Beberapa hari ini saya disibukkan dengan hal-hal tentang 'jarak' yang terus-menerus mendominasi alam pikir saya. Hhhhhh...menjenuhkan dan melelahkan. sebelum ada pikiran aneh tentang 'jarak', lebih baik segera saya tulis bahwa tulisan ini sama sekali tidak berhubungan dengan 'jarak' nama sebuah lokalisasi yang mungkin orang-orang surabaya atau Jawa Timur pernah mendengar atau pernah menyambangi mungkin. 'Jarak' mungkin bisa dimaknai dengan kekosongan antara satu tempat ke tempat lain. Tapi mungkinkah kosong? atau kalau tidak benar-benar kosong lalu kosong dari apa? ya kosong dari salah satu tempat tersebut. Membosankan mungkin membicarakan hal yang sudah kita tahu maksudnya tapi berusaha untuk dijelaskan dengan cara lain yang justru malah membingungkan. Biarlah jarak tetap jarak dengan segala maknanya..hahaha (tidak lucu).
Seperti yang telah tertulis di awal, hal-hal yang berkaitan dengan 'jarak' mendominasi pikiran saya. Karena begitu lama tidak pulang kampung, rasanya saya bingung harus pulang atau tidak padahal saya sedang nyaman di Surabaya, nyaman dengan kesendirian, nyaman dengan segala hal yang nyaman dan tidak nyamannya Surabaya. Tapi lagi-lagi saya tetap tidak bisa begitu saja mengabaikan untuk pulang segera karena rasanya orang-orang di rumah ingin saya pulang, entahlah dengan alasan apa..sekedar menginginkan kehadiran saya mungkin. Serupa pakaian kotor yang sekedar ditumpuk tapi tetap hadir daripada bersih tapi hilang, mungkin seperti itu.
Hal-hal yang berkaitan degan 'jarak' lainnya adalah karena akhir-akhir ini saya memilih untuk sedikit (atau banyak, entahlah) berjarak dengan seseorang. Entah karena saya merasa tidak sepaham pada cara pandang hidup atau karena memang saya sedang benar-benar ingin sendiri. sendiri. sendiri. Dan mungkin kesendirian saya dianggap tidak manusiawi, terserah. Dan mungkinkah tidak manusiawi padaha jelas-jelas itu masih dilakukan oleh saya yang masuk kategori manusia haha.
Yang jelas hal-hal yang berkaitan dengan 'jarak' ini benar-benar memberi saya jarak, cukup sejenak, tidak selama ibu melahirkan anak. Jarak dan sejenak.
Seperti yang telah tertulis di awal, hal-hal yang berkaitan dengan 'jarak' mendominasi pikiran saya. Karena begitu lama tidak pulang kampung, rasanya saya bingung harus pulang atau tidak padahal saya sedang nyaman di Surabaya, nyaman dengan kesendirian, nyaman dengan segala hal yang nyaman dan tidak nyamannya Surabaya. Tapi lagi-lagi saya tetap tidak bisa begitu saja mengabaikan untuk pulang segera karena rasanya orang-orang di rumah ingin saya pulang, entahlah dengan alasan apa..sekedar menginginkan kehadiran saya mungkin. Serupa pakaian kotor yang sekedar ditumpuk tapi tetap hadir daripada bersih tapi hilang, mungkin seperti itu.
Hal-hal yang berkaitan degan 'jarak' lainnya adalah karena akhir-akhir ini saya memilih untuk sedikit (atau banyak, entahlah) berjarak dengan seseorang. Entah karena saya merasa tidak sepaham pada cara pandang hidup atau karena memang saya sedang benar-benar ingin sendiri. sendiri. sendiri. Dan mungkin kesendirian saya dianggap tidak manusiawi, terserah. Dan mungkinkah tidak manusiawi padaha jelas-jelas itu masih dilakukan oleh saya yang masuk kategori manusia haha.
Yang jelas hal-hal yang berkaitan dengan 'jarak' ini benar-benar memberi saya jarak, cukup sejenak, tidak selama ibu melahirkan anak. Jarak dan sejenak.
28 Agustus 2010, 01:39 am
Tidak ada komentar:
Posting Komentar