Menjelang hrai-hari Lebaran yang semakin dekat, Is merasa rumahnya semakin kelihatan besar dan kosong lagi. Betapa tidak. Empat ruang tidur di tengah rumah itu hanya dia tempati sendiri sejak istrinya meninggal setahun yang lalu. Ruang-ruang tidur selebihnya selalu kosong sejak anak-anaknya pindah ke luar negeri dan ruang tamu itu lebih lama lagi tidak disinggahi orang. Di bagian belakang rumah, adalah kamar tempat tinggal sepasang suami-istri Sumo yang sudah ikut keluarga Is selama bertahun-tahun. Mereka akan muncul ke dalam rumah kalau Is memanggil mereka untuk keperluan ini dan itu. selebihnya tidak ada komunikasi antara mereka.
***
Rumah yang sekarang terasa besar itu dibeli Is dan istrinya waktu mereka pulang dari New York sesudah mereka bertugas dinas selama bertahun-tahun di markas besar PBB. Dengan tabungan uang yang mereka kumpulkan mereka membeli dua buah Impala dan berbagai perabotan rumah mewah yang lengkap. Dengan hasil penjualan moil Impala dan perabotan itulah, sepulang di Jakarta, mereka berhasil membuat rumah besar yang mereka huni sekarang ini. Rumah itu besar dan mewah, yang oleh teman-temannya pegawai negeri diejek sebagai rumah menteri besar. Is dan istrinya hanya tersenyum mendengar ejekan itu. Di rumah besar itulah Is dan istrinya bertahan dengan ulet dan liat mempertahankan kemakmuran dan sedikit kemewahan gaya hidup mereka sebagai diplomat dalam negeri di Deparlu, sambil dari sedikit menjuali barang-barangnya sembari membesarkan anak-anak mereka yang masih harus menyelesaikan pelaajaran mereka di New York. Dan waktu dalam beberapa tahun terakhir mereka menyelesaikan studi mereka dan menyebar mencari nafkah di Geneva, Amsterdam dan New York, Is dan istrinya menyadari pula bahwa anak-anak mereka sudah waktunya membangun sarang-sarang di luar pohon besar mereka.
***
Dalam hari-hari mendekati Lebaran, is berharap surat anak-anaknya akan mulai berdatangan, seperti layaknya kebiasaan pada hari-hari seperti itu. dan memang betul saja, surat mereka memang pada berdatangan. tetapi surat-surat itu mengecewakan Is karena pendeknya. Dengan bersungut-sungut sura-surat tersebut dalam beberapa detik telah selesai dibacanya. Huh, wong surat Lebaran buat orangtua kok dikirim dalam kartu pos bergambar... Itu pun dalam beberapa garis... Nana yang menulis dari Geneva minta maaf liburan winter tahun ini tidak jadi pulang ke Indonesia karena sudah janji sama si Jon (kakak si temanten baru nih ye), buat mengajari sku di Alpen. Opo ora hebat, Dad. Maaf banget nggih Dad? Makam Mommy apa sudah ditutup nisan? Love kita semua. Kemudian Jon hanya titip salam "Hi, Dad". Kemudian surat dari Suryo, Anaknya yang sulung, yang masih menetap di New York yang masih kerja magang di IBM yang juga minta maaf tidak bisa pulang ke bapaknya karena sudah terlanjur janji untuk libur dengan pacarnya anak Puerto Rico. Sambil bersungut kartu pos bergambar dari anak-anaknya itu dilemparkannya ke meja. Huh, anak-anak! Yang tanya ibunya juga cuma satu! Itu pun soal sudah dinisan apa belum....
***
Sakit yang pada akhirnya merenggut nyawa istrinya, buat kanker yang tumbuh di sebelah payudaranya sesungguhnya tidak terduga kecepatan pertumbuhannya. Bahkan mulai dengan bisul kecil dahulu. Is juga tidak menganggap terlalu serius. Waktu bisul kecil yang kemudian mulai sedikit membesar, istrinya, Rani, secara iseng menanyakan itu kepada dokternya temannya. sesudah diperiksa agak teliti teman dokternya mengatakan bahwa bisul itu mengandung gejala tumor. Rani dianjurkan agar lebih teliti dan intensif memeriksakan bisulnya ke rumah sakit temannya itu. Is ingat istrinya masih dengan tersenyum ceria melaporkan kepada suaminya.
"Hey, coba bayangkan, Is. Sesudah sekian tahun di New York baru sekarang di negeri kita yang primitif ini aku mungkin ketahuan kena kanker..."
Is ingat peristiwa itu. Dan Is tidak dapat tersenyum. Dia khawatir akan kehilangan Rani. Dan hari-hari serta minggu dan bulan-bulan Is dan Rani semakin menyadari bahwa ajal Rani akan seera tiba. Mereka memutuskan dua hal. Satu, anak-anak harus diberitahu secepatnya, dan tentulah selugas mungkin. Mereka sudah dewasa dan dibesarkan di tengah kehidupan yang modern dan zakelijk. Kedua, bahwa anak-anak harus sadar bahwa pada suatu waktu kita akan meninggalkan dunia yang fana, dan semua yang pernah kita cintai dan sayangi keran itulah hukum alam yang tidak dapat kita elakkan. ketiga, karena anak-anak masih berada di luar negeri, untuk menjauhi kesulitan baik emosional atau yang bukan, anak-anak tidak diharuskan hadir pada hari pemakamannnya.
Sesudah suami istri itu mendiskusikan semua yang berhubungan dengan hari pemakaman Rani yang akan datang, Is dan Rani berbicara tentang pemilihan tempat makam yang baik.
Makam, meskipun hanya tempat jasad kita, mestilah kita usahakan yang baik, tidak rusak dan kotor lagi pula orang yang mau ziarahi makam tersebut tidak akan kesulitan menemuinya. Maka sesudah mereka berunding mereka memilih perkuburan karet. rani terutama yang mantab menjatuhkan pilihannya itu. Karet adalah pemakaman khas Jakarta. Semua orang terkenal Jakarta dimakamkan di situ katanya. Umar Ismail, Djayakusuma dan Chairil Anwar, si bintang jalang itu,Is. Masih ingat kau, is, salah satu sajaknya... Di karet, di karet tempat kira yang akan datang....
***
Is masih juga duduk di beranda depan yang luas menghadap halaman depan. Dilihatnya halaman depan itu sejak pagi disapu bersih oleh Pak Sumo. Orang lalu-lalang mulai tampak di jalan depan rumahnya. Tanda hari sudah semakin pagi. Kartu pos bergambar dari anak-anaknya, yang sebelumnya dilempar di meja dibacanya lagi. Mulitnya menyungging senyum membayangkan wajah anak-anaknya, Thos rascals... Wajah Nana dan jon yang paling mereka sayangi muncul di depannya. Mungkin karena kedua anaknya yang perempuan dan bungsu itu yang biasanya selalu minta dimanja oleh orang-tua mereak. Tapi toh mereka, menerima penjelasan Radi yang gagah itu. Anank-anak sialan, gerutu Is lagi tentang anak-anaknya.
Dan sekarang mereka kan sedang kedinginan di Alpen. Di Alpen(!). gerutu Is lagi. Berapa ongkosnya ke tempat yang semahal itu. Dan gaji-gaji mereka yang masih pada jatah junior itu! Dibayar dengan kartu kredit? Huh, anak zaman sekarang di mana uang plastik mengatur jalan hidup mereka! Dan kemudian pada gambar pemandangan lanskap Puerto Rico dari Suryo anaknya sulung. Dan anaknya ini rupanya juga akan siap dilarikan pacarnya yang hitam legam dari Puerto Rico. Is menarik napasnya panjang-panjang. Rasanya baru kemarin anak-anak itu menjadi milik meraka bersama Rani. Di mana meraka masih begitu membutuhkan pertolongan penyelesaian studi dan pencarian kerja dan nafkah mereka. Sekarang mereka sudah menjadi pemilik pohon mandiri mereka. Ia menggerendeng bercampur sungut: kalau begini naga-naganya, apa aku masih akan ketemu dengan keluarga dan anak-anak mereka. Satu kali waktu nanti. Ah....
***
Pada hari Lebaran, pagi-pagi sesudah sholat Ied, Pak Sumo dan Bu SUmo pergi ke Depok menengok keluarga jauhnya yang juga sudah tua. Sebelum mereka pergi, meja makan di ruang makan sudah ditutup rapi lengkap dengan berbagai piring, pinggan, penuh berbagai macam hidangan lauk pauk khas Lebaran. Ada ketupat, rendang daging dan paru yang merah kecoklatan, tapi membayang merah kepedesannya, sambal goreng hati dan jantung ayam diantara lautan santan kental dan taburan petai dan cabai, opor ayam yang berwarna kekuningan yang bergelimang santan pula.
Is sambil menyedot bau harum masakan pembantunya tidak urung mengumpat orang tua yang baik hati itu. Makanan sebanyak itu siapa yang akan menghabiskannya nanti...
sesudah mandi dan berganti pakaian bersih dilahapnya sarapan pagi hidangan pembantunya yang baik hati itu. Kemudian Is berjalan Bergegas ke garasi. Hari sudah mulai siangan sedikit. Jalan sudah mulai ramai dilewati kendaran bermotor. Is mulai menyadari bahwa orang mulai bergerak dalam arus Lebaran. Pelan-pelan Is membuka garasinya, kemudian dengan pelan pula mendorong mobil dinas Toyota tua dari kantornya dengan terengah-engah karena kehabisan napas, dia masih mencoba tersenyum menyadari ketuaannya dan keteringatannya pula waktu dia dan Rani masih menaiki Impala pribadi mereka...
Waktu akhirnya dia duduk di belakang setir, siap untuk menghidupkan starter tiba-tiba di harus berpikir keras. Mau ke mana? Ke makam Jeruk Purut atau ke Karet? dia berhenti berpikir. Tiba-tiba Is terkenang akan diskusi di kamar tidur mereka. Rani ingin dimakamkan di Karet. Pemakaman yang paling terkenal di Jakarta itu. Juga semua orang dimakamkan di Jakarta. Iya, kan? Di Jakarta, di Jakarta...
Dengan tegas Is menghidupkan starternya jrek-ejrek-ejeerk sreek-sreek-jreeeng dan hidup msein itu. dengan ketegasan sopir pribadi New York, mobil dinas Toyota Dparlu itu mengebut keluar jalan raya. Dengan tegas berhenti sebentar kemudian membanting stirnnya ke arah jurusan kiri. Ke Karet, ke Karet - tidak ke Jeruk Purut ke tempat Rani, melainkan ke Karet, ke Karet... Rani pasti setuju dan senang.
***
Rumah yang sekarang terasa besar itu dibeli Is dan istrinya waktu mereka pulang dari New York sesudah mereka bertugas dinas selama bertahun-tahun di markas besar PBB. Dengan tabungan uang yang mereka kumpulkan mereka membeli dua buah Impala dan berbagai perabotan rumah mewah yang lengkap. Dengan hasil penjualan moil Impala dan perabotan itulah, sepulang di Jakarta, mereka berhasil membuat rumah besar yang mereka huni sekarang ini. Rumah itu besar dan mewah, yang oleh teman-temannya pegawai negeri diejek sebagai rumah menteri besar. Is dan istrinya hanya tersenyum mendengar ejekan itu. Di rumah besar itulah Is dan istrinya bertahan dengan ulet dan liat mempertahankan kemakmuran dan sedikit kemewahan gaya hidup mereka sebagai diplomat dalam negeri di Deparlu, sambil dari sedikit menjuali barang-barangnya sembari membesarkan anak-anak mereka yang masih harus menyelesaikan pelaajaran mereka di New York. Dan waktu dalam beberapa tahun terakhir mereka menyelesaikan studi mereka dan menyebar mencari nafkah di Geneva, Amsterdam dan New York, Is dan istrinya menyadari pula bahwa anak-anak mereka sudah waktunya membangun sarang-sarang di luar pohon besar mereka.
***
Dalam hari-hari mendekati Lebaran, is berharap surat anak-anaknya akan mulai berdatangan, seperti layaknya kebiasaan pada hari-hari seperti itu. dan memang betul saja, surat mereka memang pada berdatangan. tetapi surat-surat itu mengecewakan Is karena pendeknya. Dengan bersungut-sungut sura-surat tersebut dalam beberapa detik telah selesai dibacanya. Huh, wong surat Lebaran buat orangtua kok dikirim dalam kartu pos bergambar... Itu pun dalam beberapa garis... Nana yang menulis dari Geneva minta maaf liburan winter tahun ini tidak jadi pulang ke Indonesia karena sudah janji sama si Jon (kakak si temanten baru nih ye), buat mengajari sku di Alpen. Opo ora hebat, Dad. Maaf banget nggih Dad? Makam Mommy apa sudah ditutup nisan? Love kita semua. Kemudian Jon hanya titip salam "Hi, Dad". Kemudian surat dari Suryo, Anaknya yang sulung, yang masih menetap di New York yang masih kerja magang di IBM yang juga minta maaf tidak bisa pulang ke bapaknya karena sudah terlanjur janji untuk libur dengan pacarnya anak Puerto Rico. Sambil bersungut kartu pos bergambar dari anak-anaknya itu dilemparkannya ke meja. Huh, anak-anak! Yang tanya ibunya juga cuma satu! Itu pun soal sudah dinisan apa belum....
***
Sakit yang pada akhirnya merenggut nyawa istrinya, buat kanker yang tumbuh di sebelah payudaranya sesungguhnya tidak terduga kecepatan pertumbuhannya. Bahkan mulai dengan bisul kecil dahulu. Is juga tidak menganggap terlalu serius. Waktu bisul kecil yang kemudian mulai sedikit membesar, istrinya, Rani, secara iseng menanyakan itu kepada dokternya temannya. sesudah diperiksa agak teliti teman dokternya mengatakan bahwa bisul itu mengandung gejala tumor. Rani dianjurkan agar lebih teliti dan intensif memeriksakan bisulnya ke rumah sakit temannya itu. Is ingat istrinya masih dengan tersenyum ceria melaporkan kepada suaminya.
"Hey, coba bayangkan, Is. Sesudah sekian tahun di New York baru sekarang di negeri kita yang primitif ini aku mungkin ketahuan kena kanker..."
Is ingat peristiwa itu. Dan Is tidak dapat tersenyum. Dia khawatir akan kehilangan Rani. Dan hari-hari serta minggu dan bulan-bulan Is dan Rani semakin menyadari bahwa ajal Rani akan seera tiba. Mereka memutuskan dua hal. Satu, anak-anak harus diberitahu secepatnya, dan tentulah selugas mungkin. Mereka sudah dewasa dan dibesarkan di tengah kehidupan yang modern dan zakelijk. Kedua, bahwa anak-anak harus sadar bahwa pada suatu waktu kita akan meninggalkan dunia yang fana, dan semua yang pernah kita cintai dan sayangi keran itulah hukum alam yang tidak dapat kita elakkan. ketiga, karena anak-anak masih berada di luar negeri, untuk menjauhi kesulitan baik emosional atau yang bukan, anak-anak tidak diharuskan hadir pada hari pemakamannnya.
Sesudah suami istri itu mendiskusikan semua yang berhubungan dengan hari pemakaman Rani yang akan datang, Is dan Rani berbicara tentang pemilihan tempat makam yang baik.
Makam, meskipun hanya tempat jasad kita, mestilah kita usahakan yang baik, tidak rusak dan kotor lagi pula orang yang mau ziarahi makam tersebut tidak akan kesulitan menemuinya. Maka sesudah mereka berunding mereka memilih perkuburan karet. rani terutama yang mantab menjatuhkan pilihannya itu. Karet adalah pemakaman khas Jakarta. Semua orang terkenal Jakarta dimakamkan di situ katanya. Umar Ismail, Djayakusuma dan Chairil Anwar, si bintang jalang itu,Is. Masih ingat kau, is, salah satu sajaknya... Di karet, di karet tempat kira yang akan datang....
***
Is masih juga duduk di beranda depan yang luas menghadap halaman depan. Dilihatnya halaman depan itu sejak pagi disapu bersih oleh Pak Sumo. Orang lalu-lalang mulai tampak di jalan depan rumahnya. Tanda hari sudah semakin pagi. Kartu pos bergambar dari anak-anaknya, yang sebelumnya dilempar di meja dibacanya lagi. Mulitnya menyungging senyum membayangkan wajah anak-anaknya, Thos rascals... Wajah Nana dan jon yang paling mereka sayangi muncul di depannya. Mungkin karena kedua anaknya yang perempuan dan bungsu itu yang biasanya selalu minta dimanja oleh orang-tua mereak. Tapi toh mereka, menerima penjelasan Radi yang gagah itu. Anank-anak sialan, gerutu Is lagi tentang anak-anaknya.
Dan sekarang mereka kan sedang kedinginan di Alpen. Di Alpen(!). gerutu Is lagi. Berapa ongkosnya ke tempat yang semahal itu. Dan gaji-gaji mereka yang masih pada jatah junior itu! Dibayar dengan kartu kredit? Huh, anak zaman sekarang di mana uang plastik mengatur jalan hidup mereka! Dan kemudian pada gambar pemandangan lanskap Puerto Rico dari Suryo anaknya sulung. Dan anaknya ini rupanya juga akan siap dilarikan pacarnya yang hitam legam dari Puerto Rico. Is menarik napasnya panjang-panjang. Rasanya baru kemarin anak-anak itu menjadi milik meraka bersama Rani. Di mana meraka masih begitu membutuhkan pertolongan penyelesaian studi dan pencarian kerja dan nafkah mereka. Sekarang mereka sudah menjadi pemilik pohon mandiri mereka. Ia menggerendeng bercampur sungut: kalau begini naga-naganya, apa aku masih akan ketemu dengan keluarga dan anak-anak mereka. Satu kali waktu nanti. Ah....
***
Pada hari Lebaran, pagi-pagi sesudah sholat Ied, Pak Sumo dan Bu SUmo pergi ke Depok menengok keluarga jauhnya yang juga sudah tua. Sebelum mereka pergi, meja makan di ruang makan sudah ditutup rapi lengkap dengan berbagai piring, pinggan, penuh berbagai macam hidangan lauk pauk khas Lebaran. Ada ketupat, rendang daging dan paru yang merah kecoklatan, tapi membayang merah kepedesannya, sambal goreng hati dan jantung ayam diantara lautan santan kental dan taburan petai dan cabai, opor ayam yang berwarna kekuningan yang bergelimang santan pula.
Is sambil menyedot bau harum masakan pembantunya tidak urung mengumpat orang tua yang baik hati itu. Makanan sebanyak itu siapa yang akan menghabiskannya nanti...
sesudah mandi dan berganti pakaian bersih dilahapnya sarapan pagi hidangan pembantunya yang baik hati itu. Kemudian Is berjalan Bergegas ke garasi. Hari sudah mulai siangan sedikit. Jalan sudah mulai ramai dilewati kendaran bermotor. Is mulai menyadari bahwa orang mulai bergerak dalam arus Lebaran. Pelan-pelan Is membuka garasinya, kemudian dengan pelan pula mendorong mobil dinas Toyota tua dari kantornya dengan terengah-engah karena kehabisan napas, dia masih mencoba tersenyum menyadari ketuaannya dan keteringatannya pula waktu dia dan Rani masih menaiki Impala pribadi mereka...
Waktu akhirnya dia duduk di belakang setir, siap untuk menghidupkan starter tiba-tiba di harus berpikir keras. Mau ke mana? Ke makam Jeruk Purut atau ke Karet? dia berhenti berpikir. Tiba-tiba Is terkenang akan diskusi di kamar tidur mereka. Rani ingin dimakamkan di Karet. Pemakaman yang paling terkenal di Jakarta itu. Juga semua orang dimakamkan di Jakarta. Iya, kan? Di Jakarta, di Jakarta...
Dengan tegas Is menghidupkan starternya jrek-ejrek-ejeerk sreek-sreek-jreeeng dan hidup msein itu. dengan ketegasan sopir pribadi New York, mobil dinas Toyota Dparlu itu mengebut keluar jalan raya. Dengan tegas berhenti sebentar kemudian membanting stirnnya ke arah jurusan kiri. Ke Karet, ke Karet - tidak ke Jeruk Purut ke tempat Rani, melainkan ke Karet, ke Karet... Rani pasti setuju dan senang.
Disclaimer: Cerpen ini saya posting di blog karena mau saya masukkan ke pocket [app] di hape.
sumber: http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000014220930/share-umar-kayam/2
[danke Gan!!! :D :beer:]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar