswa, meskipun sebagian juga sudah bekerja. Mereka yang bekerja pun sebenarnya rata-rata adalah dulunya mahasiswa kampus dekat kos. Mungkin mereka sudah terlalu betah atau sebenarnya hanya ingin mempertahankan harga lama pembayaran kos dari sejak pertama mereka kuliah.
Iya bisa aja. Itulah Adi, setahuku dia memang bernama Adi bukan Asmara, tapi karena dia memang selalu “bisa aja”, dia selalu memperkenalkan dirinya dengan nama Asmara. Mungkin karena dia selalu berusaha menutupi siapa sebenarnya dia. Kau mungkin bingung bagaimana aku bisa tahu bahwa namanya Adi, bukan Asmara. Mudah saja, atau mungkin tepatnya tidak sengaja karena kartu kerjanya yang mirip kartu ATM itu jatuh bersama barang-barang yang lain dari tasnya ketika dia lewat depan kamarku untuk berangkat kerja pagi. Sepertinya dia bingung setelah kehilangan kartu tersebut karena sorenya pulang dari kerja dia seperti sedang mencari-cari kartunya yang bertulis cukup besar ADI KAOHENA dan dibawah tulisan tersebut tertulis lebih kecil SALESMAN. Dia sepertinya merasa kartunya jatuh di depan kamarku, tapi tak berani mengetuk pintu untuk bertanya. Yang aku tahu tentang Adi selain sebagai salesman dan selalu mengaku sebagai Asmara adalah selalu ramah pada semua penghuni kos kecuali padaku, mungkin itulah kenapa dia jadi sales. Dari semua penghuni, Adi paling ramah atau tepatnya berusaha akrab dengan mahasiswa samping kamarnya, mahasiswa sastra yang kamarnya tepat di atas kamar Khoir. Bukan apa-apa, ini mungkin jadi alasan kenapa Adi mengenalkan dirinya sebagai Asmara.
Mahasiswa inilah Asmara sebenarnya, bukan, nama aslinya bukan asmara, tapi Langit. Langit inilah yang benar mempunyai banyak kisah asmara seperti yang dicita-citakan Adi. Entahlah bisa disebut asmara atau tidak, yang jelas di kamarnya hampir tiap dinihari setengah jam atau satu jam setelah Khoir balik ke kos, akan selalu ada lenguhan-lenguhan berbeda di tiap malamya. Aku tak tahu apakah dia menyewa tapi sepertinya tidak karena menurutku dia bukan tipikal mahasiswa kaya. Meski kulitnya cukup bersih, tidak terlalu tampan tapi seperti biru langit, Langit dianugrahi raut muka yang sendu serupa biru jika diibaratkan warna. Seakan ada keresahan lama yang dia simpan sehingga perempuan seakan terpicu memburu cumbu. Bukankah perempuan memang suka dengan laki-laki yang pernah gagal karena dikhianati. Seakan ada keagungan dari keputusannya menjaga kesetiaan meski dia sebenarnya mampu mendapatkan wanita lain untuk dicumbu. Serupa pemain sepakbola yang menangis karena gagal di final piala dunia. Perempuan akan sangat mau menjadi penghibur dukanya. Ah.. mungkin aku tidak sepenuhnya benar juga, Langit bisa jadi sangat sederhana. Dia mungkin hanya sekedar ingin bertukar peluh tanpa peduli ada keagungan atau tidak dari raut sendunya. Sederhana sekali. Dia mungkin juga tak terlalu peduli bahwa Adi begitu menginginkan seperti dia di tiap dinihari atau bahwa Khoir sangat terganggu bunyi ranjang dan lenguh perempuan-perempuan yang ia tunggangi meski dibalik lenguhan terdengar sahutan Thom Yorke dengan Motion Picture Soundtrack yang sengaja dia putar namun liriknya juga tidak terlalu membantu mengurangi kebecian Khoir. Bisa jadi memang Langit cukup sesederhana ritual Motion Picture Soundtrack nya. Sekarang lagi-lagi kau mungin akan bertanya bagaimana aku tahu Khoir sangat membenci ritual Motion Picture Soundtrack sangat mengganggu Khoir. Aku tidak akan bilang mudah tapi mungkin sederhana saja. Waktu khoir sedang menunggu giliran mandi, kamar mandi yang biasa dia tempati baru saja selesai di pakai Agus. “Loh ir, belum tidur?” “Belum mas, kayaknya yang diatas kesurupan.” “Oalah..memang agak gila anak itu.”
Mungkin memang Agus tak segila Langit dalam hal menuggangi. Agus memang tidak pernah terpikir untuk menunggangi istrinya sambil memutar lagu yang ia anggap aneh seperti ocehan setan. Meski sebenarnya dia tahu hal yang lebih mengganggu adalah lenguhan-lenguhan yang berbeda tiap diniharinya tapi sama renyahnya dari kamar Langit. Bukan, bukan lenguhan-lenguhan itu menggangu karena tidak enak didengarkan sama seperti lagu yang diputar, tapi sangat mengganggu karena dia tahu istrinya yang kadang-kadang mengunjunginya tak pernah memberinya lenguh serenyah lenguhan-lenguhan dari kamar Langit. Aku tak tahu apakah istrinya malu melenguh karena melakukannya di kos-kosan, tapi sepertinya memang istrinya tak menunjukkan gairah sama sekali. Entahlah persisnya. Aku hanya menduga. Paling tidak Agus dan Khoir sama-sama terganggu meski dengan perasaan yang sama sekali berbeda. Agus yang berangkat kerja agak siang harus cepat-cepat kembali ke kos sebelum dinihari jika ingin menunggangi istrinya tanpa perasaan iri dan kehilangan moodnya. Maka sejauh ini memang semua penghuni kos seakan tertarik dalam gravitasi kamar Langit dengan ritual Motion Picture Soundtrack nya kecuali satu orang, Sulur.
Sulur, dulunya mahasiswa sama seperti Adi dan Agus. Sekarang dia sudah bekerja, sebagai penjaga toko buku yang cukup besar yang di tiap kota besar ada beberapa. Ya dia memang tidak menginginkan berhenti pada pekerjaanya sekarang. Tapi demi menunggu sampai ada pekerjaan yang dia inginkan, Apoteker, terdengar sama mungkin hanya beda yang dijaga. Meski menjadi penjaga toko buku sementara, dia tidak setengah hati mengerjakannya. Pagi dia sudah berada di tempat kerja membersihkan dan menata buku-buku baru atau buku lama yang harus dipindah dan sore sekitar jam enam dia sudah pulang sampai satu jam berikutnya dia sudah akan tidur. Dan hampir setiap hari seperti itu. Maka sangat wajar jika gravitasi Motion Picture Soundtrack Langit tak mampu mencapai Sulur dan kamarnya. Satu-satunya orang yang terhubung denga Sulur adalah Langit tapi tanpa ritualnya. Tentu saja ketika Langit meliburkan ritual dan menunggu Sulur bangun untuk memesan buku yang sulur tak pernah peduli kecuali uang yang dia dapat dari potongan buku, itupun jika Langit jadi memesan. Aku, aku sendiri sangat ingin memesan buku entah apa asal tidak berhubungan dengan ketinggian dan bisa dibaca dengan nalar yang pas-pasan ini tapi aku malu. Aku selalu malu untuk mencoba menyapa Sulur, mecoba basa-basi sedikit kemudian memesan buku apalah namanya tentunya.
Oh iya, aku sekarang tidak sendiri di kamar. Ada Agung, mahasiswa kedokteran, sepertinya akan benar-benar jadi dokter. Aku awalnya kaget bagaimana mungkin Ibu kosku megijinkan Agung sekamar denganku. Tapi satu hari aku tahu ternyata pintu kamarku juga butuh diganti engselnya. Yang aku ingat, Adi waktu itu mengetuk pintu setelah beberapa hari sebelumnya tak berani. “Eh bro, sorry ya ganggu, ada kartu kayak KTM ato ATM gak di sini pas kamu masuk kemarin?” “Oh..yang ini mas?” “Oh iya..ternyata beneran jatuh terus masuk kamar ini, thanks ya bro. Akhirnya ada yang nempatin kamar ini, katanya dulu yang nempatin cewek soalnya dulu kos-kosan cewek, anaknya jatuh dari atas kepleset habis jemur pakaian. Tapi santai saja selama ini gak ada apa-apa kok.. oh iya aku Ara” “Ara?” “Iya, Asmara, mungkin orang tuaku dulu tahu bahwa nantinya aku punya banyak kisah asmara haha.” “Bisa aja mas, Agung Sasmito, panggil saja Agung.”
Surabaya, 27 Desember 2010
Seperti banyak kos di sekitar kampus, rata-rata kos-kosan di sini dihuni banyak mahasiswa, meskipun sebagian juga sudah bekerja. Mereka yang bekerja pun sebenarnya rata-rata adalah dulunya mahasiswa kampus dekat kos. Mungkin mereka sudah terlalu betah atau sebenarnya hanya ingin mempertahankan harga lama pembayaran kos dari sejak pertama mereka kuliah.
Kos-kosanku sendiri ada enam kamar, tiga kamar di atas dan tiga kamar di bawah. Tentu saja ada dua kamar mandi, kebetulan dua-duanya di bawah dan tepat di depan kamarku. Paling tidak aku bisa gampang kalau mau mandi. Tidak perlu naik turun tangga, karena aku punya pengalaman buruk dengan ketinggian.Seperti yang sudah aku bilang tadi, kamarku tepat di depan kamar mandi. Dan itu berarti yang paling kiri di lantai bawah. Di samping kamarku, kamar tengah lantai bawah, dihuni seorang mahasiswa Science yang kalau diperhatikan dari pakaiannya adalah mahasiwa yang mengikuti kerohanian islam di kampus. Seringkali dia keluar pagi sekitar jam sembilan dan hampir selalu pulang ke kos jam satu pagi, mungkin karena sibuk dengan kegiatan organisasinya itu. Hampir selalu seperti itu. Kau mungkin bertanya bagaimana aku tahu. Sangat mudah karena aku paling tidak bisa tidur ada suara pintu dibuka atau ditutup karena aku pasti terbangun. Oh iya aku hampir lupa memberitahu. Semua pintu kecuali kamarku jika dibuka hampir pasti megeluarkan suara yang keras. Seperti yang kau sering dapati pada pintu yang sudah harus diganti engselnya. Ah..iya, aku juga belum memberitahukan nama mahasiswa di samping kamarku. Namanya khoir, entahlah nama lengkapnya, karena aku sendiri tidak pernah langsung berkenalan. Yang jelas satu kali aku pernah dengar dia ngobrol dengan Adi, penghuni kamar atas tepat di atas kamarku. Dia bilang waktu itu, ‘Aku Khoir mas, Khoir itu artinya baik. Mas sendiri siapa namanya?’ “Ara..”, “Ara??” “Iya, Ara..nama lengkapku sebenarnya Asmara, mungkin orang tuaku dulu tahu bahwa nantinya aku punya banyak kisah asmara haha.” “bisa aja mas.”
Iya bisa aja. Itulah Adi, setahuku dia memang bernama Adi bukan Asmara, tapi karena dia memang selalu “bisa aja”, dia selalu memperkenalkan dirinya dengan nama Asmara. Mungkin karena dia selalu berusaha menutupi siapa sebenarnya dia. Kau mungkin bingung bagaimana aku bisa tahu bahwa namanya Adi, bukan Asmara. Mudah saja, atau mungkin tepatnya tidak sengaja karena kartu kerjanya yang mirip kartu ATM itu jatuh bersama barang-barang yang lain dari tasnya ketika dia lewat depan kamarku untuk berangkat kerja pagi. Sepertinya dia bingung setelah kehilangan kartu tersebut karena sorenya pulang dari kerja dia seperti sedang mencari-cari kartunya yang bertulis cukup besar ADI KAOHENA dan dibawah tulisan tersebut tertulis lebih kecil SALESMAN. Dia sepertinya merasa kartunya jatuh di depan kamarku, tapi tak berani mengetuk pintu untuk bertanya. Yang aku tahu tentang Adi selain sebagai salesman dan selalu mengaku sebagai Asmara adalah selalu ramah pada semua penghuni kos kecuali padaku, mungkin itulah kenapa dia jadi sales. Dari semua penghuni, Adi paling ramah atau tepatnya berusaha akrab dengan mahasiswa samping kamarnya, mahasiswa sastra yang kamarnya tepat di atas kamar Khoir. Bukan apa-apa, ini mungkin jadi alasan kenapa Adi mengenalkan dirinya sebagai Asmara.
Mahasiswa inilah Asmara sebenarnya, bukan, nama aslinya bukan asmara, tapi Langit. Langit inilah yang benar mempunyai banyak kisah asmara seperti yang dicita-citakan Adi. Entahlah bisa disebut asmara atau tidak, yang jelas di kamarnya hampir tiap dinihari setengah jam atau satu jam setelah Khoir balik ke kos, akan selalu ada lenguhan-lenguhan berbeda di tiap malamya. Aku tak tahu apakah dia menyewa tapi sepertinya tidak karena menurutku dia bukan tipikal mahasiswa kaya. Meski kulitnya cukup bersih, tidak terlalu tampan tapi seperti biru langit, Langit dianugrahi raut muka yang sendu serupa biru jika diibaratkan warna. Seakan ada keresahan lama yang dia simpan sehingga perempuan seakan terpicu memburu cumbu. Bukankah perempuan memang suka dengan laki-laki yang pernah gagal karena dikhianati. Seakan ada keagungan dari keputusannya menjaga kesetiaan meski dia sebenarnya mampu mendapatkan wanita lain untuk dicumbu. Serupa pemain sepakbola yang menangis karena gagal di final piala dunia. Perempuan akan sangat mau menjadi penghibur dukanya. Ah.. mungkin aku tidak sepenuhnya benar juga, Langit bisa jadi sangat sederhana. Dia mungkin hanya sekedar ingin bertukar peluh tanpa peduli ada keagungan atau tidak dari raut sendunya. Sederhana sekali. Dia mungkin juga tak terlalu peduli bahwa Adi begitu menginginkan seperti dia di tiap dinihari atau bahwa Khoir sangat terganggu bunyi ranjang dan lenguh perempuan-perempuan yang ia tunggangi meski dibalik lenguhan terdengar sahutan Thom Yorke dengan Motion Picture Soundtrack yang sengaja dia putar namun liriknya juga tidak terlalu membantu mengurangi kebecian Khoir. Bisa jadi memang Langit cukup sesederhana ritual Motion Picture Soundtrack nya. Sekarang lagi-lagi kau mungin akan bertanya bagaimana aku tahu Khoir sangat membenci ritual Motion Picture Soundtrack sangat mengganggu Khoir. Aku tidak akan bilang mudah tapi mungkin sederhana saja. Waktu khoir sedang menunggu giliran mandi, kamar mandi yang biasa dia tempati baru saja selesai di pakai Agus. “Loh ir, belum tidur?” “Belum mas, kayaknya yang diatas kesurupan.” “Oalah..memang agak gila anak itu.”
Mungkin memang Agus tak segila Langit dalam hal menuggangi. Agus memang tidak pernah terpikir untuk menunggangi istrinya sambil memutar lagu yang ia anggap aneh seperti ocehan setan. Meski sebenarnya dia tahu hal yang lebih mengganggu adalah lenguhan-lenguhan yang berbeda tiap diniharinya tapi sama renyahnya dari kamar Langit. Bukan, bukan lenguhan-lenguhan itu menggangu karena tidak enak didengarkan sama seperti lagu yang diputar, tapi sangat mengganggu karena dia tahu istrinya yang kadang-kadang mengunjunginya tak pernah memberinya lenguh serenyah lenguhan-lenguhan dari kamar Langit. Aku tak tahu apakah istrinya malu melenguh karena melakukannya di kos-kosan, tapi sepertinya memang istrinya tak menunjukkan gairah sama sekali. Entahlah persisnya. Aku hanya menduga. Paling tidak Agus dan Khoir sama-sama terganggu meski dengan perasaan yang sama sekali berbeda. Agus yang berangkat kerja agak siang harus cepat-cepat kembali ke kos sebelum dinihari jika ingin menunggangi istrinya tanpa perasaan iri dan kehilangan moodnya. Maka sejauh ini memang semua penghuni kos seakan tertarik dalam gravitasi kamar Langit dengan ritual Motion Picture Soundtrack nya kecuali satu orang, Sulur.
Sulur, dulunya mahasiswa sama seperti Adi dan Agus. Sekarang dia sudah bekerja, sebagai penjaga toko buku yang cukup besar yang di tiap kota besar ada beberapa. Ya dia memang tidak menginginkan berhenti pada pekerjaanya sekarang. Tapi demi menunggu sampai ada pekerjaan yang dia inginkan, Apoteker, terdengar sama mungkin hanya beda yang dijaga. Meski menjadi penjaga toko buku sementara, dia tidak setengah hati mengerjakannya. Pagi dia sudah berada di tempat kerja membersihkan dan menata buku-buku baru atau buku lama yang harus dipindah dan sore sekitar jam enam dia sudah pulang sampai satu jam berikutnya dia sudah akan tidur. Dan hampir setiap hari seperti itu. Maka sangat wajar jika gravitasi Motion Picture Soundtrack Langit tak mampu mencapai Sulur dan kamarnya. Satu-satunya orang yang terhubung denga Sulur adalah Langit tapi tanpa ritualnya. Tentu saja ketika Langit meliburkan ritual dan menunggu Sulur bangun untuk memesan buku yang sulur tak pernah peduli kecuali uang yang dia dapat dari potongan buku, itupun jika Langit jadi memesan. Aku, aku sendiri sangat ingin memesan buku entah apa asal tidak berhubungan dengan ketinggian dan bisa dibaca dengan nalar yang pas-pasan ini tapi aku malu. Aku selalu malu untuk mencoba menyapa Sulur, mecoba basa-basi sedikit kemudian memesan buku apalah namanya tentunya.
Oh iya, aku sekarang tidak sendiri di kamar. Ada Agung, mahasiswa kedokteran, sepertinya akan benar-benar jadi dokter. Aku awalnya kaget bagaimana mungkin Ibu kosku megijinkan Agung sekamar denganku. Tapi satu hari aku tahu ternyata pintu kamarku juga butuh diganti engselnya. Yang aku ingat, Adi waktu itu mengetuk pintu setelah beberapa hari sebelumnya tak berani. “Eh bro, sorry ya ganggu, ada kartu kayak KTM ato ATM gak di sini pas kamu masuk kemarin?” “Oh..yang ini mas?” “Oh iya..ternyata beneran jatuh terus masuk kamar ini, thanks ya bro. Akhirnya ada yang nempatin kamar ini, katanya dulu yang nempatin cewek soalnya dulu kos-kosan cewek, anaknya jatuh dari atas kepleset habis jemur pakaian. Tapi santai saja selama ini gak ada apa-apa kok.. oh iya aku Ara” “Ara?” “Iya, Asmara, mungkin orang tuaku dulu tahu bahwa nantinya aku punya banyak kisah asmara haha.” “Bisa aja mas, Agung Sasmito, panggil saja Agung.”
Surabaya, 27 Desember 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar