Malam ini, beberapa jam sebelum saya memposting tulisan yang entah bisa disebut apa ini, Bapak bangsa atau apalah orang menyebut beliau, yang suka, yang sedikit suka, yang suka suka atau yang tidak suka mungkin pada beliau sengaja atau tidak sengaja menyimak berita mungkin akan kaget bahwa Gus Dur telah wafat. Gus Dur telah meninggalkan kita, kita yang suka beliau, yang tidak suka beliau atau hanya sekedar tahu dan tidak mau tahu.
Untuk apakah kemudian tulisan ini dibuat? iseng mungkin, sedikit iseng sedikit serius atau mungkin diri sedang sangat serius dan merasa begitu kehilangan sosok Gus Dur. Bukan apa-apa, tapi sedikit mengingat jauh ke belakang (bukan kamar mandi), sewaktu masih SD, ketika banyak teman lebih mengidolakan tokoh kartun atau superhero, yang ada dalam benak saya hanya bagaimana bisa bertemu langsung dengan Gus Dur dan mendapatkan kesempatan bersalaman dengan beliau. Entah, bukan absurd yang jelas, karena mungkin diri terpengaruh dengan lingkungan keluarga yang memang cenderung mengidolakan Gus Dur, terutama paman yang waktu itu masih cukup muda yang dengan semangat berbicara dan pengetahuanyanya selalu membuat saya takjub, heran, merasa beruntung bisa dekat dengan paman. Dan itu berarti apa yang menjadi idola paman adalah idola saya juga. ya, tapi saya masih SD. Terlalu prematur mengetahui hal-hal atau apapun tentang paman saya dan idolanya, Gus Dur. Tapi (lagi-lagi) mungkin justru impian sederhana saya untuk sekedar bertemu beliau secara langsung dan sungkem (berjabat tangan) dengan beliau harus saya lupakan atau sekedar menjadi ingatan.
Tapi (lagi dan lagi) mungkin memang saya terlalu mengidolakan Gus Dur atau sebenarnya justru paman saya, yang jelas sampai ketika saya menempuh bangku SMP, banyak teman saya yang sampai selalu menunjukkan koran, majalah atau yang lainnya yang berisi berita tentang Gus Dur karena mereka menganggap saya selalu antusias ketika membaca berita tentang beliau. Terlalu biasa mungkin superhero buat saya dibanding Gus Dur, entahlah.
Setelah menginjak (benar-benar menginjak juga) bangku kelas dua SMP mungkin, hal-hal tentang Gus Dur, berangsur pada hal yang lebih natural, lebih wajar (bukan berarti sebelumnya tidak wajar). Mungkin karena beberapa perempuan sudah berani menggoda saya, entahlah.
Intinya, pada waktu saya memposting tulisan ini, rasanya saya begitu merasa kehilangan sosok Gus Dur, sosok yang mungkin secara personal atau secara pengalaman tidak pernah saya temui secara langsung namun rasanya begitu dekat dengan segala hal yang telah beliau berikan bagi orang-orang di sekitar beliau, di manapun, khususnya saya secara tidak langsung. Beberapa menit yang lalu bahkan saya begitu terharu ketika melihat tayangan Metro TV yang secara langsung meliput persiapan pemakaman beliau yang diiringi lagu Gugur Bunga dari Ismail Marzuki. Begitu mendadak rasanya, tapi mungkin memang sudah waktu beliau. Pada akhirnya biarlah saya menjabat tangan beliau untuk yang yang pertama dan terakhir kali., cukup di hati mungkin. Selamat Jalan Gus Dur.
Untuk apakah kemudian tulisan ini dibuat? iseng mungkin, sedikit iseng sedikit serius atau mungkin diri sedang sangat serius dan merasa begitu kehilangan sosok Gus Dur. Bukan apa-apa, tapi sedikit mengingat jauh ke belakang (bukan kamar mandi), sewaktu masih SD, ketika banyak teman lebih mengidolakan tokoh kartun atau superhero, yang ada dalam benak saya hanya bagaimana bisa bertemu langsung dengan Gus Dur dan mendapatkan kesempatan bersalaman dengan beliau. Entah, bukan absurd yang jelas, karena mungkin diri terpengaruh dengan lingkungan keluarga yang memang cenderung mengidolakan Gus Dur, terutama paman yang waktu itu masih cukup muda yang dengan semangat berbicara dan pengetahuanyanya selalu membuat saya takjub, heran, merasa beruntung bisa dekat dengan paman. Dan itu berarti apa yang menjadi idola paman adalah idola saya juga. ya, tapi saya masih SD. Terlalu prematur mengetahui hal-hal atau apapun tentang paman saya dan idolanya, Gus Dur. Tapi (lagi-lagi) mungkin justru impian sederhana saya untuk sekedar bertemu beliau secara langsung dan sungkem (berjabat tangan) dengan beliau harus saya lupakan atau sekedar menjadi ingatan.
Tapi (lagi dan lagi) mungkin memang saya terlalu mengidolakan Gus Dur atau sebenarnya justru paman saya, yang jelas sampai ketika saya menempuh bangku SMP, banyak teman saya yang sampai selalu menunjukkan koran, majalah atau yang lainnya yang berisi berita tentang Gus Dur karena mereka menganggap saya selalu antusias ketika membaca berita tentang beliau. Terlalu biasa mungkin superhero buat saya dibanding Gus Dur, entahlah.
Setelah menginjak (benar-benar menginjak juga) bangku kelas dua SMP mungkin, hal-hal tentang Gus Dur, berangsur pada hal yang lebih natural, lebih wajar (bukan berarti sebelumnya tidak wajar). Mungkin karena beberapa perempuan sudah berani menggoda saya, entahlah.
Intinya, pada waktu saya memposting tulisan ini, rasanya saya begitu merasa kehilangan sosok Gus Dur, sosok yang mungkin secara personal atau secara pengalaman tidak pernah saya temui secara langsung namun rasanya begitu dekat dengan segala hal yang telah beliau berikan bagi orang-orang di sekitar beliau, di manapun, khususnya saya secara tidak langsung. Beberapa menit yang lalu bahkan saya begitu terharu ketika melihat tayangan Metro TV yang secara langsung meliput persiapan pemakaman beliau yang diiringi lagu Gugur Bunga dari Ismail Marzuki. Begitu mendadak rasanya, tapi mungkin memang sudah waktu beliau. Pada akhirnya biarlah saya menjabat tangan beliau untuk yang yang pertama dan terakhir kali., cukup di hati mungkin. Selamat Jalan Gus Dur.
sudden defrag, warnet belakang kontrakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar