Antara Malang dan Surabaya, Sore hari mendekati maghrib
“Seperti yang sudah-sudah, hujan selalu turun dari atas ke bawah,” kubilang seperti itu dan kau menatapku seolah ada yang baru dari ucapanku. Sesekali aku hisap rokok. Kita berdua, waktu itu sedang duduk menunggu hujan deras reda di depan satu toko yang sudah tutup entah di mana di antara Malang dan Surabaya. “Coba kau perhatikan,” kataku.
Kau pun tersenyum, seyum termanis yang pernah kamu punya. “Hanya karena yang terlihat di atas langit, tak berarti di atas langit tak ada sungai atau sejenisnya yang sewaktu-waktu mengalirkan airnya ke bumi dan melewati langit yang jelas tampak di mata kita.” Kau diam dan memandang ke atas seolah ingin membuktikan benarkah ada sungai yang semacam itu di atas langit.
Tiga jam sebelumnya di Blitar
“Menurutmu apakah Soekarno akan senang kalau tahu aku bawa kamu ke sini tanpa izin dari orang tua kamu?” Kamu terus berdoa di depan makam itu, tapi aku tahu kau mendengar. “Atau mugkin Soekarno malah bertanya, jangan tanyakan apa yang sudah diberikan orangtuamu padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan pada orangtuamu.” Kau tertawa lepas, sangat lepas, tak pernah selepas itu, tapi matamu tidak, benakmu juga, mata dan benakmu tak pernah lepas. Rasanya terlalu berat apa yang kita hadapi, ah..tidak, hanya kamu yang menghadapinya.
Pagi hari, Subuh tepatnya.
“Jadi berangkat?” Kau mengangguk. “Sudah bilang ke mama?” kau menggeleng. “kalau nanti aku dituduh menculik?” Kau mulai memakai helm dan ransel lalu tersenyum, seolah mengatakan semua akan baik-baik saja. “Ya, mungkin. Semoga semua baik-baik saja,” kataku. Dan kita pun berangkat dengan motor jelekku.
***
Subuh di depan rumah.
Seperti yang sudah kita sepakati, kau pun datang dengan motor jelekmu, tapi aku suka. Ditambah helm yang tak kalah jelek menjadikan kombinasi jelek yag tak pernah mengurangi sukaku dengan kalian bertiga; kamu, motor dan helm jelekmu. Bagaimanapun juga dua benda rosokan itulah yang selalu setia mengantarmu menuju diriku. Aku bahkan tak tau apa yang bisa kulihat darimu kecuali ambigu. Kadang kau lucu, kadang kaku, tapi yang pasti kau peragu. Masih saja kau tanyakan kita jadi pergi atau tidak sedang kau sendiri sudah ada di depanku. Harusnya kau tak perlu datang jika ragu. Semudah itu harusnya kau tahu.
Aku tak tahu kenapa aku harus suka kepadamu. Jelas-jelas aku tahu kamu sendiri tak pernah menunjukkkan kamu cinta aku. Bukan apa-apa, penting buat perempuan tahu apakah seorang laki-laki benar-benar cinta padanya sebelum memutuskan menyerahkan waktu untuk belajar mencintai laki-laki itu. Itu sebabnya status penting buat mereka, bagiku juga mungkin, sebelum bertemu denganmu.
Siang hari di makam Ir. Soekarno.
Akhirnya kita sampai di makam. Aku begitu senang meski aku tak bisa menunjukkannya padamu. Entahlah, mungkin karena masih ada hal lain yang tidak bisa begitu dengan mudah dikesampingkan.
Ah..yang jelas aku sangat nyaman. Datang ke tempat ini pertama kali setelah beberapa kali selalu gagal meski sudah sampai di kota ini. Dari tadi aku perhatikan sejak pertama sampai hingga sekarang kau selalu bicara. Bahkan kau sendiri tahu aku sedang berdoa di depan makam. Seolah kita bertukar peran. Tiba-tiba kau banyak omong sampai-sampai kau buat aku tertawa di tengah doa.
Aku tahu, ini bukan pertama kalinya aku tertawa lepas. Aku rasa aku sering tertawa seperti ini, tapi biasanya itu aku lakukan untuk membuat kamu yang jarang mau tertawa bisa ikut tertawa juga. Sekarang justru kamu yang sepertinya sedang melakukan apa yang biasa aku lakukan. Ternyata kita tidak kompak sama sekali. Ah..aku rasa tidak, aku rasa kita justru sangat kompak. Buktinya kita kompak berganti peran.
Sesaat sebelum maghrib di Lawang.
Hujan tiba-tiba turun deras sekali seakan langit tak keburu lagi jika menunggu besok. Langsung saja kau pinggirkan motormu di satu toko yang sudah tutup. Sambil menunggu hujan reda, kau terus bicara. Aku dengar kau bertanya mungkinkah di atas langit sana ada semacam sungai. Aku hanya diam dan sesaat setelah itu kulihat langit mulai mengurangi tetesan airnya. Aku seolah bingung bukan karena mungkin ada sungai di atas langit seperti yang kau bilang, tapi mungkinkah besok masih sempat aku lihat hujan seperti ini lagi dengan kau di sampingku.
Surabaya, sesampainya di rumah.
Rasanya aku belum ingin turun dari motor jelekmu, tapi ternyata kau sudah memgang helm jelek yang tadi aku pakai dan aku pun sudah berdiri di depanmu sambil melihat kau senyum dan masih duduk di motormu. Aku sangat ingin menciummu dan saat itu juga aku bungkukkan sedikit punggungku. Gerimis masih sedikit turun dari sisa hujan sepanjang jalan tadi. Aku bisa merasakan bulir air yang menyela diantara bibirku dan bibirmu. Hmm..aku harus segera masuk rumah. Bukan, bukan karena jam 8 sudah terlalu malam, tapi besok pagi sekali aku sudah harus siap untuk acara lamaranku yang aku tak pernah tahu bagaimana harus mengatakannya padamu. Ah..harusnya aku bersyukur betapa bahagianya menjadi diriku. Aku bahkan tak perlu susah-susah memilih siapa yang akan jadi pendampingku karena mamaku dengan kasih sayangnya yang begitu luar biasa rela melakukannya untukku.
****
Pagi ini hujan turun lebat. Rasanya seperti kemarin sore di depan toko antara Malang dan Surabaya. Dari tadi malam sendiri aku belum tidur. Beberapa kali aku melihat handphone, berharap kau mengirim pesan untukku. Aku ingin mendahului menelphonmu tapi mungkin kau terlalu capek karena satu pesan pun tak sempat kau kirimkan. Atau mungkin semalam kau sibuk mengingat-ingat akhirnya kau bisa berkunjung ke makam panutanmu sehingga kau lupa sekedar menyapaku lewat sebuah pesan pendek. Ah..mungkin aku yang aneh. Bukankah selama ini kita jarang berkomunikasi lewat handphone. Kita lebih suka bertemu, meski kadang sekedar duduk lalu kau berbicara banyak sekali dan aku hanya diam mendengarkan sambil sesekali ikut tertawa. Tapi apa salahnya jika sekali saja kau kirim pesan meski aku memang jarang membalas pesanmu.
Akhirnya ada bunyi dari handphoneku. Mungkin itu kamu. Mungkin kau mau bilang maaf karena semalam tidak sempat mengirim pesan untukku. Atau kau mungkin mau bilang aku pasti sedang di balkon depan kamar kosku sama sepertimu yang sedang di balkon depan kamarmu melihat hujan yang turun deras seperti kemarin di antara Malang dan Surabaya. Ahh..rupanya bukan pesan darimu, tapi dari ica, sahabat karibmu di kuliah dulu yang sama sekali tidak akrab denganku. Tumben sekali pikirku. Dia bilang mohon doa dan semoga Tuhan menerimamu di sisiNya. Sekitar satu jam setelah pesan itu, sesaat setelah hujan tinggal menyisakan gerimis, beberapa kali handphoneku berbunyi. Mungkin sudah belasan pesan tapi kuabaikan karena kurasa bukan Tuhan yang sekarang di sisimu, tapi Aku. Ya, kamu tidak kemana-mana. Kamu sekarang di sampingku. Kita berdua sedang duduk di balkon di depan kamarku menikmati gerimis yang mungkin sebentar lagi akan berhenti menutup tahun ini.
Desember, 2010
A.S. Ibrohimi. Surabaya, Desember 2010
“Seperti yang sudah-sudah, hujan selalu turun dari atas ke bawah,” kubilang seperti itu dan kau menatapku seolah ada yang baru dari ucapanku. Sesekali aku hisap rokok. Kita berdua, waktu itu sedang duduk menunggu hujan deras reda di depan satu toko yang sudah tutup entah di mana di antara Malang dan Surabaya. “Coba kau perhatikan,” kataku.
“Benarkah hujan memang turun dari langit? Kita sendiri tidak pernah berada di langit tapi sangat yakin hujan memang dari langit.”
Tiga jam sebelumnya di Blitar
“Menurutmu apakah Soekarno akan senang kalau tahu aku bawa kamu ke sini tanpa izin dari orang tua kamu?” Kamu terus berdoa di depan makam itu, tapi aku tahu kau mendengar. “Atau mugkin Soekarno malah bertanya, jangan tanyakan apa yang sudah diberikan orangtuamu padamu, tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan pada orangtuamu.” Kau tertawa lepas, sangat lepas, tak pernah selepas itu, tapi matamu tidak, benakmu juga, mata dan benakmu tak pernah lepas. Rasanya terlalu berat apa yang kita hadapi, ah..tidak, hanya kamu yang menghadapinya.
Pagi hari, Subuh tepatnya.
“Jadi berangkat?” Kau mengangguk. “Sudah bilang ke mama?” kau menggeleng. “kalau nanti aku dituduh menculik?” Kau mulai memakai helm dan ransel lalu tersenyum, seolah mengatakan semua akan baik-baik saja. “Ya, mungkin. Semoga semua baik-baik saja,” kataku. Dan kita pun berangkat dengan motor jelekku.
***
Subuh di depan rumah.
Seperti yang sudah kita sepakati, kau pun datang dengan motor jelekmu, tapi aku suka. Ditambah helm yang tak kalah jelek menjadikan kombinasi jelek yag tak pernah mengurangi sukaku dengan kalian bertiga; kamu, motor dan helm jelekmu. Bagaimanapun juga dua benda rosokan itulah yang selalu setia mengantarmu menuju diriku. Aku bahkan tak tau apa yang bisa kulihat darimu kecuali ambigu. Kadang kau lucu, kadang kaku, tapi yang pasti kau peragu. Masih saja kau tanyakan kita jadi pergi atau tidak sedang kau sendiri sudah ada di depanku. Harusnya kau tak perlu datang jika ragu. Semudah itu harusnya kau tahu.
Aku tak tahu kenapa aku harus suka kepadamu. Jelas-jelas aku tahu kamu sendiri tak pernah menunjukkkan kamu cinta aku. Bukan apa-apa, penting buat perempuan tahu apakah seorang laki-laki benar-benar cinta padanya sebelum memutuskan menyerahkan waktu untuk belajar mencintai laki-laki itu. Itu sebabnya status penting buat mereka, bagiku juga mungkin, sebelum bertemu denganmu.
Siang hari di makam Ir. Soekarno.
Akhirnya kita sampai di makam. Aku begitu senang meski aku tak bisa menunjukkannya padamu. Entahlah, mungkin karena masih ada hal lain yang tidak bisa begitu dengan mudah dikesampingkan.
Ah..yang jelas aku sangat nyaman. Datang ke tempat ini pertama kali setelah beberapa kali selalu gagal meski sudah sampai di kota ini. Dari tadi aku perhatikan sejak pertama sampai hingga sekarang kau selalu bicara. Bahkan kau sendiri tahu aku sedang berdoa di depan makam. Seolah kita bertukar peran. Tiba-tiba kau banyak omong sampai-sampai kau buat aku tertawa di tengah doa.
Aku tahu, ini bukan pertama kalinya aku tertawa lepas. Aku rasa aku sering tertawa seperti ini, tapi biasanya itu aku lakukan untuk membuat kamu yang jarang mau tertawa bisa ikut tertawa juga. Sekarang justru kamu yang sepertinya sedang melakukan apa yang biasa aku lakukan. Ternyata kita tidak kompak sama sekali. Ah..aku rasa tidak, aku rasa kita justru sangat kompak. Buktinya kita kompak berganti peran.
Sesaat sebelum maghrib di Lawang.
Hujan tiba-tiba turun deras sekali seakan langit tak keburu lagi jika menunggu besok. Langsung saja kau pinggirkan motormu di satu toko yang sudah tutup. Sambil menunggu hujan reda, kau terus bicara. Aku dengar kau bertanya mungkinkah di atas langit sana ada semacam sungai. Aku hanya diam dan sesaat setelah itu kulihat langit mulai mengurangi tetesan airnya. Aku seolah bingung bukan karena mungkin ada sungai di atas langit seperti yang kau bilang, tapi mungkinkah besok masih sempat aku lihat hujan seperti ini lagi dengan kau di sampingku.
Surabaya, sesampainya di rumah.
Rasanya aku belum ingin turun dari motor jelekmu, tapi ternyata kau sudah memgang helm jelek yang tadi aku pakai dan aku pun sudah berdiri di depanmu sambil melihat kau senyum dan masih duduk di motormu. Aku sangat ingin menciummu dan saat itu juga aku bungkukkan sedikit punggungku. Gerimis masih sedikit turun dari sisa hujan sepanjang jalan tadi. Aku bisa merasakan bulir air yang menyela diantara bibirku dan bibirmu. Hmm..aku harus segera masuk rumah. Bukan, bukan karena jam 8 sudah terlalu malam, tapi besok pagi sekali aku sudah harus siap untuk acara lamaranku yang aku tak pernah tahu bagaimana harus mengatakannya padamu. Ah..harusnya aku bersyukur betapa bahagianya menjadi diriku. Aku bahkan tak perlu susah-susah memilih siapa yang akan jadi pendampingku karena mamaku dengan kasih sayangnya yang begitu luar biasa rela melakukannya untukku.
****
Pagi ini hujan turun lebat. Rasanya seperti kemarin sore di depan toko antara Malang dan Surabaya. Dari tadi malam sendiri aku belum tidur. Beberapa kali aku melihat handphone, berharap kau mengirim pesan untukku. Aku ingin mendahului menelphonmu tapi mungkin kau terlalu capek karena satu pesan pun tak sempat kau kirimkan. Atau mungkin semalam kau sibuk mengingat-ingat akhirnya kau bisa berkunjung ke makam panutanmu sehingga kau lupa sekedar menyapaku lewat sebuah pesan pendek. Ah..mungkin aku yang aneh. Bukankah selama ini kita jarang berkomunikasi lewat handphone. Kita lebih suka bertemu, meski kadang sekedar duduk lalu kau berbicara banyak sekali dan aku hanya diam mendengarkan sambil sesekali ikut tertawa. Tapi apa salahnya jika sekali saja kau kirim pesan meski aku memang jarang membalas pesanmu.
Akhirnya ada bunyi dari handphoneku. Mungkin itu kamu. Mungkin kau mau bilang maaf karena semalam tidak sempat mengirim pesan untukku. Atau kau mungkin mau bilang aku pasti sedang di balkon depan kamar kosku sama sepertimu yang sedang di balkon depan kamarmu melihat hujan yang turun deras seperti kemarin di antara Malang dan Surabaya. Ahh..rupanya bukan pesan darimu, tapi dari ica, sahabat karibmu di kuliah dulu yang sama sekali tidak akrab denganku. Tumben sekali pikirku. Dia bilang mohon doa dan semoga Tuhan menerimamu di sisiNya. Sekitar satu jam setelah pesan itu, sesaat setelah hujan tinggal menyisakan gerimis, beberapa kali handphoneku berbunyi. Mungkin sudah belasan pesan tapi kuabaikan karena kurasa bukan Tuhan yang sekarang di sisimu, tapi Aku. Ya, kamu tidak kemana-mana. Kamu sekarang di sampingku. Kita berdua sedang duduk di balkon di depan kamarku menikmati gerimis yang mungkin sebentar lagi akan berhenti menutup tahun ini.
Desember, 2010
A.S. Ibrohimi. Surabaya, Desember 2010
aku suka banget ceritanya.
BalasHapusterus nulis ya.
blognya bagus.enak dibacanya.
ima
terimakasih..
BalasHapusmoga terus bisa nulis dan situ terus baca hhe.